Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 42 : Sidang Keluarga


__ADS_3

Di bawah rindangnya pohon pinus dan semarak acara outbound yang di penuhi gelak tawa dan tepuk tangan. Mikaila dan Tegar justru harus menghadapi pahitnya interogasi yang dilakukan Bu Weni dan orang tua mereka.


Tanpa basa-basi, Sera mempertanyakan satu hal yang cukup menegangkan dengan menatap Mikaila lekat-lekat.


“Kamu menjanjikan apa pada Mikaila sampai berani-beraninya kamu cium dia, Tegar?” tanyanya dengan intonasi yang disabar-sabarkan.


Tegar menarik napas sambil memegangi dada. Anjir... Jantung gue kenapa ini, kenapa deg-degannya melebihi dimarahi bokap nyokap. Apa karena Tante Sera bakal jadi mertuaku?


Tegar mengembuskan napas, ia sudah menjanjikan banyak hal dengan Mikaila meski semuanya baru dalam angan-angan seorang pemuda 19 tahun. Kelabilan yang naik turun, keyakinan yang kuat, dan kerapuhan yang pekat akan menemaninya dalam mewujudkan itu semua.


Tegar menatap Sera. Dia cukup menyadari calon mertuanya memiliki alis dan bibir yang sama dengan Mikaila, dan itu membuatnya menyunggingkan senyum geli. Calon bapak mertuanya mungkin merasakan hal yang sama sepertinya, takjub dan terpesona dengan keindahan itu.


“Tegar, kenapa kamu malah senyum-senyum begitu? Ketularan Wicak?” potong Bu Weni.


Tegar menggeleng, rasanya ia ingin berlari dengan cepat, bersembunyi di balik gubuk-gubuk yang di sekitar tempat kemah daripada harus mencurahkan kejujurannya seolah dia sedang jatuh cinta untuk pertama kali dan menjadi pemalu.


“Jawab Tegar, ibu sudah mendengar semuanya! Kalian melanggar aturan sekolah, mau ibu skorsing atau...” Mata Bu Weni berpindah-pindah darinya ke Mikaila.


“Ibu panggilkan Pak Rahmat agar kalian dinikahkan saja?”


“Eh... Eh...” sahut Sera. “Nikahnya masih lama, ibu. Mereka cukup kita tekan saja maunya bagaimana!”


Bu Weni mengangguk. Lalu menunjuk Tegar. “Jawab, jangan membuat ibu tensi tinggi!” ucapnya gemes.


Tegar menatap ibunya, lalu Dinda... Suatu hari nanti mereka harus mempunyai laki-laki yang bertanggung jawab. Sepertinya.


Tegar menatap Sera. “Saya... Saya menjanjikan satu hal dalam membebaskan Mikaila untuk menolak dan menerima dalam hal apapun! Termasuk menolak ciuman saya jika dia tidak menginginkannya.”

__ADS_1


Shinta reflek menoleh ke anaknya. Antara takjub dan tidak percaya dengan ungkapan melankolis dan ngawur itu. Tapi itu anaknya sendiri, darah dagingnya dengan Harris yang menjawab kenapa anaknya seberani itu.


“Julio, yang sopan.” Shinta memanggil Tegar dengan nama kecilnya, mengingatkan dengan mimik mama lagi capek. “Maaf, Bun.” imbuhnya ke Sera dengan ekspresi tidak enakkan.


“Memang kemarin Mikaila sering datang ke rumah saya, hanya saja dilihat dari pantauan saya, dua-duanya tidak ada yang suka, setiap les hanya ribut terus, eyel-eyelan. Saya bahkan tidak percaya mereka justru ciuman di perpustakaan. Saya minta maaf.” Shinta membungkuk hormat.


Mikaila menunduk ketika ibu dan ayahnya menatapnya seolah bertanya sudah sejauh itu mereka terhubung hingga Dinda sudah nyaman bergelayut akrab dengan anaknya.


“Kak Mika, jadi kan besok kita jalan-jalan bertiga. Dinda udah nungguin dari PTS kemarin lho?” tanya Dinda, menambah panas suasana.


Sera menarik napas, tidak adil jika ia hanya memojokkan Tegar atas menurunnya sikap aristokrat Mikaila. Ia bahkan tidak percaya harus menanyakan hal itu pada putrinya sendiri yang ketakutan berada di dekatnya dan memilih berada di samping Tegar, dilindungan pemuda brengsek yang merusak putrinya.


