Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 70 : Menolak Kembali


__ADS_3

Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, Tegar melintas di depan ayahnya di ruang keluarga untuk mengambil kunci mobil.


“Mau ke mana?” tanya Harris.


“Ke mana aja!” Tegar mengacak-acak rambut Dinda, “Gak usah dekat-dekat papa, papa cuma PHP!”


“Apa tuh kak?”


“Pemberi harapan palsu!” Tegar tersenyum lepas saat Dinda menanyakan itu ke ayahnya.


Harris berusaha tidak terseret emosi Tegar. Watak anaknya kan sama sepertinya. “Kalo butuh setelan jas hitam papa bawa. Gak usah sewa, Gar. Pakai punya papa saja!”


“Terserah Tegar mau sewa apa beli, bayar-bayar sendiri juga.”


“Gar...” Shinta menutup pintu rumah dan menguncinya selagi Tegar menggunakan sepatu. “Gak usah keluar rumah.”


“Mama ngerti aku kan?”


“Setidaknya hari ini aja, Gar. Kumpul keluarga bentar.” bujuk Shinta dengan nada lembut.


Senyum Tegar melebar. Dia memilih mencium punggung tangan ibunya lalu keluar dari jendela kamar.


“Sampai nanti malam, Ma. Jaga diri baik-baik. I love you.” seru Tegar seraya menutup jendela.


Shinta menghela napas lalu kembali menyiapkan makan siang tanpa berminat memberikan penjelasan apapun pada Harris mengenai pekerjaan sampingan Tegar. Itu rahasia anaknya, jika pun Harris tahu pasti dia tidak terima anaknya hanya menjadi seorang pelayan.


Harris sendiri menganggap wajar kekurangajaran Tegar hari ini. Itulah puncak kekecewaan Tegar. Anak itu mengabaikannya sebagai balasan dari bertahun-tahun hubungan spiritual dan raga yang tidak pernah menemui kata lekat.


“Bisa beli cincin dapat uang darimana Tegar?”


Shinta langsung mencubit mulut Dinda yang nyaris terbuka dan itu mengambil atensi Harris.


“Kenapa dibungkam?”


Dinda langsung menguncupkan bibirnya saat ibunya menggelengkan kepala. “Bukan ranah Dinda menjawab. Oke.”


“Ma...” Harris memberikan tatapan playboy-nya, penuh harap dan menyedihkan.


Shinta mendengus. Harris pikir mungkin itu cincin mahal yang harganya selangit. Tapi itu cuma cincin 10k, cocok dengan isi kantong Tegar.


Shinta menatap Harris. “Cincin setengah gram sangat mudah buat Tegar belinya apalagi setelah aku kerja di tempat bagus. Jadi terima kasih dulu sudah membiayai ku sampai jadi magister psikologi.”

__ADS_1


“Ma...”


Shinta tersenyum ringan. “Sampai belum ada kesepakatan bersama, jangan merayu. Rayu aja Dinda. Putri kecilmu. Mas ke sini juga cuma sebentar, jadi hadiah kelulusan Tegar.”


“Aku berniat membawa kalian pulang!”


“Ke Jakarta, Pa?” seru Dinda. “Di rumah besar itu?”


“Di griya perwita, princess.”


“Yah...”


Sepasang mata Shinta mengawasi tatapan Harris dengan serius. “Kita gak bisa kembali ke Jakarta, Dinda. Mama sudah tanda tangan kontrak kerjasama. Kakak juga tidak mungkin mau, kakak bakal kuliah dengan kak Mika di tempat yang dia impikan.”


Itu ucapan terakhir Shinta sebelum pergi ke dapur. Dia mencengkeram erat tepi wastafel. “Dienyahkan, ditinggal, dan disembunyikan. Aku merdeka di sini, Tegar merdeka dengan pilihannya menjadi bucin akut. Hanya Dinda yang perlu di beri privilege tambahan.”


Shinta melongok ke dalam ruang keluarga.


“Berikan aku orang kepercayaanmu dari Jakarta untuk menjaga Dinda mas.”


Harris langsung cemberut berat. Sementara itu di luar rumah, alih-alih mendatangi sahabatnya untuk melepaskan emosinya. Dia mendatangi rumah Mikaila.


“Kok ke sini sih?” Mikaila cemberut. “Aku baru santai lho... Harusnya kan kamu sama papa kamu mesra-mesraan.”


“Gar...” Sera berseru dari dalam rumah. “Awas ya!”


“Gak, Tant. Canda.” Tegar memutar mata lalu kembali menatap Mikaila. “Lo udah sewa kebaya?”


