Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 51 : Sangar


__ADS_3

Tegar menatap dada yang bergerak naik turun tak beratur di hadapannya sambil menyunggingkan senyum geli. Alvian nampaknya sedang ingin bercinta dan ia mengganggunya.


“Sorry.” ucap Tegar rikuh.


Alvian berdecak. “Mau ngapain? Adikku di rumah mama, gak di sini detektif!” ucapnya dengan nada menyindir.


Tegar mengikuti Alvian ke taman rumah yang memiliki kursi bambu. Dia mulai tak peduli dengan ejekan detektif dari Alvian walau sebenarnya keren juga julukan detektif itu.


“Saya harus bilang sesuatu kak!”


“Apaan! Istriku nunggu tuh.”


“Sebentar saja.”


Melihat tatapan permohonan dalam mata Tegar, Alvian mengiyakan. “Apa? Kiat-kiat merayu papa mama?” cibirnya sembari menyilangkan kaki.


“Bukan.” Tegar menarik napas seraya menceritakan kejadian tadi pagi. Alvian tak cuma terkejut tapi dia juga terpukau di saat yang sama. Suatu reaksi yang tak Tegar duga.


“Keren juga adikku. Sangar. Aku pikir dia hanya akan jadi anak manis dan penurut. Tenyata... Berantem pake jurus apa dia?” Alvian penasaran.


Sebuah senyum kecil merekah di bibir Tegar. “Lebih banyak pake mulut, tapi yang paling ekstrim jambak-jambakan.”


Alvian tergelak. “Lucu-lucu, adikku lebih berani dari apa yang aku kira karena bagi mama dia boneka hidup!” Lalu ia merenungkan kembali pernyataan Tegar. Apakah itu awal kenakalan Mikaila? Tidak. Alvian mengerti itu hanya protes semata dan sebagai kakak dia harus ikut campur lagi. Ya ampun, malam pertama terancam gagal. Alvian mendengus.


Tegar membisu di bawah pandang mata Alvian. “Kakak marah?”


“Gak-gak...” Alvian menggeleng. “Jadi kamu datang ke sini untuk ngasih info saja?”


“Um... Ya... Saya tidak mau di anggap sebagai biang masalah. Keluarga kalian perlu tahu masalah itu!”


Tegar kembali menerima tepukan simpati dari Alvian sampai-sampai rasanya ia ingin di peluk. Pelukan seorang kakak. Jadi memikirkan itu dia langsung mempunyai fantasi tersendiri.


Alvian melirik tiba-tiba. Tegar bersandar di bahunya seolah nyaman dan butuh sandaran karena Alvian ngerti siapa Tegar sesungguhnya. Mulut adiknya itu kan kadang susah ngerem.


Alvian berdehem-dehem setelah semakin lama durasi yang berputar. “Kenapa nyender-nyender?” seru Alvian sambil mendorong lengan Tegar.


Tegar spontan tersadar dari fantasinya. Cepat-cepat dia meringis malu. “Kebablasan kak, he. Sorry.”

__ADS_1


Alvian memutar mata, masih membangun celah di antara mereka untuk menguji seberapa tangguh dan serius bocah bau kencur yang berani-beraninya mengambil boneka hidup keluarga mereka menjadi sejatinya manusia yang memiliki banyak rasa dan penuh kekurangan.


“Udah balik aja sana, urusan Mika sama Dela aku backing.”


“Janji?” Tegar menatapnya serius.


“Janji! Ribet amat, buset deh apa kabar adikku yang perlu setiap hari ngurus kamu?”


“Dia lagi ngambek.” Bonusnya Tegar memberi info jika Mikaila tidak bisa di hubungi sepulang sekolah. Mungkin ceweknya baru semedi mengumpulkan energi untuk hari esok.


Tegar pamit, dia menggeber motor manualnya di depan Alvian. “Selamat berjuang kak, ROSO!”


Tergesa-gesa Alvian mengambil batu dan melempar ke arah motor yang sudah melaju kencang. “Roso-roso, kamu pikir gampang! Bocah, ruwet.” cibir Alvian seraya mengunci pintu gerbang dan masuk ke rumah.


Sesampainya di markas, Tegar mendapati anggota geng The Evolve Wild bersiap-siap meninggalkan lokasi.


“Mau ke mana?” seru Tegar.


“Matt lempar molotov ke markas, kita mau samperin mereka!” seru Daffa.