“Benar kamu tidak menolaknya, Mika?”


Mikaila menegakkan tubuh Dinda, lalu menyusurkan pandangnya mulai dari tangan ibunya ke dada lalu mata ibu dan ayahnya.


Jemari tangan Sera mengepal, kemarahan atau lebih ke rasa kecewa terlihat di mata ayahnya.


“Kamu bikin mama kecewa, Mika. Kamu merusak anak saya!” Sera menunjuk wajah Tegar berang. Shinta yang tidak terima anaknya di marahi menurunkan tangan Sera.


“Biar saya saja dan ayahnya yang memarahinya, Bun! Jangan sakiti anak saya dengan ucapan Bunda yang bisa menyakitinya kelak!” Shinta menyuruh Tegar pindah ke belakangnya dengan gerakan tangan.


Sera pun menarik Mikaila agar bergeming di sebelahnya.


Mikaila mendesis. “Apaan sih, Ma.” ucapnya sambil beringsut menjauh. Jengkel, ibunya masih otoriter sekali. “Iya Mika salah, Tegar juga mau tanggung jawab kalo mama sama papa mau tuntut dia. Tapi tiga atau empat tahu lagi, waktu kita udah jadi sarjana. Jangan sekarang! Kita masih mau sekolah, kuliah.”


Tegar mengulum senyum di belakang punggung ibunya. “Saya sudah menjanjikan itu juga, Om, Tante. Saya akan menepatinya apapun takdirnya tiga atau empat tahun lagi!”

__ADS_1


Bergetarlah dada Sera dan suaminya. Mereka sudah membicarakan masa depan ketika restu belum turun tangan. Ya ampun anak muda!!!


“Begini saja.” Adnito bersuara. “Saya jelas tidak setuju Mikaila menikah sekarang, tapi saja juga tidak suka anak saya bertingkah laku seperti itu. Itu menyalahi aturan di keluarga saya. Kalian putus saja!”


“Papa jahat. Papa tau enggak sih kalo waktu itu kesurupan!”


“Mika! Jangan menambah dusta.” potong Bu Weni. “Begini bapak ibu, anak-anak ini paling berprestasi di kelas saya, kelas unggulan IPA. Saya tidak ingin generasi muda seperti mereka menikah muda. Bagaimana jika kita maklumi saja karena sedang jatuh cinta?” tawar Bu Weni dengan mimik mahadewinya. Tetapi itu tidak mempan. Sera langsung menolaknya.


“Saya tidak bisa maklum!” katanya berang.


“Apa ini karena keluarga kita harus terlihat top daripada keluarga Dela, Ma? Ayolah, selama bertahun-tahun aku dan Dela bersaing untuk menjadi unggul, Mika capek. Mika kayak gini karena aku mau jadi diriku sendiri, Ma. Aku setiap hari harus berusaha menjadi yang terbaik sampai aku gak punya teman kecuali Melody dan Sarina!” ucap Mikaila emosional, matanya berkaca-kaca.


“Nilaiku turun karena aku mau kasih kesempatan yang lain buat ngebahagiain keluarga mereka, aku mau jadi anak SMA pada umumnya. Lagian selama ini aku udah jadi anak baik-baik, apa iya satu kesalahan aja bikin mama murka?”


Bu Weni dan keluarga Tegar menjadi penonton kejujuran Mikaila. Dan semuanya ada pengaruhnya dari Tegar dan gengnya.


“Ada orang yang bilang aku egois dan aku sadar aku emang egois kalo setiap hari cuma membahagiakan kalian saja. Aku gak mau lagi jadi cewek sok, dan aku udah nunggu momen ini untuk bilang ke mama. Aku capek dibandingkan dengan Dela! Lagian Dela lebih buruk dari aku, dia jahat!”


Mikaila beranjak dengan air mata yang berderai-derai. Sementara Shinta mencegah Tegar mengikuti ceweknya.


“Tapi Mika nangis, Ma. Mika juga baru mens, dia butuh ganti pembalut. Kasian sudah rewel tadi waktu bantu-bantuin packing makanan.” Tegar menyingkirkan tangan ibunya dengan lembut.


“Aku susul dia, semuanya. Nanti lagi rapat keluarganya!” Tegar terburu-buru mengikuti Mikaila dengan berlari kecil ke arah kamar mandi sementara di atas tikar bergambar. Shinta, Sera, Adnito dan Bu Weni memegangi kening seraya menggelengkan kepala.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2