“Belum.” Mikaila mengendikkan bahu. “Mau cari bareng?”


“Boleh. Biar serasi!”


Mikaila menerima uluran tangan Tegar. “Ma, kita pergi sewa kebaya ya. Gak lama kok.”


“Gak lama bagaimana.” Sera keluar rumah. “Cari busana yang elegan dan cantik. Kalian nanti bakal duduk di kursi penting, di lihat banyak orang. Gar, potong rambut!”


Ini baru calon mama mertua yang ngatur, belum mama tiri, dan mama kandung. Gokil, hidup gue penuh cewek-cewek galak.


Tegar cuma mengangguk dengan dongkol, nurut, karena dengan itu dia bisa lekas pergi bersama Mikaila seorang.


“Gue lagi males di rumah, bokap lagi kebanyakan ngerayu.”

__ADS_1


“Aku tau.” Mikaila mengeluarkan uang dari ayahnya tadi yang tersembunyi di kantong celananya. “Jalan-jalan keliling kota?”


Tegar menyeringai dan mengedipkan satu matanya. “Lo emang cerdik dan sialnya gue suka.”


Mikaila tergelak. Keduanya lantas mampir ke suatu bridal & beauty salon untuk memilih busana wisuda dan perpisahan sekolah. Dan sesuai permintaan Daffa dan Sera mereka memilih kebaya dan jas yang bisa digunakan sekalian untuk prewedding.


Malamnya, Tegar pulang dari kafe lebih dari jam satu. Setia, Harris menunggunya di ruang keluarga.


Tegar memutar mata dan tak lantas menanggapi keberadaan ayahnya. Dia menguap seraya melepas sepatunya.


“Dari mana kamu?” tanya Harris, hidungnya berusaha mengendus aroma yang ia cari. Aroma alkohol. Tapi tak ada. Anaknya masih wangi parfum kesukaan Mikaila. Sedikit bau asap penggorengan.


“Pacaran sampai jam segini?”


“Ngapain aku pacaran sampai jam segini? Bisa babak belur di hajar kakaknya!”


“Lalu kamu darimana?” tanya Harris lembut.


“Nananina.” Tegar menutup pintu kamarnya.


Harris lalu berdiri. Dia menarik napas dalam-dalam, pikirannya berkecamuk perihal pergaulan anaknya dan sukar menjangkaunya.


Di kamar, Shinta menyunggingkan senyum saat melihat betapa keruh wajah Harris. “Tegar gak mungkin macam-macam, keluarga pacarnya pemilih dan otoriter. Aku untung Tegar dimiliki mereka.”


“Memang siapa mereka?” Harris merebahkan tubuhnya di samping Dinda.


“Keluarga darah campuran, keluarga aristokrat.”


“Bangsawan?”


“Ya, bisa dibilang begitu, tapi Sera menyebutkan keluarga jadul!” Shinta menyeringai. “Tegar dan Mikaila udah janji setelah jadi sarjana dan sama-sama kerja, mereka akan menikah karena dulu Tegar pernah cium Mikaila di perpustakaan sekolah. Mereka ketahuan guru dan orang tuanya minta tanggung jawab. Makanya Tegar gak mungkin macam-macam! Dia bisa kehilangan semuanya kalo sampai dia macam-macam.” Shinta tersenyum. Lucu batinnya. Apalagi wajah Harris tampak terhibur dengan ceritanya.


“Jadi mas gak perlu berharap tinggi bisa memboyong kami ke Jakarta lagi, tempat kami di sini.” Shinta mengelus pipi putri kecilnya sementara Tegar nguping di depan pintu.


“Cuma Dinda yang bisa kamu bujuk. Bawalah dia ke Jakarta sekali-kali. Dia kesepian di sini. Bercerai denganmu pun akan jauh merusak keadaan.”


Tegar mengepalkan kesepuluh jarinya. Pembicaraan orang dewasa slalu menyakitinya. Sementara Harris menatap langit-langit kamar dengan sorot mata menerawang. “Andai semudah itu, Shin. Andai tidak terpecah-pecah. Aku bisa mudah mengaturnya.”


Akhirnya Shinta memilih memunggungi Harris dan Dinda.. “Semua sudah pecah sebelum kamu menyadarinya mas.”


...***...

__ADS_1


^^^Bersambung^^^


( Dear buibu, berhubung ini hampir menuju penilaian 80 bab terbaik. Tolong jangan skip bab setiap ada updated terbaru ya. Mohon kerjasamanya. Terima kasih banyak 🙏 )


__ADS_2