Tegar mencopot helmnya berbarengan dengan kawan-kawannya. Mereka mendekat ke arah the Horizon Blast yang menunggu dengan senyum permusuhan.


“Udah lama gak ketemu, Bray?” Matthew mencampakkan rokoknya seraya berdiri dari jok motor.


Alih-alih terpancing emosi, Drew menyambar satu botol bir yang tersaji di atas box motor.


“Hello... Udah bosan hidup?” Drew membuka penutup botol dengan giginya lalu melontarkan tutup kaleng ke arah wajah Matthew.


Matthew santai. B*m molotov yang dilempar ke markas mereka hanyalah pancingan.


Matthew mengambilnya. Lalu melempar-lemparnya di tangan. Tak acuh ia mendekati Drew di tengah suasana malam yang sembribit.


“Dengar-denger ada yang cari masalah sama ketos sekolahku. Tegar!” Nama itu terucap dengan menggelegar.


Begitu namanya di sebut, Tegar menegang. Acara balas dendam rupanya. Ia maju, berdiri tegak, tidak gentar menatap Matthew yang memberi tatapan mencemooh.


Tegar sudah mendapatkan hal itu dari Sera, seseorang yang mudah membuatnya tidak percaya diri. Dengan orang sebaya sepertinya bahkan serapuh dirinya, dia menganggap itu hal sepele.

__ADS_1


“Ada apa?” Tegar memasukkan kedua tangannya di saku jaket bersikap sedingin mungkin.


Matthew mengikuti gaya Tegar dengan cengengesan dan situasi markas The Horizon Blast mulai mencekam setelah kedua geng itu berdiri berhadapan. Satu lawan satu dan khusus Tegar dia mendapatkan lawan baru. Ketos SMA Sanjaya Bakti yang menjerumuskan diri sebagai anak geng. Rio Adelard muncul dari balik tembok persembunyiannya.


Sekejap Tegar tersentak lalu dengan mudah memberi senyum manisnya yang tidak bisa meloloskan dirinya dari tilang polisi.


“Suprise.” Tegar bertepuk tangan. “Sayangnya gue biasa saja!”


Rio maju selangkah. Skandalnya dengan Dela menyebabkannya lengser dari jabatan ketua OSIS. Kini ia menjadi siswa biasa dengan reputasi buruk. Semua itu gara-gara Tegar!


“Apa kamu pikir kamu cukup hebat dengan menghancurkanku dan Dela?” ucap Rio datar.


“Gue sudah cukup hebat dengan apa yang telah gue lewati sampai detik ini. Tapi kalo Lo tanya itu gue jawab, biasa aja. Hebat apanya, gitu doang.” Tegar merapatkan giginya sambil memahami situasi.


Tawuran jilid ketiga pasti akan terjadi dan ia betul-betul tidak ingin membuat pacar dan keluarganya kecewa. Dia sedang punya misi pulang kampung, mencari Harris. Jadi kalo tawuran lagi dan ia di skorsing. Rencananya tinggal wacana. Well. Atur strategi.


Tegar mengulurkan tangannya. “Gue minta maaf.”


Semua anggota geng itu terperangah. Di luar dugaan. Tapi si cerdas Rio tidak mau mengotori telapak tangannya dengan tangan yang baru saja ngupil itu.


Rio mundur selangkah. Harusnya ia lebih unggul dari Mikaila. Tapi satu fakta paling berisiko itu membuatnya menaruh dendam dengan Tegar.


“Aku tantang kamu balapan! Kalo kamu kalah, kamu putusin Mikaila dan jadi babu kita-kita!”


“Semudah itu?” Tegar menahan Drew agar tidak menyerang siapa-siapa dengan tangannya. “Mikaila bukan taruhan. Tidak ada juga seorang mantan mencampuri urusan mantannya. Cemburu?”


“Dia bukan sesuatu yang spesial! Tapi merusak kebahagiaan kalian adalah tujuanku.” bentak Rio.


Tegar nyaris melayangkan tamparan ke muka cowok sad boy itu dengan kekuatan penuh. Mikaila spesial untuknya dan merusak kebahagiaannya tidak segampang itu.


“Mobilmu atau motorku yang jadi taruhan!” pungkas Tegar.


“Deal!” Rio menjawab keangkuhan Tegar dengan menyalami tangannya.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2