
Shinta Septiana Dewi mungkin bukan wanita berkelas saat Harris menemukannya di sudut kafe dua puluh dua tahun lalu. Mahasiswa jurusan psikologi yang pontang-panting mencari narasumber dari profesi tertentu untuk dikuliti kehidupannya secara personal adalah awal jumpa mereka. Sudah bisa tertebak bagaimana Shinta dan Harris berkelana. Shinta yang memahami dan mendengar keluh kesah Harris muda tanpa cela justru membuat pria itu terlena dan merasa di mengerti. Padahal kan Shinta hanya bersikap profesional sesuai aturan main program pendidikannya. Walhasil Harris melakukan manuver cinta dan effort keras yang membuat Shinta ketar-ketir selama berbulan-bulan hingga setuju menjadi istri keduanya. Tapi apapun yang menjadi alasan mereka bersama tidak di terima Mike. Wanita itu melayangkan tamparan ke wajahnya.
“Keluar kalian dari rumah ini!” bentak Mike.
Tegar menggeram. Matanya melototi ayahnya. “Papa jangan diam aja!”
Harris berdiri seraya menyeret Mike ke dalam kamar, satu benda pecah belah terbanting. Untunglah Tegar menutup telinga ibunya. Sementara Sera berkhayal sedang melihat film, perkelahian sepasang suami istri.
Di luar megahnya rumah itu, di samping kolam renang. Mikaila harap-harap cemas di kursi santai. Kepalanya berulang kali melihat jalan yang ia lewati tadi berharap Tegar segera datang.
“Gila gak sih hari ini?” celetuknya tidak tenang. “Aku penasaran sama yang di dalam. Pasti ada perang batin tuh.”
“Sudah banyak kejadian seperti itu, gadis. Jangan kaget!” sahut mama Daffa. “Habis ini ke Dufan aja, bisa teriak-teriak sepuasnya.”
“Setuju!” potong Daffa dan Wicak. “Tegar butuh hiburan. Kasian amat tuh orang. Saudaranya tinggal di rumah mewah dia kampung, mana ibunya banting tulang sendiri. Gak waras bapaknya!”
Mikaila setuju dan masih butuh satu jam lamanya mereka menunggu sidang keluarga Harris Abiyasa selesai.
Tegar mengayunkan kunci mobil di depan kawan-kawannya. “Boleh di bawa ke Solo!” ucapnya seraya cengar-cengir.
“Terus motor herex bapakmu?” tanya Daffa. “Masih di sita polisi kan?”
“Kata papa suruh biarin.”
“Mana bisa, anjir... Itu motor yang bikin Mikaila klepek-klepek.”
“Sialan.” Mikaila mendorong bahu Wicak tapi senyumnya merekah. “Terus gimana nasib kalian? Di terima?” tanyanya penasaran.
“Semua oke kan? Kamu gak perang saudara?”
Tegar menggelengkan kepala seraya tersenyum. “Semua butuh waktu.”
__ADS_1
“Udah pastilah, gila aja kalo ibu tirimu iya-iya aja!” Mikaila mengamati wajah Tegar. “Kamu gak papa kan sekarang? Berasa pengen berantem pasti sama kakakmu!”
“Pastilah, tapi mamamu larang aku berantem. Takut kamu sedih lagi.”
“Alah, udah kali pacarannya. Kasian kita-kita sama mama nih udah pengen ke tanah abang.” potong Daffa. “Keluarin mobilmu.”
“Mobilnya Baskara, gue cuma di pinjemin anjir.” celetuk Tegar lalu terbahak melihat cemoohan sahabatnya. “Tapi gak masalah, biar papa atur, biar pusing sekalian tuh kepala!”
“Ngawur, doain tuh yang baik-baik. Warisan belum turun tahta!” sergah Mikaila. Cowoknya pun kontan merangkulnya pumpung Sera tidak ada. Dia masih menemani Shinta dan tak ikut jalan-jalan.
“Gue lebih nyaman di Solo, tapi kalo Lo kuliah di Jogja atau keterima di UI, gue akan ada di tempat terdekat Lo!”
