
Tiba di lapangan terbengkalai yang di sepakati bersama, Tegar mendapati Rio berdiri di depan mobil miliknya bersama seluruh geng The Horizon Blast yang mengelilinginya.
Tegar kontan tergelitik untuk tersenyum geli, ibunya pun iya. Mereka punya mobil yang lebih bagus di Jakarta, Harris dua kali menghadiahi mobil baru untuk mereka ketika raga tak mampu bersua sebagai pengganti menyenangkan hati. Tetapi hanya motor herex yang ditumpangi mereka yang slalu membuat mereka paham Harris datang dan tak sabar menyambutnya.
“Kalo menang lumayan tuh Ma buat jadi taksi online.” celetuk Tegar.
Shinta mencibir, kedatangannya menyita perhatian geng lain yang kontan menjadi ledekan. Tapi sama seperti Tegar, dia tidak peduli dengan cemoohan. Hanya Harris dan anak-anaknya yang menjadi kelemahan.
“Mama bersumpah ini terakhir kali mama ngasih izin kamu balapan dan taruhan, Gar! Lihat...,” Shinta menarik tangan Drew dan Daffa untuk mendekat. Matanya menatap mata anak muda yang sudah nyolot sejak tadi “mereka membawa sesuatu di balik jaket, kode berbahaya.” ucapnya pelan di bawah keremangan lampu.
Spontan Drew dan Daffa mengamati gerak-gerik The Horizon Blast dengan seksama. Mereka menatap Shinta kemudian seakan Jakarta yang keras membuatnya was-was dan teliti.
“Kita main aman!” ucap Drew, dan selagi The Evolve Wild berkumpul mengatur strategi.
Mikaila baru sampai lima belas menit kemudian dengan muka cemberut.
“Gila, aku hampir nyasar ke tempat rosokan gelap. Mereka apa-apaan sih milih tempat beginian!” Dia menghampiri The Evolve Wild setelah mengamati Rio yang menghujamnya dengan tatapan tak percaya.
Mikaila mengacungkan jempolnya ke bawah lalu menjulurkan lidah. “Kamu kalah, pasti kalah!” gumamnya yang hanya terdengar kuping sendiri.
Rio tersenyum geli. “Dia cari masalah sepertinya.” Rio menghubungi Dela lalu memfoto mantannya yang menggandeng Dinda.
Dela yang masih memelihara dendam, menghubungi Sera. Sera mendesah lega lalu buru-buru memberi tahu Alvian dan Adnito lokasi mereka balapan.
Tegar menghampiri Rio, bersama-sama geng mereka di belakang. Tegar mengulurkan tangan.
“Gue tau Lo gak terima mantanmu lebih unggul darimu. Tapi kayaknya Lo salah kalo harus saingan sama cewek. Hadapi gue dan Lo bisa bangga atas pencapaian Lo!”
__ADS_1
Tak perlu pikir panjang, Rio langsung menjabat tangan Tegar. Dia sudah menggiring dukungan untuk mengecoh lawan, sudah layaknya dia tenang.
“Kamu dalam masalah besar.” Tatapan Rio pindah ke Mikaila. “Kamu salah bawa cewek itu ke sini, cewekmu bakal membuatmu kehilangan motor kesayangan—”
“Gak akan!” sembur Mikaila. “Mobil bapakmu yang bakal kita bawa!”
Shinta dapat melihat bagaimana persaingan yang ketat terjadi. Dia menahan Mikaila menyerang lagi dengan memegangi lengannya.
“Cukup, baby. Jangan memperkeruh situasi. Biar Tegar yang menangani ya.” Shinta menyarankan.
Mikaila mengacungkan kepalan tangan pada Rio, “Aku tetap yang terbaik!”
Tegar gemas, ingin sekali ia menyembunyikan ceweknya di kamar saja daripada di sini. Dia begitu murka pada mantannya dan itu membuatnya mengerti betapa dulu Mikaila mencintai Rio dan betapa ia kecewa harus memusuhi orang yang dicintai.
Tegar melepas tangannya sambil mengusir pikiran itu dari kepala. Mikaila sudah melepas yang sudah berlalu dengan mencintainya. Dan membuatnya tersenyum adalah tujuannya meski dengan cara salah.
