
Kabut tebal dan hawa dingin masih menyelimuti seluruh lokasi persami ketika bunyi peluit dari toa membangunkan seluruh siswa-siswi yang masih terlelap berselimut sleeping bag.
Tegar mengumpat kesal di dalam tenda ketika toa berdenging. “Anjrit, bisa gak sih gak usah pake toa! Budeg gue lama-lama!” katanya sambil merapatkan selimut tidurnya dengan mangkel.
Umpatan mangkel juga terdengar di tenda-tenda lainnya. Wajah-wajah kusam dan lelah terlihat tak tentu arah. Mana badan masih pegal-pegal lagi.
“Dalam hitungan ke dua puluh, seluruh atribut pramuka harus di pakai dan kumpul di lapangan!” Bunyi peluit dengan durasi panjang kembali terdengar.
Tergesa-gesa beberapa siswa yang malas di hukum langsung mencari semua atribut pramuka dan memakainya dengan buru-buru meski badan menggigil kedinginan dan perut keroncongan.
Tegar mengumpat, nggak begini caranya. Dengan malas ia berdiri dan keluar dari tenda dengan hanya menggunakan boxer dan kaos.
Tegar merenggangkan otot-ototnya yang kaku seraya memastikan matanya hanya menuju tenda Mikaila, tenda paling besar bersama anggota inti pramuka yang semena-mena terhadap anak baru sepertinya. Kacau.
“Cewek gue kok gak kelihatan? Apa dia masih bobok manis karena spesial?”
Daffa yang baru sadar setelah instruksi kembali disuarakan kencang-kencang tergopoh-gopoh keluar dari tenda menubruk punggungnya.
“Buruan, Bray. Buruan... Nanti kita di hukum.” katanya sambil menarik tangan Tegar.
Tegar yang sadar pun berusaha menolak ajakan Daffa, tapi peringatan yang terus di lakukan kakak pembina membuat Daffa semangat menarik tubuh Tegar ke lapangan.
Tegar mengumpat dalam hati, malu banget. Hampir seluruh teman-temannya baik yang sedang bersiap-siap atau sudah di lapangan menatap ke arahnya dengan muka tak percaya. Gelak tawa menyusul kemudian seolah pesona dua bad boy sangar dan imut-imut yang menghebohkan suasana pagi yang masih gelap membawa komedi.
Drew tertatih-tatih ke arah keduanya. Capek ketawa. “Kalian berdua gak mau lulus sekolah? Parah woy, gak usah cari gara-gara. Sono balik lagi ke tenda, pake baju sialan, jangan bikin geng kita tambah rusak reputasinya.” Drew mendorong keduanya dengan kuat, Daffa spontan tersadar. Ada apa gerangan? Kenapa pada ketawa-ketawa? Linglung ia mencari tahu bahkan sampai menanyakan ke teman-temannya.
Tegar menonyor kepalanya. Anjir, masih gak sadar-sadar. “Lihat bajumu kampret, Lo masih pake baju tidur!”
Daffa spontan melihat ke bawah, baju tidurnya yang selutut warna merah marun membuatnya cekakakan.
“Untung gak pake brief doang aku, coba kalo iya. Ngiler cewek-cewek lihat celanaku!”
__ADS_1
Tegar memukul kepalanya saking jengkelnya. “Lo bikin reputasi gue rusak!”
Daffa langsung menyadari pakaian Tegar juga sama konyolnya. Dia terbahak.
“Dua badut di hutan, tos dulu, Bray.”
“Gue mau lulus, jadi mending kita pake baju sekarang!” Tegar menarik tangan Daffa, mengajaknya berlari ke arah tenda tanpa alas kaki.
Daffa mengumpat-umpat lalu melihat telapak kakinya yang sakit setelah melindas kerikil tajam.
Tegar meraih seragamnya dari jemuran tali pramuka seraya memakainya cepat-cepat.
“Anjir, malah kebelet gue!”
“Aku ogah nemenin!” Dengan tidak setia kawan Daffa pergi ke barisan kelompoknya yang memanggil mereka agar cepat bergabung.
“Gue gak tahan dan ini hak asasi gue buat ke toilet bentar!” Tegar tergesa-gesa pergi ke toilet yang berjarak dua puluh meter dari tendanya.
