
Bagi Tegar selama masa pingitan berlangsung adalah momen terbaik untuk menyiapkan after wedding dengan sematang-matangnya. Dan ia membuat rumah mungilnya lebih friendly dengan mengisi perabotan rumah tangga lebih lengkap. Tegar tersenyum geli seraya memandangi hasil kerja kerasnya menata alat masak di dinding.
“Gue berharap nanti Mikaila rajin masak, dan nemenin gue makan setiap hari di meja makan, Ma.”
Khayalan sederhana itu membuat Shinta terbahak-bahak. “Emang cewek gak bosen masak setiap hari, Gar? Ah kamu ini, lugunya.” Shinta mencubit pipinya. “Mama doakan deh Mikaila bisa masak biar khayalanmu tercapai.”
“Ah,” Tegar langsung menyadari sesuatu, sesuatu yang luput dari pikirannya selama ini dan ia langsung menatap ibunya dengan ekspresi kocak. “Aku belum pernah dengar dia ngaku masak, Ma. Jaman kuliah dulu dia cuma bilang makan di warteg, dan beli online.”
Senyuman Shinta terangkat. “Ya udah kan, jangan berkhayal tinggi-tinggi. Yang penting itu isi dompetmu slalu ada! Kerja lancar?”
Tegar yang menyabet gelar sarjana bisnis dan manajemen memang mengelola usaha yang Harris percayakan padanya, terpisah dari bisnis yang di kelola saudaranya seakan Harris sengaja memisahkan mereka agar tidak berkelahi atau saling iri.
Tegar membuka laptopnya yang sejak tadi menemaninya beberes. “Kerjaan aman, Ma. Toh papa kroscek setiap hari.” Tegar nyengir, “Dia belum percaya sepenuhnya padaku!”
“Wajar, setelah skandalnya mencuat sulit mengembalikan kepercayaan klien. Papa bahkan perlu konseling dengan ahli kejiwaan untuk mengurangi stresnya sampai sekarang, Gar.” Shinta tersenyum sedih dan ada kebingungan yang bersemayam di matanya.
“Papa gak mau konsultasi sama mama. Mama sedih.”
Tegar meledek ibunya dengan tawa gelinya. “Ngomong aja mama kangen. Jatah ketemunya gak lancar?”
Shinta menarik kursi dan duduk di sana, dia melipat kedua tangannya seraya menggeleng.
“Papa sibuk memenuhi skedul, jadi beberapa klien papa temui setelah kerja di gedung pusat!”
Tegar membuka dua kemasan kopi seraya membuatnya sebelum duduk di sebrang ibunya.
Shinta memegang kuping cangkir seraya menghidu aroma kopi dan menghelanya.
“Yang penting papa sehat, Gar. Cuma papa yang di takuti Naufal dan Baskara. Jadi jaga papamu, nurut dia, usahakan bisnisnya dalam kendali biar kamu juga di jaga papa.”
Tegar menghela napas seraya mengangguk. “Tapi semua jadi ikut ke Solo, Ma? Termasuk ibu Mike?”
“Jadi, nanti sore berangkat. Naufal dan Brittany nyusul. Ada jadwal syuting.”
Dan lagi-lagi Tegar cuma mengangguk. Naufal dan Brittany memang tidak jadi batal nikah, Harris mengancamnya untuk tidak menambah masalah baru dan mereka kini sudah memiliki satu anak. Hubungan mereka pun adem banget. Tidak ada tegur sapa atau sekejap memancing perhatian demi terlihat akur.
Shinta menyesap kopinya lalu beranjak setelah memastikan Tegar serius mengamati pergerakan harga saham. “Kamu kerja dulu sebelum cuti. Tapi tempat honeymoon sudah kamu siapkan?”
Tegar mendengus. “Mikaila ngeri sama aku, Ma. Jadi belum ada!”
Kontan saja Shinta kembali terbahak sampai lututnya lemas di dalam kamar Tegar. “Mama siapin baju kamu deh daripada mama tahu rahasia kalian.”
Tegar menyesap kopinya, harga saham lewat, dia malah memikirkan bagaimana kondisi Mikaila saat ini. Perlukah dia menelepon?
__ADS_1
Tegar mengendikkan bahu, biarlah menjadi kejutan dan kejutan itu terjadi dalam beberapa jam lagi setelah ia meninggalkan rumah warisan Harris yang merata pada seluruh anak-anaknya. Cuma si mungil Dinda yang mendapatkan warisan paling banyak. Cinta Harris. Karena tak di pungkiri, hanya Dinda lah yang Harris harapkan merawatnya saat tua kelak.
Tiba di Solo, Alvian menjemput keluarga Tegar di terminal kedatangan bandara Adi Soemarmo menggunakan mobil elf dan Alphard sewaan demi menjaga kenyamanan Harris Abiyasa dan kedua istrinya. Sementara keluarga dari Jakarta hanya sewajarnya yang ikut karena sebagian tamu undangan darinya adalah keluarga Shinta di Solo.
Dengan senyum khasnya yang ramah Alvian membantu memasukkan barang-barang keluarga itu ke bagasi mobil.
Tegar mendekati Alvian sambil menggendong tas ranselnya. “Mikaila gimana kabarnya, kak?”
“Tipes, kebanyakan mikir dan susah makan.”
