Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 69 : Hadiah


__ADS_3

Tegar menyingkap gorden di kamarnya ketika suara motor yang ia kenali menggelegar di samping kamarnya. Matanya membeliak melihat siapa pelakunya.


“Hai, babe.” Mikaila menyunggingkan senyum sambil mengibaskan tangannya. “Sini keluar.”


Tegar memutar mata sembari membuka pengait jendela dan melompatinya. Tapi saat mereka berdekatan. Ia teringat aroma jengkol yang gagal membuatnya bermesraan dua hari kemarin. Tegar mengambil jarak.


“Kenapa bisa di ambil motor papa?”


“Mama yang urus waktu pinjem mobil kamu kemarin!” Mikaila nyengir sembari mematikan mesinnya. “Aku hampir di kejar polisi tadi. Mana hampir ke tabrak orang karena gak bisa pake kopling.” akunya sembari menaruh kunci itu ke tangan Tegar.


“Kamu suka kan sama hadiahnya?”


“GAK! Mamamu kasih gue jengkol biar kita gak bisa ciuman!”


Mikaila tergelak. Itu memang niat ibunya, membuat mulut mereka bau dan malu berdekatan. “Tapi kan udah di ganti sama ini. Lebih istimewa, kenangan keluargamu, aku dan balapan. Susah keluar ini kalo gak pake orang dalam!”


Tegar mengamati motor ayahnya, bersih seolah memang disiapkan Mikaila dan keluarganya sebagai hadiah kelulusannya dengan sempurna..


“Makasih. Ini mungkin berarti buat bokap. Besok gue kirim ke rumahnya!”


“Terserah kamu. Cuma sekarang kamu harus antar aku pulang, babe. Aku sendirian.” seru Mikaila sambil melongok ke dalam rumahnya. Sepi, “Dinda mana?”


“Di rumah bibi.”


“Jemput dialah, kita jalan-jalan bentar!”


Tegar mengusap matanya yang masih ngantuk. “Gue belum mandi.”


“Apa susahnya mandi bentar, Gar!”


“Susah banget, anjir. Semalam ada yang ulang tahun, sewa kafe sampe jam dua belas! Gue capek! Lain kali ajalah.”


Mikaila menatap pacarnya dengan bangga. Si pekerja keras yang gengsinya minta ampun. “Mau aku pijet?”


“GAK! Lo sama isengnya kayak nyokap Lo!”

__ADS_1


Mikaila tergelak dengan tuduhan Tegar itu. Cowoknya lucu banget, tahu aja. “Ya udah, serah deh. Aku juga mau kasih tau kamu, Rio sama Dela mau merit. Habis wisuda! Kita datang.”


Tegar menyunggingkan senyum kecut. “Itu tandanya Rio jadi saudara Lo dan itu berarti Lo harus jauh-jauh dari sini. Gue daftar di UGM. Gue ogah di UI. Jakarta bikin gue pengen dekat-dekat papa dan itu gak mungkin! Reputasinya bisa terancam.”


“Oke.” Mikaila mengangguk. Kampus manapun asal bersama oke juga, “kita daftar bareng-bareng. Eh, tapi kita diam-diam aja. Gak usah bilang-bilang mama-mama kita, ntar ribet pake pindah rumah segala! Aku pingin mandiri, Gar.”


Halah. Mandiri apaan ntar juga ngerepotin gue!


Tegar menuntun motornya ke dalam rumah seraya menyentuh puncak kepala Mikaila. “Mandiri boleh, abai jangan. Gue berbahaya.”


“Masa?” tantang Mikaila sambil memegangi pinggangnya.


Tegar mendengus, makan jengkol ajalah tiap hari kalo gini. Tegar mendorong lembut kepalanya.


“Gue yakin jengkol di rumah Lo masih ada, makan gih yang banyak. Biar gue gak minat sama Lo!”


Mikaila tersenyum seraya menyandarkan kepala ke dadanya. “Kamu gak pernah bilang cinta sama aku. Apa kamu cuma sayang doang sama aku?”


