Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 26 : Kekacauan


__ADS_3

“Malam, Ma.” Tegar tersenyum ketika layar hpnya menampilkan paras ibunya yang berada di ruang tamu yang di sulap menjadi ruang panetu. Dengan beban baru tanpa sokongan dana dari Harris, ia membuka usaha sampingan demi bertahan hidup dengan anak-anaknya. Sumber kekuatan para ibu.


“Ada apa, Gar. Eh ada Mikaila. Hai, sayang...”


Mikaila yang terpaksa nongol setelah membuang angin meringis. “Hai Tante, gimana kabarnya?” tanya ceria.


“Tante baik, kalian masih di tempat pesta? Kok sepi? Gar... Hayo...” Shinta menyipitkan mata dengan iseng. Mikaila pun jadi ikut-ikutan curiga.


“Hayo kenapa nih, Tant? Emang sering ya Tegar ajak-ajak cewek ke tempat sepi begini. Mika ngeri lho.”


Apaan! Tegar menelengkan kepala seraya menjauhkan hpnya dari Mikaila. Berantakan rencananya gara-gara mulut sesuka hatinya itu.


Padahal gue cuma pamer sama cewek ini, malah mama buka aib!


“Kita gak bener-bener di tempat sepi, Ma! Sumpah. Gak begitu. Mana Dinda?” ucapnya mengalihkan pembicaraan.


“Dind... Dinda, di cari kak Mika nih sama kakak.” teriak Shinta. “Bentar ya, itu anak baru nonton kartun.”


Mikaila menginjak sepatu Tegar dengan heels-nya lalu tersenyum ceria. “Halo Dinda.”


“Kak Mika cantik banget, mau dong Dinda rambutnya di curly-curly gitu.” seru bocah yang telah mengambil hp ibunya dan membawanya ke ruang keluarga.


Tegar mendengus, punggung kakinya sakit woy dan gadis itu memang sengaja melakukannya. Tegar mengelus pinggang Mikaila dengan sentuhan lembut menggoda, undangan yang pantas membuat gadis itu menginjak kakinya semakin keras.


“Sakit, sayang!” seru Tegar.


“Ih kakak, ngapain? Apanya yang sakit?” seru Dinda, menangkap umpannya.


“Kakiku, Dind. Kakiku diinjak kak Mika!”


“Ayolah kak Mika, jangan diapa-apain kak Tegar walaupun dia rese banget. Dinda ngerti.”


Mikaila terbahak dan mengangkat kakinya. “Kapan-kapan kakak main lagi ke rumah, habis ujian. Sekarang kakak mau party lagi, bye Dinda. See you soon...” Kedua cewek di hidup Tegar itu saling memberikan ciuman virtual seraya menghentikan bertelepon.


“Nih, aku balikin hp si tukang ngajak cewek-cewek ke tempat sepi. Gila ya, aku ngajak sayang-sayangan cowok berandalan!” ucapnya sambil menaruh hp di dadanya dengan hentakan kuat.


“Tunggu!” Tegar meriah tangan Mikaila, satu tangannya lagi menyelipkan ponselnya ke saku celana.


“Aku mau tanya sesuatu sebentar.” Tegar berkata pelan, lebih menunjuk rasa iba ketimbang keangkuhannya yang terpatri jelas di wajahnya.


“Apalagi, Gar? Belum cukup pesta ulang tahun Daffa jadi pesta kita yang gak akan pernah teman-teman kita lupain? Kamu cium aku di depan semua orang? Tau gak gosip itu bakal menyebar di sekolah dan mukaku ini sudah tercoreng.”

__ADS_1


“Baguslah, itu tandanya kamu semakin terjerumus ke geng The Evolve Wild.” Tegar menyunggingkan senyum, menerima sikap kesal gadis itu dengan sabar.


“Aku capek harus bersikap sempurna demi mengalahkan Dela. Tapi aku gak bersedia membuka rahasianya sekarang. Kita belum terlalu dekat sebagai pacar atau setidaknya teman mesra.” Mikaila memegangi perut.


“Aku kebelet, aku mau cari toilet.”


“Aku antar.” Tegar meraih tangan Mikaila, mengisi sela-sela jarinya dengan jarinya yang hangat. Sekilas Mikaila melihat betapa cowok itu ingin menguasai dirinya sekarang. Di depan mantannya.


“Bicara baik-baik dulu baru mesra-mesraan, Tegar. Aku tuh masih suci!”


“Ya, nona.” Tegar menarik tangannya menuju keramaian pesta.


Mereka kembali memenuhi stereotip Ketos dan anak geng yang diharapkan semua orang. Ribut-akur-ribut dan itu mengecoh lawan. Rio dan Dela bingung menyimpulkan cinta keduanya dalam suasana dansa yang sedang terjadi.


