Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 48 : Sensasi Mematikan


__ADS_3

Hari kedua masa pembebasan bersyarat untuk berpacaran dengan terang-terangan, Tegar kembali merasakan sensasi yang tak kalah luar biasa di banding hari kemarin.


Sensasi itu lebih mematikan, kejam dan tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Dia dipaksa menginap di rumah Mikaila, tidur di samping Alvian yang mengajaknya bercerita dan banyak memberinya pertanyaan jebakan.


Mau pingsan rasanya Tegar semalam, tidur dengan Alvian terasa mencekam, tegang dan salah tingkah. Seluruh pergerakannya terasa Sementara ceweknya senang banget, pacarnya ada di rumahnya meski terpisah tembok dan pengawasan ibunya. Sera tidur dengannya.


“Babe.” Mikaila melongok ke dalam kamar Alvian sebelum matahari terbit ditemani suara ayam tetangga yang berkokok di samping rumah.


Tegar menutup matanya di tepi tempat tidur, rambut dan wajahnya semrawut, kilat mata yang slalu memancar berani kini ngantuk dan nampak bingung.


“Bentar, Mika. Kamu ke sana dulu.”


“Yee... Ini teritorialku. Aku bebas!” Mikaila menyunggingkan senyum seraya melangkah masuk ke kamar. Ia membuka lemari Alvian untuk mengeluarkan handuk dan boxer bersih.


“Mandi sana, kita perlu dandan!”


“Dandan?” Mengerikan pikir Tegar meski ia menerima handuk dan boxer itu. “Kausnya?”


“Aku pikir kamu bakal kelihatan keren tanpa kaus. Otot-ototmu pasti bikin mama pengen lihat!” seloroh Mikaila sambil duduk di kursi kerja. Dia menatap Tegar yang sempurna, citra diri seadanya. Natural dan tetap wangi dengan parfum pemberiannya.


“Gimana rasanya begitu dekat dengan keluargaku?”


Tegar menutup kepalanya dengan handuk. Ia pikir alangkah bagusnya ia tidak mendengar pertanyaannya karena tak tahu harus menjawab apa.


Tegar tersenyum kecut. “Deg-degan doang.” akunya ragu.


Mikaila mengulurkan minyak kayu putih. “Tapi aku yakin perutmu kembung karena gak bisa kentut sembarangan!”


Tegar menutup wajahnya dengan handuk. Senyumnya merekah. Itu benar sialan. Perutnya begah. Badannya kaku, Alvian mengambil sebagian kasur dengan bebas sebagai penguasa kamar sementara ia meringkuk di pinggiran tempat tidur. Mengenaskan.


Mikaila mengelus punggungnya. Bersimpati akan sikap Tegar yang insecure. “Anggap aja ini ospek sebelum jadi orang penting di sanubari keluargaku. Sanggup kan?”


Tegar menyingkirkan handuk, wajahnya terpampang di depan mata Mikaila.


“Apa ini berarti keluargamu terima aku?” Tegar bertanya dengan wajah senaif mungkin. Baru kali ini ia cemas karena tidak ada daftar pengalaman di tolak keluarga pacar-pacar terdahulunya. Sambutan dari mereka slalu hangat.


Mikaila tidak bisa memastikan Tegar di terima atau tidak. Ingatan akan hari-hari kemarin memenjarakannya pada satu bola keraguan dan ketakutan.

__ADS_1


“Asal kamu jadi anak baik-baik kayaknya bisa sih di terima.” goda Mikaila.


Tegar menarik kedua sudut bibirnya. “Emangnya kamu juga yakin ortuku terima kamu seratus persen? PD banget kamu berasa jadi paling oke.”


Mikaila berdiri seraya berkacak pinggang dan mengibaskan rambutnya yang halus menawan.


“Cewek secantik aku mana mungkin di tolak, kecuali kamu gak mau ketemu papamu dan pamerin aku sebagai pacarmu paling TOP!”


Astaga, PD banget pacar gue! Tegar berdiri. Lambat laun, sorot matanya yang tajam kembali. Dia meraih ujung rambut Mikaila dan mengendusnya.


“Peluk gue!”


“Coba aja kalo berani. Ma... Mama Tegar minta peluk nih.” teriak Mikaila seraya memeluk Tegar sekilas.


Tegar membeku. Sera tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya seraya masuk ke kamar tanpa melakukan pengereman kaki. Dan itu membuatnya nyaris menabrak Tegar jika pemuda itu tidak menyingkirkan secepat kilat.


