Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Bab 90 : Epilog


__ADS_3

Setahun kemudian.


Mikaila dan Tegar memandangi anak mereka yang baru saja tertidur pulas setelah menghabiskan satu botol ASI perah di rumah Harris Abiyasa yang tak jemu-jemu mengurus mereka selama masa kehamilan berlangsung. Mikaila sendiri kian pusing setelah ia harus lebih lama tinggal di rumahnya ketimbang rumahnya sendiri. OMG, hidupnya serba mevvah sekarang, serba ada, dan serba-serbi itu membuatnya takut keenakan, manja.


“Aku mau pulang ke rumah mas Tegar, papa.”


Harris yang sibuk memandangi cucu pertamanya sambil tak henti-henti memegangi tangan mungilnya menggeleng. “Jangan pulang, rumah ini sepi.”


“Ya papa undang saja marching band biar rame.” sahut Mikaila jengkel.


Harris menyunggingkan senyum gelinya. “Harusnya kamu bersyukur bisa tinggal di sini dengan pelayan super.”


“Sorry ya. Bukannya Mikaila sombong dan sok rendah hati. Tapi anak ini rasanya bukan jadi anak Mikaila dan Tegar, tapi anak papa dan mama!”


Tawa Harris terdengar menyebar di antara suara Tegar yang baru bertelepon dengan klien.


Tegar menutup speaker hp lalu menatap ayahnya. ”Pa, ssttt... Klien besar!”


Harris kembali mengelus-elus tangan mungil cucunya yang bernama Devina Julia Abiyasa. Nama yang ingin dia persembahkan untuk anak ke tiganya bersama Shinta yang gugur sebelum berkembang.


Harris mendesah frustasi. “Papa hanya ingin merasakannya susahnya mengurus bayi. Hal itu tidak pernah papa lakukan dulu.”


“Itu karena papa kerja dan berambisi.”


Tegar mematikan telepon seraya berdiri di samping Mikaila. Dia juga mendesah frustasi melihat anaknya, bidadarinya, putri kecilnya yang tampaknya bakal jadi cewek cantik tapi juga bad girl di rebutan istri dan papanya yang terlihat merasa bersalah.


“Udah deh, Pa. Papa ngalah aja, besok Tegar bikinin lagi. Lagian Brit juga udah hamil, papa bakal punya cucu dalam waktu dekat!” Tegar mengelus pipi putrinya.


“Biar kita memiliki bonding yang kuat dulu untuk anak ini baru setelah papa pensiun bisa main sepuasnya. Davina sudah besar, udah bisa papa ajak main, sekecil ini belum bisa di ajak main apalagi ngobrol.”


Harris memberikan wajah kecut lalu duduk di ujung ranjang. ”Kalian berjanji dulu Jumat sampai Minggu menginap di sini. Waktu papa libur.”


“Siap!” pungkas Mikaila, mengakhiri drama mertuanya tanpa perlu repot-repot nego. Tiga hari cukup, itu sudah berkurang banyak dari jadwal biasanya.

__ADS_1


Tegar sendiri kontan menggandeng Mikaila. “Pumpung ada papa, dan Dev tidur. Kita keluar bentar.”


Harris mengibaskan tangannya tanpa perlu repot-repot protes. Menjadi pengasuh cucunya boleh banget, bau minyak dan minyak bayi membuatnya tenang.


“Kalian hati-hati. Tidak pulang tidak apa-apa.”


Mikaila memutar mata sementara Tegar nyengir kuda sambil meraih tangannya.


“Udah biarin aja, papa rela ambil risiko demi suatu masa depan yang lebih layak dimiliki.” katanya sambil menuruni anak tangga. “Mau riding?”


Mikaila melingkarkan lengannya di tubuh Tegar. “Boleh, aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjadi mantu kesayangan papa dan istri yang baik serta bos kecil yang ditakuti. Udah saatnya aku kembali menjajal nikmatnya balapan liar.”


Tegar terkekeh seraya menempelkan dahinya ke dahi istrinya. “Makasih udah bertahan sama gue sampai sejauh ini, makasih udah sayang sama bokap sebagaimana Lo sayang sama bokap Lo sendiri. Gue tahu kamulah cewek yang tepat yang membuatku rela mengubah apa saja menjadi hal-hal yang lebih baik lagi. Lo ngerti memperbaiki yang rusak jauh lebih baik daripada menelantarkannya gitu aja. Makasih, Babe. Kamu segalanya.”


Mikaila sadar ada saatnya Tegar kadang bertingkah begitu mesra dan menyebalkan. Tapi sejatinya ia merasa menemani Tegar sampai nanti, sampai mereka memiliki satu atau dua anak lagi adalah momen di mana ia merasa lebih hidup sebab begitu lama ia ingin melenyapkan kepedihannya.