Tegar menahan napasnya sampai seluruh tubuhnya berhenti bereaksi. Tetapi Mikaila buru-buru menjauh dan merapikan rambut dan pakaiannya. Bukan, bukan karena Tegar diam saja tapi ada mobil yang berhenti di depan rumah. Mobil mewah.


Tegar melangkah dengan was-was ke depan rumah. Tidak mungkin!


Harris keluar dari mobil sewaan bersama Shinta.


“Apa-apaan, Ma?” seru Tegar tidak terima.


Shinta menatap wajah lain di belakang Tegar. Mikaila nyengir.


“Om, Tante. He... Ketemu di mana?”


Basa-basi Mikaila Shinta tanggapi dengan senyuman geli. Pasti bocah-bocah ini takut kena marah kepergok berduaan. “Dari hotel.”


“Ngapain, Ma. Kalian gak... gak...” Tegar melirik Mikaila. Gawat, gak bisa gue bahas itu. “Kalian gak takut ketahuan? Lagian kenapa papa bisa di sini? Mama kabar-kabaran sama papa?” tukas Tegar, kegugupannya menyala di sekujur tubuh.


“Kita udah sepakat kemarin, Ma. Papa jauh kita juga menjauh. Buat apa pake basa-basi segala!”

__ADS_1


Harris menghela napas. Situasi demokrasinya sudah selesai dengan kondisi yang dia harapkan sejak pertama kali memutuskan mengembalikan Shinta ke kampung halamannya. Ia sudah menduduki kursi yang dia inginkan. Rencananya sekarang hanyalah memperbaiki keadaan rumah tangganya dengan mendatangi istri kedua.


“Papa tau kamu marah, Gar. Tapi apa kamu tidak mau ada kesempatan kedua?”


“Kesempatan kedua untuk apa?” sentak Tegar.


Mikaila menggenggam tangan Tegar. Pemuda itu menoleh, ingat ceweknya masih ada dan tak mungkin ceweknya ikut serta dalam pertengkaran keluarga.


“Lo pulang sendiri!”


“Kok aku kena semprot juga sih.” Mikaila menguncupkan bibir. “Yang bikin marah papamu, aku ikutan dimarahin. Ya udah deh, om, mobilnya aku pake ya. Bayarin ongkosnya ya, uangku tipis!”


Harris mengeluarkan uangnya dari dompet. Lima ratus ribu pindah ke tangan Mikaila. Cewek itu berpamitan dengan riang. “Lumayan, dapat uang ganti bensin. Tambah naik Alphard lagi.”


Mikaila nyengir seraya melambaikan tangan dari dalam mobil ke arah Tegar yang cemberut parah. “Jangan lupa wisuda besok, babe. Pake jas. Jangan makan gorengan, kita nyanyi!” serunya hingga membuat Harris tersenyum lebar.


“Mau nyanyi apa kamu?”


“Yang jelas bukan Daddy!”


“Gar...” Shinta membujuknya saat Tegar berlalu ke kamar. “Nih motor kok bisa di rumah? Kamu tebus?”


“Cewek rese yang papa kasih duit dan tumpangan tuh yang tebus ini motor buat jadi hadiah kelulusan Tegar!”


“Gila ya Mikaila. Bucin banget sama kamu.”


“Ya iyalah bucin, kemarin Tegar habis beliin dia cincin! Dapat bonus lagi semur jengkol.” celetuk Tegar sambil membanting pintu kamar.


“Gak usah berduaan deh, Ma. Nenek bilang bahaya!”


Spontan Shinta dan Harris saling pandang. Shinta mengendikkan bahu.


“Aku jemput Dinda dulu dan jangan ganggu aku dengan rayuan gombalmu itu!” Shinta menunjuk keset kaki seraya mengibaskan rambutnya dan keluar rumah.


Harris geleng-geleng kepala. Lelahnya tidak terbayar kontan. Banyak usaha yang perlu ia gencarkan!

__ADS_1


...***...


__ADS_2