
Tegar membopong Mikaila ke arah kamar tidurnya di sebuah hotel berbintang tanpa mengindahkan kegaduhan yang istrinya perbuat.
“Buka pintu, Daff!”
Sebagai sahabat yang suka banget menolong dan mengejek, Daffa jelas sigap membuka pintu kamar sahabatnya dengan kunci yang ia bawa dari resepsionis tadi.
“Mau kita bantu bukain yang lain, Gar?”
“Goblok!” Wicak memukul kepala belakang Daffa, “Tegar bisa sendiri, Daff. Ngawur kamu.”
Daffa nyengir lalu memandangi kamar pengantin itu dengan geli di tengah suara Mikaila yang menolak untuk pesta malam pertama.
“Mau di tinggal sekarang apa nanti, Gar?”
Tegar yang masih mengurusi Mikaila dengan memegangi bahunya berdehem, “Sekarang! Gue gak berharap kalian lihat adegan selanjutnya. Terutama Lo, Daff. Lo terlalu lugu jadi pria.”
“Sialan!” Alih-alih marah Daffa justru menghidupkan televisi lalu memilih salah satu film dari luar negeri yang memiliki sensasi panas lalu menyembunyikan remote ke kantong jasnya.
“Pemanasan dulu kek biar gak kaku.” selorohnya lalu mendekati pasangan itu. “Kita cabut, tapi sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian.”
Tegar memeluk Daffa dan Wicak dengan satu tangan karena tangan satunya memegangi tangan Mikaila. “Trims untuk bantuan kalian yang sangat berharga ini. Gue harap kalian cepat nyusul!”
“Amin.” Daffa dan Wicak lalu menengok wajah Mikaila yang kini ingin menangis karena akan mereka tinggal.
Daffa menyunggingkan senyum. “Ini lucu sih, Mik. Kamu bakal ngurus Tegar selama hidupmu. Selamat ya, jadilah ketos satu-satunya untuk Tegar doang karena kayaknya suamimu butuh di urus luar dalam.”
“Daff...” Mikaila berusaha menggapainya. “Cak, kalian nginep aja di sini deh. Aku senang banget kalian gak ganggu.” Mikaila merayu.
Wicak mencomot wine yang tersedia di meja. “Kita harus balik lagi ke pendopo, laporan ke pak Harris terus bayaran. Jadi sorry yee, daripada jadi obat nyamuk, bayaran lebih oke.” Wicak melengos, mengikuti Daffa yang sudah berdiri di luar kamar. Mereka menyunggingkan senyum meledek sebelum menutup pintu.
Mikaila memejamkan mata seraya menundukkan kepala ketika hanya berdua saja dengan Tegar. Sedangkan film yang berputar di televisi terasa mengganggu kupingnya. Mikaila ingin melihat tapi pasti film itu tidak baik di lihat. Suara erotis sejak tadi menggema.
Tegar berlutut satu kaki seraya tersenyum. “Mau di pijat kakinya, babe?”
Tegar mengelus tulang kering Mikaila dengan punggung jari telunjuknya. “Kamu pasti capek habis lari-lari tadi, mau aku pijat?”
Mikaila mencegah Tegar menyentuh lebih banyak kakinya dengan meraih tangannya. “Aku gak capek kok, aku lebih mau kamu matiin tv-nya.”
“Kenapa?” Tegar mengendorkan dasinya tanpa memindahkan tatapannya dari wajah istrinya. “Gak pernah lihat film romance dewasa?”
__ADS_1
“Gak pernah! Matiin ajalah itu, ganggu.”
“Jadi kamu hanya mau ada suaraku dan suaramu sekarang?” Tegar berdiri, mencari colokan tv dan sakral lalu mencopotnya seraya duduk di samping Mikaila.
“Masalah selesai, kurang apa aku sekarang bagimu?” tanya Tegar seakan menanyakan kekurangannya sebagai bentuk sindiran.
Mikaila memejamkan mata. “Ayo kita buat satu permainan baru. Permainan kita.” ajaknya demi tidak membuat keruh suasana.
“Permainan apa?” Tegar memegang punggung bawahnya. Matanya yang gelap kian terpikat pada mata sendu istrinya yang menatapnya dengan malu.
“Kita main quiz game, kalo bener, kita lepas satu pakaian yang kita pakai, kalo salah jangan mimpi. Kamu tau kan, aku sama kamu pernah jadi saingan dan bertaruh demi value diri. Sekarang kita bertaruh demi malam pertama!”
Tegar terbahak lalu mengangguk antusias. Meski konyol, ide Mikaila gak ada salahnya.
“Berapa pertanyaan?” Tegar bersiap.
