
Jam tujuh lewat sepuluh menit, Tegar selesai mengantar Mikaila pulang setelah melewati empat puluh menit di rumahnya sambil menonton film kartun bersama Dinda. Sungguh ajaib sore tadi seolah semesta kembali memihak sejoli penguasa sekolah itu.
Tiba ke markas The Evolve Wild yang lama. Di warung burjo, kompolotan itu sedang duduk-duduk manis sambil makan-makan menu yang sudah lama dirindukan. Intel goreng dan es jeruk.
“Jadi apa rencanamu, Gar? Ada niat buat sabotase motor Rio nggak?” tanya Daffa.
“Gak!” Tegar mengambil sebatang rokok di meja lalu menghidupkannya. “Gue udah bilang ke nyokap. Apa pun hasilnya gue terima!”
“Gak-gak!” bantah Drew. “Kamu harus menang, Gar! Dapat mobil coy, Rio pasti frustasi abis.” Cengiran di wajah Drew menandakan kepuasan.
Tegar nyengir. Gue punya mobil di Jakarta, mungkin sekarang lagi ngambek kaya cewekku.
Tegar memesan es jeruk di dalam warmindo lalu membawanya keluar warung. Dia memiliki duduk di atas motornya dengan gaya miring. “Gue tau, tapi urusannya kalo gue menang masalah geng kita akan semakin panas!”
“Wah parah... Mulai gak loyal!” tukas Drew, memepeti Tegar dengan muka jagoan. “Mikaila mulai ngatur kamu? Mulai capek jadi anak geng?”
Daffa mencolek siku Wicak. Mengisyaratkan sesuatu dengan kedipan mata untuk mengantisipasi terjadinya perkelahian.
Tegar mengaduk gula di gelasnya dengan santai. “Mikaila selamanya akan jadi tukang ngatur hidup gue, Drew. Masalahnya, gimana kalo gue kalah. Jelas gue gak bisa jadi anak geng lagi!”
Drew pura-pura ketawa. Tanpa kentara dia tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Tegar. Mikaila membawa pengaruh yang signifikan pada diri Tegar. Baik dan extreme.
“Jangan cari gara-gara kalo gak mau terima risiko!” cibir Drew.
“Udah terlanjur.” balas Tegar singkat lalu menyeruput esnya. Dia menyerang Rio dan Dela untuk kepentingan pribadi, bukan geng. “Seharusnya kalo Rio mau balas dendam bales ke gue langsung, bukan bawa-bawa Horizon Blast!”
“Betul itu, Drew!” sahut Daffa. Cari aman. “Rio yang mancing-mancing, dia juga yang berani taruhan mobil. Kalo seandainya Tegar kalah, ada motor bapak yang nganggur. Urusan ini clear!”
Drew kembali ke tempatnya semula, membebaskan Tegar dari kecurigaannya akan tanda-tanda cowok itu akan hengkang dari geng. Itu tidak bisa dibiarkan, Tegar satu-satunya anggota geng yang jago berkelahi dan mengangkat nama The Evolve Wild hingga disegani banyak geng sekolah lainnya. Bagaimana jika Tegar tak ada?
__ADS_1
Tegar menatap Daffa. Tersenyum padanya. Tapi jangankan melawan Rio, melawan Drew dia mampu. Hanya saja dia malas mencari masalah di kandang yang akan mendukungnya di berbagai kesempatan. Ia hanya memiliki mereka di Solo, suka tidak suka, dia akan melakukannya. Turun tangan jika anak SMA Garuda Pradipta Jaya di ganggu.
“Mau bikin kolektif?”
“Jangan!” potong Tegar. Menolak saran Daffa. “Gue masih ada duit. Gak usah repot-repot.” tolaknya dengan tegas.
“Yakin, Bray? Rio bakal pake motor keluaran brand KHI, mesin oke speed jos, motormu harus full servis!”
Tegar tetap menolaknya dengan dalih tidak ingin merepotkan. Daffa berunding dengan anggota geng lain. Mengabaikan saran Tegar. Sementara cowok itu memilih menghirup rokoknya sambil memikirkan kegelisahannya yang lebih besar. Ia takut hubungannya dengan Mikaila hancur.
