Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 49 : Kok Bisa Ya?


__ADS_3

Dengan jarak sedemikian dekat, Mikaila dapat menyaksikan bagaimana perubahan tampang bad boy yang sangar itu menjadi mas-mas Jawa yang menarik perhatian. Auranya yang menggunakan beskap dan blangkon itu ajaib membuatnya tersipu-sipu.


Aku bener-bener jatuh cinta sama cowok ini sekarang. Kok bisa ya?


Mikaila menutup pipinya yang merona. Menambah tebal blush on yang ia kenakan secara alami.


“Kenapa?” tanya Alvian. Calon pengantin itu sudah siap melaksanakan akad nikah. “Cowokmu berasa mau jadi pengantin kali jadi auranya makin nyala.”


“Api emangnya makin nyala!” Mikaila melirik Tegar yang masih mengalami peningkatan penampilan.


“Kayaknya Mika tambah jatuh cinta sama Tegar kak, gimana dong?” ungkapnya pelan.


Mimpi apa Alvian harus ikut mencampuri urusan pribadi adiknya sementara ia harus menyiapkan diri untuk malam pertama. Alvian memakai pecinya.


“Tambah bagus artinya. Tambah besar risiko patah hatinya. Jadi jangan sampai bikin masalah yang buat mama papa kecewa kamu milih anak geng. Paham?”


“Paham.” Mikaila mengangguk dengan senyum tertahannya. “Tegar nanti sama Mika terus ya, boleh?”


Alvian memutar matanya. Jatuh cinta! Suka seenaknya memompa darah muda yang menghangat dan bekerja tanpa waktu.


“Boleh asal kamu gak bilang Tegar calon suami kamu! Masih lama.”


Diam-diam Tegar mendengarnya, diam-diam pula dia lega ceweknya makin meleleh dengan dirinya. Tegar kontan semakin percaya diri tebar pesona di tengah suasana pernikahan nanti jika ia adalah pemuda harapan Mikaila.


“Udah selesai kak.” ucap perias.


Tegar mengucapkan terima kasih seraya berdiri. Dia mendekati Mikaila yang baru merapikan bulu mata palsunya di depan cermin.


“Belum selesai?” tanya Tegar. Dia mengamati paras ceweknya di cermin. Cantik sekali, terlihat anggun dengan kebaya warna krem dan rambut yang di sanggul. Beberapa kuntum bunga mawar merah asli tersemat di antaranya.


“Kamu cantik.” bisik Tegar sebelum ada yang mengetahui ia sedang merayu.


Mikaila tersenyum. “Bagus deh kamu ngerti. Jadi jangan sampai kamu selingkuh. Awas ya! Habis kamu sama keluargaku.”

__ADS_1


Tegar menerima ancaman itu dengan santai. Intimidasi Mikaila tidak ada bandingnya dengan intimidasi ibunya. Jadi ia tetap santai menjalani kisah cintanya. Satu nama, satu hati. Mikaila Dannies.


Tegar mengulurkan tangannya. Membantu ceweknya berdiri, Sera yang melihatnya juga mengulurkan tangannya kepada suaminya.


“Jangan mau kalah romantis dengan anak-anak, mas!”


Adnito menyunggingkan senyum badutnya. “Tegar bilang anakmu bintang dunianya, apa mama rela?”


Sera yang siap mengantar anak lelakinya membina rumah tangga menghela napas. Mikaila satu-satunya peri kecil yang menemaninya masak, belanja dan ngobrol. Mikaila satu-satunya teman jika Adnito kerja dan Alvian keluar rumah. Jika sekarang putrinya menjadi bintang dunia seorang pemuda yang belum bisa memberikan kepastian, jelas Sera sangat tidak rela. Mata keduanya tidak bisa berbohong, ada keterkaitan yang kuat dalam cara keduanya memandang.


Sera melirik ke arah Tegar. Pemuda itu berdiri beberapa langkah darinya. Sedang berbicara dengan Mikaila dan Alvian serta beberapa saudaranya.


“Kalo sudah waktunya mama Ikhlas! Sekarang belum. Mereka masih SMA, Pa! Toh bintang dunia nggak selamanya bersinar, mereka masih menikmati beragam godaan, belum tentu langgeng.”