“Dua!” sahut Mikaila cepat karena dia cuma pake gaun dan boxer ketat, dan ia memberanikan diri mengungkapkan kalo dia malu tanpa pakaian di depan Tegar.
Tatapan Tegar meluluh. “Kamu bisa tutup mata dan merasakan tanpa perlu melihatku, atau melihat dirimu sendiri. Mau begitu?”
Mikaila mengangguk ragu-ragu lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tegar mengelus lehernya, saat ini bercinta dengan Mikaila adalah satu-satunya yang ada di pikirannya. Tawaran itu menggiurkan sebenarnya tapi melihat gadisnya merona dan cemas Tegar memilih mencium keningnya cukup lama.
“Aku siap!”
“Shh...” Tegar membungkam bibir Mikaila dengan jadi telunjuknya. “Kalo kamu siap kamu akan membuka diri, melihatku dengan hasrat dan senang hati, babe.”
“Tapi ini lumrah kan, kita LDR, kita gak pernah bahas macem-macem, sekalinya ketemu masa langsung tancap gas! Tegar...” Mikaila memegangi kedua tepi kerah jasnya.
“Pelan-pelan ya mas Tegar.” Mikaila mendengar embusan napas dalam Tegar sebelum pria itu memejam mata.
“Katakan bahwa kamu menginginkanku, Mika.”
“Aku...”
Kedua tangan kukuh Tegar melingkari tubuh ramping Mikaila. Merapatkan tubuh mereka, tidak peduli betapa kaku Mikaila sekarang.
“Katakan Mikaila, sebab aku slalu menginginkanmu.”
__ADS_1
Bibir Mikaila terbuka perlahan sementara tangannya mulai menarik resleting di belakang gaunnya.
Mikaila memejamkan mata saat Tegar membenamkan wajah di lehernya, mengecup dan meninggalkan jejak basah di area tersebut sebelum turun ke pundaknya.
Mikaila mengatupkan bibirnya, menahan ******* keluar sampai perutnya merata, menahan napas karena Tegar yang terus memuja kehalusan kulitnya dengan lidahnya.
Mikaila mencengkeram punggungnya sampai melengkungkan punggungnya, “Mas.” panggilnya dengan suara serak.
Tegar menarik diri, menatap Mikaila dengan mata sayunya. “A-da apa?”
“A-ku mau pipis.”
Tegar tersenyum pahit meski pengertian meresap di benaknya. Alih-alih membiarkan Mikaila ke kamar mandi, Tegar niat menjemput harapannya dengan menurunkan gaun Mikaila melewati pinggul dan kakinya.
Mikaila memindahkan kakinya satu persatu, membiarkan gaun itu pergi dari tubuhnya.
“Udah gue bantu, sana ke kamar mandi sendiri.”
Secepatnya Mikaila berbalik, langkahnya ke sana kemari mencari kamar mandi dalam keadaan terbuka dan cahaya lampu yang terang benderang sebelum dia berhasil bersembunyi di toilet.
Tegar mengerutkan wajahnya, gemas, “Main-main aja dulu, ntar dia juga luluh sendiri.”
Tegar melepas dasi, tuksedo dan ikat pinggangnya. Rasanya bebas bisa melepas pakaian formal yang membuatnya harus tegap dan serius. Tetapi di balik celananya ada sesuatu yang seksi dan panas yang ingin sekali Tegar lepaskan reaksinya.
“Babe, gantian.”
“Bentar, bentar.” Mikaila memakai handuk jubah seraya keluar. Dia tercetak dengan penampilan Tegar, hanya boxer ketat yang melekat di tubuhnya.
“Aku mau mandi sekalian.” ucap Tegar sambil menaikkan alisnya, ”mau join?”
“Gak gak usah. Aku udah gede bisa mandi sendiri.” aku Mikaila sembari menjauh.
“Oke.” Dengan santai Tegar mengangguk. Hanya sepuluh menit ia menyempatkan diri membersihkan wajahnya sebelum keluar dengan handuk yang membebat pinggangnya.
Tegar tampak segar, buliran air masih menghiasi badannya sementara ia mengeringkan rambut sambil bersiul-siul.
“Mandi, babe. Badanmu asin.” katanya sambil mendekati Mikaila di tepi ranjang.
Mikaila memejamkan mata sambil mengulum bibirnya. “Oke, tapi bentar.” Secepat detik, ia menyahut handuk Tegar seraya berlari ke kamar mandi di saat Tegar terperangah sembari menutupi tubuhnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
“Satu sama!” Mikaila menjulurkan lidahnya seraya berlama-lama di kamar mandi untuk menyiapkan dirinya tidur bersama Tegar untuk pertama kalinya.
...***...