Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 38 : Loyal


__ADS_3

Tegar merangkul kedua sahabatnya setelah berhasil membangun tenda dan kini mereka sedang duduk-duduk santai di atas matras.


“Ambil hp Dela di tenda guru. Itu rencananya!”


Daffa dan Wicak spontan tercekat kaget sambil menjauhkan badannya.


“Lo yakin, Bray?”


“Lo... Lo, lidah wong Jawa aja sok-sokan ngomong gaul!” cibir Wicak. Lalu mencondongkan tubuhnya lagi. “Itu sih cari mati, Gar. Hp Dela aja kita gak tau!”


Daffa mengangguk, realistis, rencana Tegar menyeramkan, menakutkan, dan mengerikan seperti akan memasuki dunia gaib. Dan ia memandangi tenda siswi-siswi yang berada di seberang mereka, berkisar sepuluh meter dan di batasi tenda pembina dan staff sekolah di bagian pinggirnya sebagai pembatas.


Hanya satu cara untuk menyusup ke bagian tenda guru di mana ada sekumpulan hp siswa-siswi yang wajib di kumpulkan selama acara. Dan cara itu adalah pura-pura sakit atau kesurupan!


Daffa menghidupkan peluit seraya terbirit-birit ke arah tenda Pak Guru. “Kalian berdua kejang-kejang. Buruan.” pesannya tadi sebelum melancarkan aksinya.


Tegar jelas ogah, gila, dia tipe cowok kulkas, mana mungkin kejang-kejang. Itu akan meruntuhkan pertahanannya. Ntar ceweknya panik lagi. Akhirnya dia maksa Wicak untuk melakukannya dengan mendorongnya sampai nyungsep ke tanah.


Wicak jelas marah-marah, mengumpat-umpat Tegar dan itu membuat guru-guru dan pembina Pramuka terbirit-birit ke arahnya.


“Ada apa ini? Ada apa?” seru pembina pramuka.


“Wicak bicara tidak sopan, Pak!” celetuk Tegar.


“Kampret!” Wicak mendelik seraya melancarkan aksinya, ia kejang-kejang dengan gaya abnormal.


Pembina Pramuka dan satu guru agama sigap menangani Wicak yang kian lama kian menjadi-jadi. Ia berguling, meraung, mendelik, menahan tawa, saat jampi-jampi dari guru agama bergumam di kupingnya. Wicak menggelinjang di atas tanah, tertawa-tawa, ia merangkak, mengejar yang nonton dan menyita perhatian publik dengan ulahnya. Sementara Mikaila yang melihat kericuhan di tenda yang tak lepas dari sorot matanya menghampiri Daffa yang wira-wiri seakan kebingungan.


“Wicak kenapa, Daff?”


Daffa tersentak lalu menatap sekeliling seolah habis linglung. Di rasa aman dia memberitahu Mikaila rencana ekstrim itu.


Mikaila jelas tersentak kaget. “Kalian gila?”

__ADS_1


“Kamu tau tempatnya, kamu tau hp Dela. Laksanakan!” Daffa menepuk bahu Mikaila dengan keras.


Mendadak Mikaila langsung panik. Dia harus melakukan penyusupan untuk pertama kalinya? Menghapus video-video bukti skandalnya dengan Tegar agar tidak tersebar?


Jantung Mikaila langsung menggedor dada. Jantungnya berdebar kencang sampai ia tersandung pasak tenda dan nyaris merobohkan satu tenda yang hampir ia jatuhi dengan tubuhnya dalam keadaan panik. Mikaila berlutut dengan napas terengah-engah.


“Apa aku harus ngelakuin ini?”


“Do it!” geram Daffa sambil membantunya berdiri. “Aku awasi!”


Mikaila mengangguk, seperti pemburu dia mulai beraksi, menyusup ke tenda guru dengan cemas lalu membuka tas yang berisikan hp-hp yang ia simpan tadi. Mikaila mengambil satu plastik bertuliskan kelas IPA unggulan lalu membukanya dan mengambil hp Dela.


Daffa melongok ke dalam, mukanya panik. “Udah belum? Wicak kesurupan beneran!”


“Udah-udah, tapi ini baru aku hidupin!” kata Mikaila gugup.


“Simpan aja dulu, urusan lain belakangan!”


“Ngapain kalian berdua?” tanya Bu Weni yang hendak mengambil ponselnya dengan mengernyit heran. Situasinya semakin gawat, Wicak menggeram dan melontarkan kalimat-kalimat dengan bahasa Jawa kuno.