Sepenggal janji itu Mikaila pahami baik-baik, Tegar tidak akan meninggalkannya meskipun Harris memberi kemewahan dunia. Dia mengangguk, “Kalo gitu kita kuliah di tempat yang sama?”
“No, babe. Dekat tidak harus sama! Gue takut, gue lupa caranya kangen.”
Tegar mengambil mobil yang di tunjuk pengawal Harris. Masih sama seperti mobilnya, jadi Harris nampaknya adil jika memberi sesuatu ke anak-anaknya. Tapi begitu mobil itu keluar rumah, mobil Naufal mengikuti, berserta motor pengawal Harris.
Mikaila terkekeh saat Tegar membungkukkan badan sambil muntah-muntah setelah menaiki wahana kora-kora.
“Bangsat, otak gue udah muter-muter dari kemarin sekarang tambah muter!” makinya sambil mendudukkan diri.
Mikaila mengulurkan air mineral dan tisu. “Kumur dulu.”
“Masih norak dari dulu, masih aja mabuk kalo naik wahana.” timpal Brittany yang hadir bersama Naufal.
Tegar menoleh sambil membuang bekas kumurannya ke rumput.
“Hai Brit...” Tegar mengulurkan tangan saat Mikaila membantunya berdiri. “Kabarnya mau nikah sama Naufal?” tanyanya basa-basi. Perangkap Naufal tidak akan mengecohnya. Brittany cuma mantan sialan yang kebetulan lewat dan sekarang sudah ada Mikaila yang kebetulan lewat tapi singgah selamanya.
“Of course.” Brittany memandangi Mikaila yang menggandeng Dinda. “Beberapa bulan ini kamu gak kelihatan di tempat nongkrong, ke mana aja. Banyak yang kangen sama kamu.”
__ADS_1
“Gue ada di tempat yang seharusnya jadi tempat gue.”
“Tempat pembuangan sampah!” potong Naufal.
Mikaila yang dirangkul Tegar langsung melayangkan satu tendangan keras ke tulang keringnya. “Jaga mulutmu, sialan!”
Naufal menggeram sambil memegangi kakinya. “Lo...”
“Kenapa? Cewek kasar?” tantang Mikaila sembari menantang tatapannya. “Kamu ngeremehin orang, kamu patut diremehkan juga! Udah ayo pergi dari pengganggu.”
Mikaila menggandeng tangan Tegar dan Wicak sementara gengnya masih menaiki wahana kora-kora.
“Aku yakin pengawal papamu ngomongin kejadian barusan. Kira-kira papamu terima cewek kasar kayak aku gak ya?” Mata beningnya menampakkan kilau menyedihkan di sana.
Tegar menggeleng. Tidak tahu. Tapi yang terpenting urusan paling penting di Jakarta sudah jalan. Urusan Mikaila diterima ayahnya atau tidak bisa pikir nanti, wong masih lama nikahnya. Ayahnya juga males mikirin urusan sepele macam itu. Anaknya cocok dan terima konsekuensinya jalan aja. Mana sempat Harris jadi Sera, kurang kerjaan.
Tegar mencium puncak kepalanya. Mencuri kesempatan. “Lo mikirnya jauh banget sih, have fun aja lagi, baru juga di dunia fantasi kita. Serius mulu kerjaanmu.”
“Karena aku emang serius pacaran sama kamu, Tegar.”
“Cie kakak.” Senyum Dinda berubah menjadi tawa riang saat Tegar menggendongnya. “Cie... Cie... Nguping pembicaraan orang gede kamu ya.”
Dinda tergelak. Dia melingkarkan tangannya di leher Tegar. “Jadi nanti kita pulang ke mana Kak? Rumah papa yang besar tadi atau griya perwita?”
“Griya perwita!” tandas Tegar. Dia enggan tinggal di istana Harris dan Mike. “Tapi kamu nanti jangan lupa minta duit yang banyak ke papa. Sepuluh juta, siap?”
“Siap!” Dinda mengacungkan jempolnya.
Tegar langsung menatap Mikaila sambil tersenyum geli. Adiknya adalah partner penting yang harus slalu ada di segala situasi penting. Termasuk saat-saat mereka berdua pacaran. Mau tidak mau, demi kelancaran dan keamanan hasrat terpendamnya terhadap Mikaila terjaga.
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^