Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 56 : Gak Mudah


__ADS_3

Mikaila berlindung di balik tubuh Shinta ketika mereka melewati detik-detik pergantian hari di koridor ruang operasi rumah sakit.


“Mending mama dan papa pulang aja, gak perlu di sini. Nunggu apa emangnya, nunggu Tegar sadar terus kalian marahin dia?” celetuk Mikaila.


Sera nyaris menyambar tangan Mikaila dari Shinta jika nyonya muda Harris Abiyasa itu tidak mencegahnya.


“Tolong jangan marah-marah sekarang, Bun. Memperbaiki anak-anak tidak harus dengan emosi. Mereka akan semakin nekat bertemu dan meluapkan kekesalannya lebih buruk dari yang Mikaila lalukan.” ucap Shinta pelan lalu meraih satu tangan Mikaila yang memegangi pinggangnya dan menangis di pundaknya.


“Saya lulusan magister psikologi dan istri seorang anggota parlemen, Tegar begini karena dia meluapkan emosinya setelah ayahnya menyuruh kami pergi dari Jakarta dengan cara yang salah dan saya mendampinginya karena saya mengerti kebutuhannya sebagai anak!” urai Shinta untuk menepis anggapan miring keluarga Mikaila tentang keluarganya.


Adnito memegangi bahu Sera agar istrinya tidak meledakkan emosi di tengah suasana rumah sakit yang sunyi. Sementara Sera tidak mampu berkata-kata, buruh serabutan yang saban harinya hanya bekerja sebagai tukang laundry dan kelontong rumahan itu seorang magister psikologi, sementara ia hanya sarjana S1 bidang pariwisata. Sera kalah kelak soal pendidikan bahkan pola asuh. Dia salah menganggap Tegar dan ibunya hitam putih.


“Saya titip Mikaila malam ini. Besok kami akan menjemputnya!” Adnito membuat keputusan mutlak. “Anakmu ikut bersama kami, kasian di sini!”


Shinta setuju. Adnito membopong tubuh gadis mungil yang terlelap di kursi tunggu setelah lelah menangis melihat kakaknya berdarah-darah.


Akhirnya mereka hanya berempat. Daffa dan Wicak setia di sana. Mereka menunggu Tegar selesai di operasi dengan berdiam diri sambil berharap cowok di dalam sana tidak mengeluh akan banyak masalah yang menunggu penyelesaiannya setelah keluar dari rumah sakit.


Pintu terbuka, dokter menurunkan masker bedah. “Puji syukur, pasien selesai di operasi. Silakan bagi keluarganya untuk menunggu.”


“Boleh gak pak kalo pacarnya dulu lihat sebentar?” sahut Mikaila. “Lima menit.” rayunya lagi dengan muka mengenaskan. Muka cewek itu sembab, ngantuk dan tidak karuan.


Sepasang mata dokter menatap Shinta yang lebih berhak sebenarnya. Shinta mengiyakan dengan anggukan.


“Silakan ke ruang pasca operasi!” ucap dokter sambil menunjuk ruang sebelah.

__ADS_1


Mikaila melepas jaket kulitnya seraya menyampirkannya di lengan seraya menghampiri Tegar yang terlelap di ranjang pasien. Dia menyugar rambutnya cowoknya seraya membelai pipinya.


“Gak akan mudah tapi juga gak akan susah kan?” Mikaila membungkuk, mencium keningnya seraya membelai gips yang membalut tangan kanan Tegar.


“Maafin, Mika. Urusanku melibatkanmu. Tapi aku mencintaimu.”


Mikaila mengambil bandana dan jaket kulit Tegar yang diulurkan perawat.


“Aku akan membalas kejahatan Rio dengan membocorkan semua fakta yang aku ketahui tentang dia dan Dela ke sekolah. Mereka keterlaluan!” Mikaila mengikat bandana berdarah itu di pergelangan tangan kirinya.


Di lain tempat di kota itu, di bawah serbuan hawa dingin dan kecemasan, baik The Evolve Wild dan The Horizon Blast di tempat terpisah mengutuk kedatangan pihak berwajib yang ikut dalam penangkapan Mikaila.


Drew menendang pintu gerbang ruko seseorang hingga mengagetkan penjaganya yang terlelap di dalamnya.