Adnito hampir keselak mendengar keterangan istrinya. Bukan gimana-gimana, tindakan itu sepenuhnya wajar untuk seorang ibu. Tapi baginya terpantau sadis jika hubungan keduanya terkekang oleh aturan ketat yang berlaku. Andai Tegar mendapatkan putrinya, ia tahu ada cinta dan hasrat di mata Tegar yang bisa membuatnya mudah di atur, yang ia lakukan hanyalah memantau keduanya tetapi pukat harimau yang ia pasang itu menjebaknya sendiri dalam kejengkelan Sera.


Adnito mengajak Mikaila dan Tegar untuk gegas ke mobil. Dua remaja itu mendapatkan bagian membawa seserahan penting. Seperangkat alat sholat dan cincin kawin. Keduanya duduk di sisi Alvian.


Dada Tegar menghangat. Dia memalingkan wajahnya, menatap pemandangan di luar dengan tatapan kosong. Ia merenungkan bila hidup betul-betul tanpa ayah.


Plis, plis... Sekali aja gue mau merasakan hal baik sama papa.


Mikaila meliriknya berulang kali lalu menyikut siku Alvian. “Dia ingat papanya.” bisiknya sangat pelan.


Tegar tersentak ketika Alvian menepuk pundak dan merangkul bahu pemuda itu. “Kenapa diam? Gak nyaman sama kami?”


Tegar bisa berpura-pura tak mengerti dan bertanya apa maksud Alvian.


“Gak nyaman pergi-pergi bareng kami?” ulang Alvian tanpa melepas rangkulannya.


Tegar tersenyum. “Belum terbiasa kak. Apa boleh kita begini lagi?”


“Gak!” sahut Sera lalu menoleh ke belakang. “Jangan bermimpi anak muda. Memangnya kamu kira kami nganggur?”

__ADS_1


“Semua orang tua sibuk, ya, semua orang tua seperti itu.”


Adnito geleng-geleng kepala. Pemikirannya anak muda itu belum sampai pada tahap kebutuhan primer yang terasa seperti dikejar deadline.


“Orang tua sibuk karena harus membiayai banyak hal, Tegar. Biaya listrik, kebutuhan makan sehari-hari, tabungan masa tua, biaya sekolah, biaya pernikahan, tabungan sakit, kebutuhan sekunder dan lain-lain. Bukan hanya sibuk saja.” Adnito tersenyum maklum.


“Keluargamu sibuk banget pasti sampe kamu mempunyai pendapat seperti itu dan berharap kami menggantikan momennya?” goda Andito.


Mikaila mengulurkan tangannya, menguatkan Tegar dengan sentuhan simpatinya di bahu.


Jangan sampai dia kepancing emosinya. Bisa gawat.


Tegar menyunggingkan senyum malu. “Ya, keluargaku sibuk, Om. Jadi apa kalian bisa menjadi keluargaku?”


Alvian tergelak sambil menggerakkan tangannya, tepukan simpati itu menjadi tepukan kesal.


“Pinter juga kamu cari celah! Detektif kocar-kacir pinter ternyata, Ma.”


Sera memejamkan lalu menghela napas. Harusnya ia bahagia, ceria, dan penuh semangat. Eh tapi setelah anak-anaknya menganggap perlu ada Tegar di antara mereka demi anaknya pula dia lemes.


Sera menoleh. Sebenarnya ia tidak kejam seperti penjahat, ia hanya melindungi putrinya dari anak geng yang slalu mendapatkan predikat negatif di pikirannya.


“Nanti kami pikir-pikir lagi, kamu cukup oke dan datang ke rumah! Jangan protes, jangan ngelunjak, sekolah yang rajin.”


YES! Tegar berterima kasih tanpa alibi, dia sungguh-sungguh menginginkan kebersamaan walau harus pacaran dengan backingan ortu ceweknya sendiri. Apa itu cukup bisa di anggap gentleman?


Sesampainya di rumah mempelai wanita. Pernikahan langsung segera di mulai. Dengan bangga Tegar dan Mikaila menjadi pendamping Alvian. Tak peduli ada Dela di sana yang mencemoohnya lewat sorot mata dan kata-kata jelek ke keluarganya.


Lo cari masalah, Lo apes lagi!


...***...


^^^Bersambung ^^^

__ADS_1


__ADS_2