Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 29 : Toleransi nol


__ADS_3

Mikaila tidak menyangka Tegar bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia datang ke rumahnya pukul setengah tujuh malam saat keluarganya sedang berkumpul membahas perihal pernikahan kakaknya.


“Siapa Tegar, Mik?” tanya Alvian, kakak Mikaila.


“Teman kelompok praktek anatomi tubuh kodok, Kak. Mama tau kok. Kita masih ada tugas menganalisis data metamorfosisnya. Kodoknya di rumah Melody.”


Alvian meletakkan gelas kopinya yang sudah kosong ke meja. “Berdua aja?” Tatapannya beralih pada Tegar, pemuda itu menampilkan paras aku anak baik-bukan anak geng-apalagi begundal kepada si protektif, calon kakak iparnya.


“Berempat, ada Sarina juga.”


“Telepon Melody kalo gitu, kakak mau dengar sendiri!” tandas Alvian. Wajahnya mengandung curiga.


Dalam diam, Mikaila meneguk ludahnya sambil mengambil hpnya di tas kecil yang ia pangku. “Hei, Mel. Kakakku mau ngomong nih, soal—” Alvian menyahut hpnya seraya berdiri. Dia pergi ke teras belakang rumah, mencari privasi untuk mengulik siapa Tegar dan apa hubungannya dengan adiknya.


Mikaila tersenyum kecil kepada Tegar. Semoga tuh orang gak trauma di hakimi keluargaku.


Tegar menegakkan punggungnya, wajahnya sedih dan simpati, sopan santunnya terjaga, meski dalam hati ia berdoa Mikaila bisa ia bawa ke jantungnya yang akan memompakan ke seluruh nadi-nadinya dan menggeliatkan tubuhnya dari lara hati.


“Kalian boleh pergi, tapi ingat, jam sembilan kamu udah ada di rumah!” ucap Alvian sambil mengembalikan hp adiknya.


“Oke kak. Ayo, Gar.” Keduanya berpamitan kepada orang tua Mikaila yang hanya menonton keakraban anak-anaknya, tapi saat Tegar bersalaman dengan Alvian, pria yang sudah mengetahui kebenaran kebohongan yang diucapkan Mikaila memberi seulas senyum kecut.


“Balikin adikku tepat waktu!”


“Siap.” Tegar mengangguk lalu bersalaman dengan erat. Setibanya di luar rumah, Tegar memberikan helm full-face cakil yang ia custom berwarna kuning untuk Mikaila.


“Buatmu!”


“Makasih, sebuah ide merayu pacar, ya?” Mikaila memakainya lalu naik ke atas motor.


Tegar tersenyum kecil, slalu ada jarak saat Mikaila memboncengnya. Tapi itu tidak masalah, cewek itu sudah cukup tertekan dengan hidupnya. Cewek itu rapuh. Dia dibentuk sang keluarga dengan sedemikian rupa agar tetap pada jalurnya. Maka yang ia lakukan adalah membebaskannya, terserah deh asal senang.


“Sekarang aku gak heran, Drew menyebutmu anak kereta kuda.” ucap Tegar di tengah perempatan, berhenti saat lampu merah menyala.


“Ya gitulah, keluargaku cukup aristokrat dalam hal apa pun, nenek dan kakekku keluarga priyayi, turun-temurunlah kondisi itu di keluargaku. Payah ya?”

__ADS_1


“Dela?”


Mikaila cemberut. “Kamu tahu istilah anak emas dan anak perunggu?”


“Ya.” Tegar merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya tentang istilah itu, anak istri siri, anak simpanan, anak perunggu. Tidak istimewa lalu melahirkan sejuta pikiran yang terkembang secara liar. Tegar menghela napas lelah.


“Kamu anak perunggu, dia anak emas?”


“Gak dua-duanya.” Mikaila mencengkeram jaket Tegar,.


“Kita anak perak, anak emas tetap di pegang keluarga pakde yang nikah sama ningrat sejati. He... makanya aku dan Dela berlomba-lomba jadi anak emas. Berhubung masih SMA kita cuma bisa menjadi ketua organisasi sekolah paling beken. Dia ketua pemandu sorak, aku Ketos, dan karena aku pegang kendali satu sekolah, jalanku mulus, itu terbukti. He... Itu poin + bagiku... Tapi akhir-akhir ini aku capek banget.”