Sementara itu The Horizon Blast sama jengkelnya dan semua itu gara-gara Rio. Matthew mendorong bahunya setelah turun dari motor dengan ekspresi marah. Beberapa anggota geng mencegah perkelahian terjadi.


“Dari awal kita deal main sportif. Sekarang kalo Tegar mampus gimana? Kamu mau tanggung jawab? Sekolah bakal ngeluarin kita goblok!” bentaknya sambil mencengkeram kerah bajunya.


Rio menepis tangan Matthew. “Aku gak sebodoh itu mencelakai Tegar tanpa perhitungan. Dia paling-paling cuma patah tulang!” tukasnya seraya naik ke motor.


“Mobilku masih di mereka! Urusan kita belum selesai! Mikir lagi kalo mau jadi pengecut.”


Matthew menggeram, semua rencana gagal total dalam membuat Tegar menciut tanpa memiliki motor dan membuat The Evolve Wild kehilangan si jagoan. Rencana mereka berakhir suram dengan bayang-bayang penangkapan dari polisi yang menghantui mereka setiap detik dan menit. Itu sudah jelas karena Sera ingin memberi efek jera dan pengawasan ketat dari pihak sekolah untuk siswa didiknya.


Permasalahan gawat itu tak ubahnya seperti menabuh genderang perang tanpa henti dan membuat Mikaila benar-benar di benci The Evolve Wild kecuali Daffa dan Wicak yang memilih di pihak Tegar. Drew habis-habisan. Mereka adalah anggota paling penting The Evolve Wild. Humas dan playboy tanpa pacar itu adalah anggota paling loyal, paling bisa di andalkan dan mereka meninggalkannya setelah masalah besar melanda sekolah dan memaksanya membubarkan geng. Drew jelas tidak ingin, tapi biar tidak terlalu ekstrem penolakannya, dia membuat gengnya tidak bersatu dalam tongkrongan.

__ADS_1


***


Sepuluh hari pasca taruhan. Tegar kembali ke sekolah setelah melewati perawatan intensif, tangan kanannya yang memakai gips membuatnya masih menggunakan mobil Rio untuk pulang-pergi ke sekolah dengan bantuan Shinta sebagai sopir. Kendati apes, Harris masih tidak bisa dihubungi dan itu menambah daftar hutang Shinta.


Tegar menyesal atas terjadinya kegaduhan tempo hari dengan bersedia menjauhkan diri dari Mikaila sebagai bukti dia laki-laki yang bisa di percaya setelah menandatangani surat perjanjian di atas materai bersama guru dan orang tuanya di rumah Mikaila karena dalam durasi waktu itu Mikaila masih melakukan pemberontakan dengan tidak mau pulang ke rumah. Dia singgah di rumah Tegar dan Alvian.


“Apa kamu yakin akan pindah ke kelas IPA dua?” tanya Bu Weni memastikan.


Tegar lugas mengiyakan, “Pelajaran sama, hanya wali kelas yang berbeda!”


“Bagaimana dengan Mikaila? Dia frustasi dengan keadaanmu.”


Tegar memamerkan banyak kata-kata cinta di gips miliknya yang di tulis Mikaila dengan pulpen merah kala sedang menjenguknya. “Dia bersama saya, lagian pacaran waktu patah tulang tidak bisa gandengan, Bu. Serba salah saya!”


Bu Weni menyipitkan mata dengan seksama. “Kamu bukan murid kesayangan ibu, tapi kamu murid pilihan yang akan maju ke olimpiade biologi antar sekolah. Kamu bisa menghajar sekolah itu dengan kemenangan nanti! Jadi maaf Tegar, keinginanmu pindah kelas ibu tolak!”


Bu Weni menyerahkan surat kuasa khusus yang berlaku untuk menyelamatkan siswa berbakat dari ancaman drop out.


“Mikaila mengundurkan diri, kamu bisa pilih tim sendiri yang bisa membawamu dalam kesempatan ini! Perbaiki citra diri biar bisa sombong ke orang tua pacarmu!” tandas Bu Weni dengan tegas.


Tegar mengiyakan lantas meminta Daffa dan Wicak menjadi partner olimpiade-nya untuk menyelamatkan mereka dari ancaman tidak lulus SMA.


...***...


^^^Bersambung ^^^

__ADS_1


__ADS_2