***
Beberapa hari setelahnya. Mikaila menyerahkan uang tabungannya ke Tegar setelah cowoknya mengeluh uangnya sekarat sampai harus menggadaikan laptopnya demi membiayai servis motor.
Tegar membuka amplop putih lalu menggelengkan kepalanya. Tegas ia mengembalikan uang itu ke Mikaila.
“Aku gak butuh!” katanya dengan harga diri terluka.
Tegar mendengus. “Ke mana? Motorku masih di bengkel!”
“Pakai motorku!” Mikaila meringis lebar hingga membuat cowoknya heran. “Aku boleh bawa motor biar kamu gak perlu antar aku pulang! Kata mama gitu. Seru kan?”
Tegar terbelalak, kini ia ketar-ketir dengan pelonggaran yang diberikan Sera. Membiarkan Mikaila di rumah saja adalah suatu kebaikan, sekarang dengan adanya motor itu permasalahan kencan terasa di permudah dan itu memancing hasrat terpendamnya yang mati suri.
Tegar mengambil kunci yang diulurkan Mikaila. “Mau ke mana emangnya?”
“Terserah, ke mana pun asal kamu mau jalan-jalan sebentar sama aku!” tawar Mikaila dengan tatapan yang naksir berat sama cowok yang dulu dibencinya.
Tegar menyentuh dadanya. Semoga aman sampe nikah nanti, cewek populer di sekolah ini kayaknya udah jatuh cinta banget sama gue. Ngeri. Gue berani bertaruh tidak ada satu pun yang pernah mencoba memikatnya sejauh gue. Oh, Tuhan. Gue gak akan mundur. Masalahnya kalo gue kebablasan gimana?
__ADS_1
Semenit kemudian. Mereka melewati Dela yang terpaksa menggunakan seragam berjilbab dan mengikuti kegiatan rohis dengan pengawasan Dimas sebagai ketua rohis. Kabar dari Alvian pun membuat keluarga mereka sempat melakukan pertemuan untuk mengatur Mikaila dan Dela agar tidak saling serang di sekolah demi nama baik keluarga.
“Menurutmu Dela sama Rio putus gak, Gar?” tanya Mikaila sambil mengistirahatkan kepalanya di bahunya.
Tegar mendengus sambil menggerakkan badannya. “Gak udah peluk-peluk gue, Mik. Risi!”
Mikaila menabok punggungnya. “Apa sih risi-risi segala. Gak bisa apa setidaknya bikin hari pertama aku bawa motor jadi menarik?”
“Oh, maaf.” Tegar menyeringai. Penolakannya bikin ceweknya ngambek lagi dan semakin ngambek, semakin cinta. Itu sih kesimpulannya. Dan bagi Mikaila, mungkin semakin marah, semakin cinta. Menggelikan.
“Kita nonton di bioskop, atau kamu mau ke mana?” bujuk Tegar sambil menatapi mal-mal yang mengisi pemandangan kota.
Mikaila tidak mau mundur, dia menentang Tegar tanpa bicara. Mikaila kembali melingkarkan tangannya, merasakan ketegangan otot perut Tegar lalu tergelak.
“Ciut juga nyalimu!”
“Sialan, bukan itu Mikaila!” bantah Tegar. “Aku bad boy, ngerti?”
Mikaila menganggukkan kepala. Motor berhati di lampu merah, dengan sengaja Tegar mengusapkan ujung jarinya di jari Mikaila setelah melepas setang. “Apa kamu gak keberatan pacaran sama bad boy? Hidupku gak akan mulus. Kamu tau.”
Alih-alih melepas pelukan di tengah padatnya lalu lintas sore. Mikaila justru mengistirahatkan kepalanya di bahu Tegar.
Mikaila meliriknya. Keduanya saling melirik. Mikaila tersenyum, melihatnya dengan seksama. Harusnya ia takut dengan anak geng. Masa depan yang tidak jelas, restu yang tidak ada, tapi melihatnya begitu mencintai ibu dan adiknya ia tidak akan mencemaskan apapun.
“Aku sudah cukup merasa dicintai keluargaku, jadi aku ingin mencintai. Kenapa? Masalah buat kamu?”
Tegar menggenggam tangan Mikaila dengan senyum bahagianya dan ia tidak bisa memikirkan apa pun selain bersamanya.
...***...
__ADS_1
...Bersambung ...