“Kita jagain tenda guru, Bu!” tandas Mikaila dengan ekspresi tegas. Sebuah keterampilan yang slalu ia mainkan dengan sempurna.


Bu Weni membungkuk, masuk ke dalam tenda. Percaya. Tapi kecemasan Mikaila dan Daffa tidak main-main. Jantung mereka berdetak kencang, jantung Tegar pun sama. Permainan mereka sudah melibatkan penghuni alam lain yang merasuki tubuh Wicak.


Siswa-siswi kurang ajar itu agaknya belum bisa tenang sampai juru kunci datang. Wicak selesai bereaksi. Lemas, pucat, dia di bawa ke tenda guru untuk pengawasan sementara Tegar, Daffa, dan Mikaila bernapas lega meski lutut mereka masih bergetar.


“Udah aku bilang jaga sikap! Kalian berdua gila!” Mikaila menendang tulang kering Tegar lalu Daffa sebelum melengos pergi, dia ingin melihat Wicak.


“Gimana, udah bikin teh hangat?” Mikaila menyentuh kening Wicak di antara anggota pramuka inti yang menemaninya.


“Baru di buatin, Mik. Wicak kita urus, kamu koordinasi siswa yang lain buat apel lagi! Pak Rama minta semua siswa kumpul.” ucap Deni, seorang Pradana Pramuka-pemimpin ambalan.


“Cak, buruan pulih.” Mikaila tersenyum iba saat rekan pacarnya itu tampak tidak berdaya.

__ADS_1


“Sarina suka kamu tuh, siapa tahu itu bisa jadi penyemangatmu!” Mikaila menepuk bahunya seraya berdiri. Ia kembali mengomandoi apel demi menyabda kedamaian selama persami.


Dengan sikap sempurna Pak Rama mengamati siswa-siswinya. Situasi yang baru saja terjadi nampaknya menjadi batu loncatan untuk membuat peraturan lebih tegas.


“Saya tahu kalian masih muda, tapi saya harap kalian memahami situasi dengan bijaksana, di tempat ini bukan untuk main-main. Kalian belajar untuk taat hukum dan disiplin, jaga sikap, kalau sampai ada kejadian serupa, semua siswa yang terlibat masalah tidak akan saya luluskan!”


Mampus.


Tegar, Daffa, Wicak dan Mikaila mendelik, cuma Drew yang berlomba-lomba menyemangati teman-temannya yang ingin tidak lulus sekolah berbuat ulah.


Pak Rama menyuruh Mikaila membawa Drew ke depan barisan. Mikaila membunyikan peluit, “Maju Drew!”


“Loh kenapa, Pak?”


“Tahun ini mau tidak mau saya akan meluluskan kamu apapun nilaimu kalau perlu kejar paket C akan saya dukung!”


“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Drew mengatupkan kedua tangannya seraya membungkuk. “Tapi saya tidak mau kejar paket C, saya mau lulus dengan nilai terjelek sekalipun, yang penting lulus. Ketua geng aku, Pak! Tidak bisa diremehkan.”


“Terserah, yang penting kamu dan gengmu keluar dari sekolah! Itu sudah membuat bapak senang dan sekolah tenang!” tandas Pak Rama.


Drew siap sedia lalu kembali ke barisannya. “The Evolve Wild tetap berkembang dan mengakar, itu sudah mutlak terjadi dan rekrutmen anggota baru akan di mulai!” gumamnya seorang diri.


Tegar dan Daffa lain lagi, mereka mikir Wicak. Wicak gimana sekarang? Apakah dia akan trauma setelah kesurupan beneran?


Tegar berbisik. “Berhasil gak dia?” Daffa mengangguk.


Tegar menghela napas. Mereka cukup bersyukur, Drew ketua geng tidak satu kelompok dengan mereka. Jika iya, bubar jalan, sebab mereka juga takut Dela membuat gempar satu geng dengan membocorkan percakapan mereka di perpustakaan sekolah. Cukup perkara pribadi Tegar dan Mikaila saja yang diganggu, urusan geng, loyal adalah harga mati sekalipun ketuanya setengah gesrek dan kurang pintar seperti Drew!


Tegar dan Daffa bertos diam-diam di samping tubuh mereka meski mata Mikaila menghujam mereka tanpa henti.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2