“Mereka gak kayak orang pacaran.” ucap Rio sambil mengamati sejoli yang masuk ke rumah Daffa buru-buru.


Dela yang mengalungkan tangan di lehernya menghela napas. “Emangnya kenapa?”


Rio mengendikkan bahu. “Gak ada cinta di mata Mikaila seperti waktu dia lihat aku.”


Dela menyemburkan tawa sampai air liurnya muncrat ke wajah Rio. Rio berjingkat mundur lalu mengusap wajahnya dengan jaket.


“Del, yang bener aja!”


“Dia cuma rebut kamu dari aku, padahal aku masih cinta sama kakak.” rayunya dengan muka berbie.


Rio berusaha mencari Mikaila di tengah keramaian. Nihil, gadis itu baru di kamar mandi, menatap bibirnya yang dikecup Tegar di cermin seraya membasuhnya.


“First kiss never end?” Mikaila mencengkeram tepian wastafel. “Tegar pengen jadi suamiku, sementara dia punya luka pribadi karena ayahnya. OMG... aku dalam masalah besar.” Tanpa sadar ia menjerit frustasi.


“Kenapa?” Tegar mengetuk pintu.


Mikaila menoleh dengan muka membeliak. Tegar nungguin aku? Buset dah!


“Gak papa, Gar. Cuma kaget, ada kecoa.”


Spontan Tegar pergi meninggalkannya. “Urus sendiri tuh kecoa.”


Mikaila membuka pintu kemudian, menyusul Tegar ke ruangan di dekat dapur. Ia menarik sebanyak-banyaknya tisu untuk mengeringkan wajahnya.


“Cak... Wicak... Di mana Melody?” serunya ketika mendapati partner dansa Sarina itu terbirit-birit ke kamar mandi. Terdengar, Wicak mual-mual dan itu membuat alis Tegar dan Mikaila terangkat tinggi.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan mabuk dia?” Tegar menyusulnya. Kekhawatiran langsung menyergap Mikaila.


“Apa yang terjadi?”


Wicak mengusap wajahnya dengan lengan atas. “Sari bersin di mukaku waktu dansa, umbelnya nyasar ke bajuku. Kampret banget tuh cewek!”


Mikaila membelalakkan mata dan spontan terpingkal-pingkal sampai perutnya terasa ngilu. “Balik ke pesta yuk, laper lagi aku.”


Peduli dengan perut si pacar, Tegar melepas jaketnya untuk dipakai Wicak yang melepas kausnya seraya membuntuti Mikaila.


“Mau dansa?” ajak Tegar sambil mengulurkan tangan. Mikaila menatap sekilas Rio dan Dela yang terlena abis dengan musik yang mendayu-dayu mesra dengan berdansa secara lekat.


“Boleh-boleh aja, tapi kamu tanggung jawab dengan gosip di sekolah nanti.” Mikaila mencengkeram kaus Tegar alih-alih merangkul lehernya atau pinggangnya.


Diam-diam Tegar bersyukur Mikaila tidak menolaknya walau itu tahu semua itu gara-gara Rio dan Dela.


Gue kerjain balik kalian berdua nanti.


Ingar bingar kemeriahan pesta ulang tahun Daffa pun lenyap bagi yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan perlombaan lagi untuk menjadi couple goals sejati sampai selesai.


Daffa terkekeh-kekeh sambil menggandeng Melody. Cowok itu menerima kemulusan paras dan hati gadis yang akan mencengkeramnya dalam kepatuhan.


“Setelah aku lihat-lihat, kayaknya yang jadi couple goals semua deh. Hadiahnya bisa di ambil di meja, ya. Eh tapi-tapi, khusus yang tadi cium pacarnya, Tegar dan Mika, kalian dapat hadiah spesial dariku. Enak to?”


Mikaila bersedekap lalu melirik Tegar. “Ambil sana.” perintahnya.


Benar-benar, giliran umpan di sambar, sifat aslinya kelihatan.


Tegar berjalan melewati beberapa pasangan yang menyorakinya namanya. Si jagoan.


“Thanks, Daff.” Tegar menepuk bahunya.


Daffa menyeringai. “Sudah semestinya sahabat membantu sahabat, ya kan, Mel?”


“Yep.”


Tegar kembali ke Mikaila, ia menempelkan voucher makan malam ke keningnya sambil menatapnya.


“Aku ke dalam bentar, kebelet.” Tanpa persetujuan Mikaila, Tegar buru-buru pergi ke dalam rumah, sekilas dia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya keluar parkiran.


...***...

__ADS_1


^^^Bersambung ^^^


__ADS_2