Alih-alih khawatir dengan kesehatan Mikaila, Tegar justru khawatir pernikahan mereka gagal. Dia laporan ke orang tuanya.
“Sudah di bawa ke rumah sakit, Vian?” tanya Shinta.
“Sudah pulang Tante, sudah pemulihan.” Alvian nyengir, lalu tanpa bisa di cegah lagi oleh mulutnya dia berbisik. Memancing perhatian Harris yang tidak bisa sedekat itu dengan istrinya.
“Mika ketakutan.”
Shinta berkacak pinggang sambil memanggil Tegar yang kedapatan sibuk berusaha menelepon Mikaila.
“Mama mau ngomong sebentar, Tegar.”
“Ngomong aja, Ma.” Tegar berkata setelah berbalik.
Shinta menarik napas. “Bisa kamu pastikan Mikaila besok jauh dari tangisan?”
“Lagian tampang sangar gini hatiku imut-imut, Ma.”
“Mama percaya.” Sekilas Shinta menatap Harris. Bapaknya sendiri gak ada imut-imutnya. Shinta berdehem. “Tapi kalo Mikaila sampe nangis-nangis dan ngadu ke kita-kita kamu terlalu sangar, kamu mama hukum!”
Tegar memutar mata dan karena dia sudah tak sabar bertemu Mikaila. Dia menyabotase mobil Alphard yang hendak di tumpangi keluarga inti.
Alvian mendengus. Shinta melambai-lambai, Mike yang sedang asyik foto-foto memutar mata.
“Anak itu mirip bapaknya, sabarnya setipis kertas!” celetuk Mike.
Harris menoleh secara otomatis ke arah Mike. Alvian meringis. Berharap tidak ada pertengkaran sepasang sejoli tua di tengah kebingungannya menyewa mobil keren lagi.
“Tunggu sebentar ya bapak ibu, saya—”
Harris mencegah. “Pakai taksi daring saja, mas. Kita susul Tegar!
Di dalam mobil Alphard, Tegar membuat sopir dari jasa rental ketar-ketir karena bocah yang dianggapnya kurang ajar itu membawa mobilnya secara ugal-ugalan, salip sana, salip sini, klakson panjang, berulangkali.
__ADS_1
“Ati-ati mas, baret nanti!”
“Baret dikit gak ngaruh! Mantan pembalap saya, Pak. Santai.”
Matamu. Umpat sopir dalam hati. “Di marahi pak Gibran lho sampean kebut-kebutan di Solo.”
Tegar mengurangi kecepatan di persimpangan jalan sebelum usahanya menemui Mikaila secepat mungkin dipatahkan kemacetan.
“Sabar, sabar, Mikaila bohong biar gue tenang. Biar gue gak ke Solo sebelum masa pingitan selesai!” gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Si sopir yang tetap melihat aksi Tegar celingukan mencari jalan pintas merapalkan doa, mobil aman dan selamat sampai tujuan berulang kali sampai mereka tiba di rumah Mikaila.
“Bapak tunggu mama papa, mereka transit di hotel bukan di sini!” Tegar mengembalikan kuncinya sebelum gegas keluar mobil.
“Babe... Babe...” serunya di ambang pintu sambil melongok ke dalam rumah.
Sera muncul dan Tegar buru-buru melepas sepatunya setelah diizinkan menemui Mikaila.
“Babe...” Tegar menghela napas lega setelah duduk di samping ranjang Mikaila. Tangannya reflek memeriksa keningnya.
“Aku udah sehat, Gar.” aku Mikaila seraya nyengir. “Kamu apa-apaan sih panik gitu mukanya. Kita tetap nikah kok, walaupun beberapa prosesi di pangkas.”
Tegar reflek menggelengkan kepala dan mengelus pipi Mikaila. Cewek itu berarti dan menjadi harta karun terlucu baginya. Segalanya yang Mikaila memiliki akan memberi arti baginya.
“Gue bakal nurutin kemauan Lo asal Lo gak tertekan nikah sama gue, Mika.”
“Bener?”
Tegar menarik napas seraya mengangguk dan memberikan sebuah senyuman. “Janji, asal kamu senang.”
“Yeyyyyy...” Mikaila berseru kegirangan seolah tidak habis sakit. Dan ketika hari pernikahan mereka telah tiba, semua berjalan lancar, tidak ada ketegangan di wajah Mikaila, gadis itu menikmati suasana pernikahan yang mengusung adat Solo dan di datangi banyak sahabatnya dan geng Evoleventador.
Mikaila menyuapi Tegar setelah pengantin di perbolehkan untuk makan besar sebelum acara resepsi di mulai. “I love you, babe.”
“I've loves you all my life.” Tegar memejamkan mata, ketipu rayuan cerdik Mikaila. “Tapi gue yakin tar malam Lo rese, Lo udah nyiapin rencana sendiri buat malam pertama kita!”
Mikaila menundukkan kepalanya lalu menyunggingkan senyuman geli.
“Itu perasaanmu aja kali, Gar. Gak usah negthink.”
“Mas, panggil aku mas, suamiku atau my perfect husband.” sahut Tegar sembari memegangi tangan tangan Mikaila. Matanya intens menatapnya. “Lo bisa, dan Lo harus.”
Bagai menelan siomay bulat-bulat, Mikaila pura-pura tersedak agar bisa beranjak mengambil air.
__ADS_1
Siaga satu, Tegar ingin di rayu.
...***...