Tegar mengangkat kakinya, menggeber motornya ke arah kafe Daffa sebelum pukul sembilan bablas tanpa adanya kedekatan apa pun.


“Gara-gara aku?” tanya Tegar dengan suara agak keras. Mengimbangi suara motornya yang kuat.


Mikaila membiarkannya cemas beberapa menit, dia yakin Tegar sedang berperang dengan diri sendiri karena pemuda itu juga diam saja.


Mikaila melingkarkan tangannya ke pinggang Tegar. “Bukan gara-gara kamu, tapi gara-gara kesempurnaan yang aku atur sendiri. He... Kenapa? Merasa bersalah?”


“Kenapa, Gar?” tanya Mikaila panik ketika cowok itu menoleh berulang kali.


“Kita lewat markas musuh.”


“Ya ampun! Kenapa kamu mau-mau aja sih di ajak Drew geng-gengan! Gak berfaedah!” celetuk Mikaila jengkel saat Tegar berhenti di parkiran kafe yang sepi. Hanya mereka berdua pengunjungnya dan para karyawan menjadi saksi kedekatan emosional keduanya.


Helm terbuka, Tegar menyugar rambutnya sekilas seraya membantu Mikaila melepas helmnya.


“Helm ini faedahnya, Mikaila. Aku beli dari hasil balapan dan aku akan kembali ke garis start. Kondisi keuanganku menurun drastis.”


Mikaila mengibaskan rambutnya. “Mengencani cewek aristokrat kayak aku gak butuh banyak kencan.” celetuknya sebagai pencegahan paling gampang agar ia tidak berbuat nekad tapi itu tidak mungkin, Tegar sudah mengucapkan satu hal, jangan ikut campur urusannya. Cukup mengurus hatinya saja... Oh tidak...


Mikaila menghela napas. “Oke terserah, tapi satu hal, no kriminal! Toleransi nol kalo kamu sampai menodai namamu dengan daftar hitam!” katanya memperingati.


Tegar menyentuh kepalanya dan mengusap rambutnya. “Kamu pasti takut ortumu dan kakakmu gak setuju kita pacaran?”

__ADS_1


Bunga kamboja gugur di kepala Tegar saat angin berhembus. Mikaila mengambilnya lalu memandang sendu pacarnya itu.


“Mirip bunga ini sih. Jatuh dan terlupakan. Ngerti kan?”


Tegar tergelak. “Aku playboy, Mika. Mantanku ada tujuh, kamu pacar ke delapan.”


“OMG...” Mikaila menginjak kakinya seraya masuk ke arah kafe. Di sana sudah ada meja yang di siapkan untuk couple goals itu. Meja berlapis taplak putih renda dan selusin mawar merah di tengah meja bersama kotak biru kehijauan.


“Aku rasa kesempurnaan ini akan sirna dalam waktu dekat.” gumam Mikaila.


“Satu kejelekan emang menutup kebaikan lainnya, aku ngerti.” potong Tegar, menarik kursi untuknya.


Mikaila bersimpati seraya mengucapkan terima kasih. Dia tersenyum, “Aku udah bicara soal keluargaku. Kamu?”


Tegar mengambil setangkai mawar itu seraya memberikannya ke Mikaila. “Dinda udah cerita sama kamu tentang dunianya di Jakarta. Kurang lebih seperti itu!”


“Aku mau dengar versimu!” sahut Mikaila. Dia menyunggingkan senyum saat minuman dan makanan datang. Dua jus mangga, spaghetti, chicken nugget, dan kentang goreng. “Ada yang mau kalian pesan lagi?” tanya pelayan.


“Asbak.” sahut Tegar.


Mikaila memutar mata. “Udara bebas!”


Pelayan kafe itu menyunggingkan senyum. “Sudah ada keduanya. Selamat bersenang-senang.”


Berdua lagi, hanya Mikaila dan Tegar di kafe terbuka, di bawah lampu fitting gantung dan perasaan yang campur aduk.


Tegar mengelus keningnya sambil mempertimbangkan. “Aku dengar semua apa yang mama bicarakan ke kamu, jangan kira aku budeg. Kamarku dan ruang tamu gak ada enam meter, Dinda tukang ngadu!”


Mikaila nyengir, “Terus perasaanmu?”


Tegar meraung sambil memegangi kepalanya yang di lempari batu.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2