Tegar menatap sekelilingnya, lapangan terbengkalai itu jauh dari rumah warga. Jauh dari kota, jauh dari pantauan cctv pemerintah. Sumpah Drew dan Matthew betul-betul mencari lokasi balapan yang jauh dari warga sekitar.
Tegar dan Rio menyerahkan kunci mobil dan stnk motor ke ketua geng sebelum menunggangi kuda besi masing-masing. Motor Tegar memang kalah jauh dari Kawasaki Rio, tapi motor itu adalah gambaran dari ayahnya. Penuh manipulasi, penyamaran, dan modifikasi. Tegar tahu, ia bersama ayahnya sekarang, bersama segala rahasia yang tersembunyi di setiap putaran roda yang membawa mereka ke tempat-tempat spesial di hari kemarin.
Tegar dan Rio bersiap di garis start. Mikaila berdiri di depan mereka, membawa bendera hitam putih.
“Ready?”
Tegar dan Rio mengangguk. Mikaila menarik napas dalam-dalam sebelum membunyikan peluit dan mengibaskan benderanya ke atas.
Kedua pemuda itu mengendalikan gas dan kopling sama piawainya. Tegar sendiri tidak tahu jika Rio adalah adik dari pentolan geng The Horizon Blast sebelumnya, jelas pertaruhan terjadi dengan sengit.
__ADS_1
Laju kecepatan motor mereka terlihat seri. Di pertengahan jalur, Tegar dan Rio saling melirik. Tatapan bad boy mereka terlihat tajam. Keduanya tersenyum sinis.
“SERI!” teriak Wicak sambil membunyikan peluit sementara Ben merekam video di garis finis.
“Tanding ulang!” pekik Daffa. Sementara di garis start Mikaila dan Shinta harap-harap cemas karena mereka tidak bisa melihat akhir dari balapan itu.
Tegar dan Rio turun dari motor, mereka menggeram jengkel sambil menendang udara. Seri membuat mereka perlu memeras adrenalin lagi lebih keras. Ketegangan dan kecemasan itu kian membakar dada dan butuh beberapa waktu sebelum mesin meraung lagi, memecah keheningan malam dengan lebih cepat dan berani.
Tegar dan Rio saling menatap, Rio meliukkan motornya ke depan motor Tegar. Otomatis cowok itu langsung menginjak pedal rem hingga membuat motornya oleng dan Tegar ambruk ke aspal dengan hantaman keras. Dia memekik sakit sementara Rio melewati garis start.
Alih-alih bahagia, tergesa-gesa para anggota geng itu naik ke motor dan menggebernya ke arah garis finish bersama-sama melewati Tegar yang mengalami patah tulang kanan ketika sirene polisi mendekat.
Mikaila dan Shinta berlari ke arah motor yang jatuh dengan hari teriris, bersamaan dengan kedatangan Sera dan Adnito membawa bala bantuan untuk menangani geng itu.
“Babe, mana yang sakit?” tanya Mikaila sambil berusaha melepas helm full face-nya. Hidung Tegar berdarah dan Mikaila sigap melepas bandana merah untuk menyekanya. Sementara Shinta menatikan mesin motor dan menegakkannya.
“Kamu bertahan!” ucapnya sambil menepis tangan Sera yang menariknya menjauh dari Tegar.
“Aku gak bisa ninggalin Tegar, Ma!”
“Kenapa? Cari apa kamu dengan Tegar? Mama gak akan pernah suka kamu pacaran sama orang yang membawa pengaruh buruk! Ayo...” Sera menarik pergelangan tangan Mikaila.
Mikaila sekuat tenaga melepasnya dengan mengibaskannya dengan sekuat tenaga. “Aku masih punya hati, Ma. Mana mungkin aku meninggalkan orang yang baru terluka. Lagian kenapa mama dan papa bisa ke sini? Dela? Rio? Sialan.” ucapnya seraya kembali ke Tegar. “Kalian apa gak bisa ngasih kelonggaran buatku? Aku sudah besar, Ma!”
Sera tercengang melihat perubahan putrinya, tapi kemarahan Mikaila pasti karena Dela. Apa dia keterlaluan?
Mikaila membantu Tegar ke dalam mobil Rio setelah Daffa dan Wicak menyerahkan diri untuk membantu Mikaila membawa Tegar ke rumah sakit.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung ^^^