Sera ambruk di kasur. Mikaila terbahak, Tegar menutup mulutnya dengan handuk kuat-kuat.


“Kalian pagi-pagi jangan cari masalah!” bentak Sera setelah menegakkan tubuhnya.


Tegar mengangguk. Sudah untung cuma diancam, coba kalo sampai ditabok, dicubit, dan ditendang seperti kelakuan Mikaila. Ia benar-benar habis di sana dalam intimidasi fisik dan mental calon mertua.


Sera keluar kamar, Mikaila menarik handuk yang di pegang Tegar. “Aku antar ke kamar mandi, terus ke rumah tetangga, make up-nya di sana.”


“Harus make up segala?” Tegar bertanya sambil mengamati kesibukan di rumah pacarnya. Persiapan akad nikah, banyak seserahan di ruang keluarga.


“Untuk aku iya, untuk kamu gak usah. Aku suka warna kulitmu. Seksi!” Mikaila melepas handuknya.


Tegar memutar bola mata. “Lebih seksi lagi perutku yang berotot.” godanya sambil melepas kausnya.


Mikaila terpana dan kesulitan memerintah matanya agar tidak menonton otot perut yang berbentuk roti sobek itu.


Tegar menyeringai. Lalu menutup pintu kamar mandi. “Kasian, cewek gue pasti bakal kepikiran siang malam.” Senyumnya melebar.


Mikaila mencebikkan bibir. Pemandangan itu lenyap dan digantikan perasaan kesal.


“Harusnya mama tau cowok kayak gitu gak usah di pikirin, orang kerjaannya emang nambah-nambah pikiran. Ah sebel, pantes aja Daffa betah nongkrong sama Tegar. Perutnya, ngiler aku.”

__ADS_1


Mikaila menarik kursi, menunggunya mandi. Tapi baru beberapa detik air gemericik, pintu terbuka. Kepala Tegar melongok keluar.


“Hai, babe.” serunya. “Ada sikat gigi?”


“Bentar.” Mikaila melangkah beberapa meter lalu menarik laci dan menyerahkan sikat gigi baru kepadanya sambil menyipitkan mata sampai menyerupai garis.


“Kamu kenapa?” tanya Tegar heran.


“Kamu pasti seksi banget!” Mikaila bergidik.


Tegar tergelak. Dan butuh beberapa menit untuk menyelesaikan acara mandi lalu keluar dengan bertelanjang dada. Sesuai permintaan Mikaila, dia terlihat segar dan seksi tanpa kaus.


Mikaila geleng-geleng kepala. Lalu mendorongnya cepat-cepat ke kamar Alvian agar tidak menjadi tontonan menarik para saudara yang membantu keluarganya.


“Bukan salahku!” tandas Tegar.


Mikaila menarik kedua gagang pintu lemari seraya mengeluarkan kaus dan celana olahraga panjang yang pasti muat di Tegar.


“Jangan seenak jidat juga kali. Pake!” Dua pakaian itu melayang ke pangkuan Tegar.


Tegar memakainya dengan santai lalu menyugar rambutnya dengan jemari.


“Kayaknya bakal seperti ini gambaran jika kita menikah nanti. Kamu marah tapi suka dan perhatian.” ledek Tegar.


Mikaila menelan ludah kuat-kuat karena kupu-kupu di perutnya bertambah sepuluh kali lipat meski tatapannya tidak goyah.


Tegar percaya masih ada persoalan yang ceweknya tutupi demi pertahanan diri.


Tegar berdehem. “Lupain, gambaran waktu kita nikah nanti jadi urusan belakangan. Sekarang kita mau apa?”


Bahu Mikaila kembali rileks. “Sarapan. Terus ntar kamu pake pakaian Jawa, jalannya yang gagah tapi santun. Banyak senyum tapi jangan genit!” Mikaila mengulurkan sisir rambut dan parfum yang ia ambil cepat-cepat dari kamarnya. “Terus ada beberapa materi yang bisa kamu pelajari untuk pelajaran muatan lokal. Di ingat baik-baik prosesi pernikahannya.”


Tegar mengiyakan lagi. Selama ada ceweknya ia aman untuk kelas muatan lokal, tapi untuk prakteknya dia masih menyimpan banyak keraguan. Ia harus mempelajari satu kesenian tradisional atau memainkan satu alat gamelan dan itu super duper melenceng dari perangi anak gengnya.


...***...


^^^Bersambung ^^^

__ADS_1


__ADS_2