“Lumayanlah ada temen nongkrong.” Tegar masuk ke toilet, bersiul-siul sebelum menyentuh air sedingin es. “Sialan, bakal membeku gue.”
“Gar, itu kamu?” tanya Mikaila. Takjub, pacarnya begitu dekat.
Tegar berdehem. Berhubung bilik sederhana itu hanya setinggi dua meter dan ada celah untuk menengok bilik satunya. Ia berjinjit, berusaha menengok ceweknya.
“Hai, ngapain kamu babe?” Tegar tersenyum.
Mikaila menguncupkan bibirnya. Cowoknya mengeluarkan bau hidrogen sulfida dan merkaptan yang menyengat.
“Tahan dulu! Aku lagi buka hp Dela. Kamu coba cek lagi, ada file yang dia sembunyikan gak di folder tersembunyi. Biasanya cowok-cowok gitu kan, suka rapat menyembunyikan rahasia. Aku susah konsen! Perutku sakit.”
Tegar mengelus kepala Mikaila seraya mengambil hp yang diulurkan.
__ADS_1
“Aku pamit apel, mau mandi, aku lagi mens.”
“Wicak gimana?”
“Udah turun demamnya, tapi dia gak bisa ikut acara berikutnya.”
Tegar berjongkok. Konsentrasinya pecah, alih-alih melaraskan suasana perutnya yang mules, dia dengan teliti mengecek seluruh aplikasi dan penyimpana. Video skandalnya sudah di hapus Mikaila. Dia hanya perlu membersihkan file sampah dan mereset ulang ponselnya. Sebagai bonus, ia mengirim beberapa foto Dela dan Rio yang bermesraan ke nomernya dan menghapusnya dari chat Dela seraya mematikan lagi.
“Udah beres. Bersihin hpnya pake kain basah dan jangan tinggalkan jejak lagi, gunakan alat bantu buat nyentuh ini lagi.” Tegar berdiri, mengulurkan pada Mikaila yang menunggu.
“Aku kangen sama kamu, babe. Kamu gimana?” Tegar mati-matian mengusap wajah pacarnya yang lelah dengan celah yang menyusahkan dirinya sendiri. “Capek punya cowok trouble kayak gue?”
“Masih bisa aku toleransi. Aku keluar duluan, masih banyak acara masih panjang dan ada beberapa ortu yang akan jenguk. Aku harap ortuku gak datang. Aku takut mama dan papa membawa masalah pribadi kita di sini.”
Tegar terpukau lalu teringat ibu dan adiknya. “Kalo mereka yang iseng datang gimana, mama kan penasaran aku pertama ikut kemping di hutan. Waduh... bentar-bentar, Mik. Aku juga mau keluar!”
Pintu toilet perempuan terbuka. Mikaila menghirup udara segar sebelum Tegar menyusul kemudian.
“Kamu pasti di hukum!” tukas Mikaila. “Pramuka cuma sekali di hukum berkali-kali, Gar-Gar, mimpi apa kamu tuh?” imbuhnya sembari menyelusuri jalan setapak.
Tegar menyeringai, ingin sekali ia mengajak Mikaila ke dalam hutan saja. Pelukan, berduaan sambil menghindari hukuman. Tapi itu tiada mungkin. Ceweknya sudah di tunggu-tunggu orang penting dan membuat tampangnya ikut menjadi santapan mata pembina pramuka.
“Push up dua puluh kali dan ikut ibu-ibu di kampung sebelah mempersiapkan sarapan pagi! Mikaila kamu antar ke tempat biasa!”
Bu Weni yang ikut apel pagi spontan geleng-geleng kepala. “Jangan satukan mereka, jangan... Tegar suka cari gara-gara dan Mikaila menyukainya.” serunya dalam hati karena tidak mungkin baginya mengonfrontasi murid-muridnya yang tidak-tidak di depan semua orang.
Tegar menyeringai. Dua puluh kali push up tidak masalah, masak-masak pun tidak masalah. Ada ceweknya yang ia inginkan dan hukuman Tegar membuat Daffa cemberut.
“Tahu gitu aku ikutan telat. Bisa makan sepuasnya tuh di dapur ibu-ibu. Enak.” Daffa memutar mata malas.
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^