Mikaila memejamkan mata seraya mengecup bibir Tegar sambil berjinjit. Napas manisnya yang berpadu dengan permen kopi di bibir Tegar membuat pria itu membalas ciuman Mikaila tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Naufal dan Brittany berdehem dari ambang pintu setelah berpergian. “Gak punya kamar Lo berdua?” seru Naufal jengkel.


Mikaila tersedak setelah melepaskan kemesraan bibir mereka.


“Mantap jiwa bestie.” serunya sambil meledek pengantin lama yang masih syuting dan photo shoot.


“Punya tuh, kamar kita lagi di pake papa.” Mikaila menjulurkan lidah. Meledek Brittany karena cewek itu cemburu padanya. “Tapi kalian tenang aja, kita udah nego sama papa gak tinggal lama-lama di sini. Jadi gantian, Lo berdua setuju.”


Tegar mengecup tengkuk Mikaila sembari mendekapnya dari belakang. “Lo berdua setuju ajalah, jadi gak ada tuh yang namanya iri-irian.”


Naufal dan Brittany yang mendiami lantai dua mendengus saat melewati mereka berdua.


“Dulu dibuang, sekarang disayang! Dasar Lo berdua, benalu sialan.”


“Kalian berempat jangan bertengkar, cucu papa nanti bangun!” seru Harris dari pembatas lantai.

__ADS_1


Tegar merangkul istrinya seraya pergi ke garasi rumah. Dia memakai jaket kulitnya yang tertinggal di atas motor gedenya lalu berlari ke kamarnya secepat mungkin. Mengambil jaket Mikaila, pumping asi dan sepatu istrinya.


“Mau ke mana kamu?” tanya Harris heran. Anaknya terlihat buru-buru dan menyimpan sesuatu yang mencurigakan.


“Riding, kemungkinan pulang besok, Pa. Titip Davina.” Tegar mencium kening putrinya seraya pergi ke garasi lagi.


Tegar tersenyum, senyuman nakal yang sering Mikaila artikan sebagai sebuah rencana terselubung.


“Lo mau ngerasain gimana jadi gue selama kita LDR, Mik?”


“Maksudmu, kita riding dari Jakarta ke Jogja?”


“Lebih dari Jogja. Kita ke Solo malam ini!”


Mikaila menatap atap sekilas seolah atap itu transparan dan tembus ke kamarnya. “Davina gimana?”


“Skali-kali kita manfaatkan papa, biar tahu rasa tuh papa gimana capeknya melek setiap malam dan tidur dengan resah. Apalagi kalo bayi rewel. Udah sini bonceng Abang, kita lewati banyak kota, keadaan dan kegelapan yang membawa kita ke satu tempat yang gue rindukan!”


“Di mana?”


SMA Garuda Pradipta Jaya.


Mikaila terduduk lesu di dalam parkiran sekolah ketika ia telah sampai pada titik awal pertemuan pertamanya dengan Tegar. Sementara suaminya menatap sekeliling, meresap kenangan dengan senyum yang enggan tamat di sudut bibirnya. Ia pun sadar, Indonesia yang menduduki peringkat nomer tiga kasus fatherless di dunia tak lepas dari betapa sibuknya seorang pria untuk memenuhi segala kebutuhan primer dan sekunder keluarga termasuk kebutuhan gengsi demi value diri. Tak heran bapak-bapak terkadang tidak memiliki pertemuan yang cukup dengan anak-anak sebab mereka sedang mengusahakan agar semua bisa tercukupi setidaknya hanya untuk makan.


Tegar tersenyum. Usia dan pengalaman membuatnya kian mengerti betapa sulit menjadi seorang ayah dan seorang ibu. Kesiapan mental dan finansial agaknya menjadi modal utama sebelum menikah, namun satu hal yang kadang luput dari perhatian. Ilmu parenting.


“Nyampe juga kalian.” sembur Daffa dan Wicak serta pasangan mereka, Melody dan Sarina dari arah kantin.


Tegar membantu Mikaila berdiri seraya ikut menghampiri sahabat mereka. Mereka tersenyum. Pelukan. Cipika-cipiki lalu rencana yang sudah Daffa siapkan terlaksana. Mereka touring bersama dengan satu geng motor, The Evolventador yang masih berjaya di bawah kekuasaan Daffa.


...(⁠*⁠^⁠3⁠^⁠)⁠/⁠~⁠♡...


^^^Ketos & Geng Motor ( Dark Road Loving You )^^^

__ADS_1


^^^SELESAI.^^^


__ADS_2