
Musim liburan berakhir. Kehidupan sekolah kembali dimulai. Tegar kini boleh lebih songong dari hari kemarin. Bawaannya mobil, dompetnya berisi penuh, namun kehidupannya tak segampang kemarin karena jika dulu Harris yang pergi jauh darinya, kini ia yang memutuskan untuk menutup komunikasi dengannya.
Mikaila menghampirinya sepulang sekolah. Dia tersenyum-senyum. “Mau nganter aku pulang?” godanya.
Tegar mengacak-acak rambutnya. “Emang mamamu gak marah? Gue males cari masalah.”
Mikaila memanyunkan bibirnya. “Gak marah sih, tapi ngomel-ngomel.” Ia tergelak kemudian. “Mama laporan ke papa semuanya hal yang kita lewati kemarin. Papa bilang, boleh pacaran cuma peraturan utama tetap jalan!”
Tegar kembali mengacak-acak rambut Mikaila. “Gue bahagia tapi masalahnya mulai malam ini aku kerja di kafenya Daffa.”
Mikaila memandangi Tegar dan kerutan di dahinya terlihat jelas. “Kamu yakin? Uang dari papamu gak cukup?”
“Gak akan pernah cukup.” sahut Tegar cepat. “Gue mau menata hidup di sini, jauh dari bayang-bayang papa!”
Mikaila langsung memeluknya secepat hembusan angin. “Aku senang kamu ngerti, di sini tempatmu. Tapi kalo nanti ayahmu membuka diri, kamu harus balik ke sana.” ucapnya senang.
Tegar membayangkan ayahnya membuka diri dan ia menjadi anak orang penting yang gerak-geriknya akan di amati paparazi. Mendadak dia menggelengkan kepala.
“Setelah aku pikir-pikir jauh lebih baik begini. Aku bebas.” Tegar membuka pintu mobil. “Yuk ngedate.”
“Tunggu woi, nebeng...” seru Daffa dan Wicak sambil berlari ke arah mereka. Tegar mendengus. “Ganggu Lo pada!”
Mereka nyengir di kursi penumpang. Melody dan Sarina yang melihatnya ikut kocar-kacir juga menyusul ke dalam mobil. Berempat mereka berdesakan sambil terkekeh riang.
Tegar membanting pintu dengan kesal seraya mendesis tajam. “Apa iya gue harus nganter kalian satu-satu ke rumah?”
“Ya jelaslah, mobil baru kok gak mau berbaik hati sama temen-temen.” sambar Melody. “Keren juga nih, upgrade-nya gak kaleng-kaleng.”
Mikaila menoleh ke belakang. “Kalian sih kemarin ogah ikut ke Jakarta. Rame banget tau.”
Tegar mencubit dagu Mikaila. “Udah gak usah di bahas Jakarta hari kemarin! Lembaran baru gue baru di mulai.”
“Ya elah, lembaran baru segala kek berasa lahir kembali, Bray.” cibir Wicak. Dia menjauhkan badannya dari Sarina hingga membuat Daffa menepuk-nepuk kaca mobil.
__ADS_1
“Aku gepeng, njir!” Daffa menguatkan diri menyingkirkan Wicak dari tubuhnya hingga pemuda itu menempel pada Sarina.
“Tobat jadi playboy aja napa sih, Cak. Udah ada Sarina yang cinta mati tuh.” celetuk Daffa.
Wicak memajukan badannya hingga ia nyempil di antara kursi Tegar dan Mikaila. “Bagi kursi deh, Mik. Kamu baik kan?”
Tegar mendorong kepalanya dengan lembut. “Jangan mimpi Lo. Mikaila maunya duduk sama gue doang. Mundur!”
Wicak berdecak, pantatnya nyempil di jok mobil tanpa minat. Apes, sudah jauh-jauh ke Jakarta, sudah ngerayu anak olimpiade biologi, adanya emang cuma Sarina. “Gak usah ngarep pacaran sama aku, daripada trauma.”
Mikaila terkekeh sambil memfoto teman-temannya. “Orang gede bilang jodoh gak akan ke mana bestie, jadi santai ajalah. Bukan ulat bulu Sarina tuh.”
Tegar berhasil mengeluarkan mobilnya bersamaan dengan motor sport Drew yang melaju dari arah parkiran motor.
Drew menggeber motornya dan memukul-mukul kaca mobil kemudian. “Gak usah sombong! Baru bawa mobil aja belagu.” cibirnya dengan murka.
Mikaila menurunkan kaca mobil. “Siapa yang belagu? Kamu gak usah berasa paling tersakiti, Drew. Akar permasalahan ini dari kamu.”
Mikaila memutar mata. “Terus gak terima kamu? Gak ada koalisi? Kasian...” ejeknya seraya menjulurkan lidah.
Drew semakin panas hati. Dia meremas rambut Mikaila yang berimbas pada marahnya Tegar. Dia menaikkan kaca mobil dari pengoperasian pusat hingga membuat tangan Drew terjepit.
Drew memaki. “Lepas, Gar!” raungnya.
“Gue gak peduli selagi Lo belum minta maaf!” kata Tegar sembari mengusap kepala Mikaila untung ceweknya preman, dia rasa serangan Drew gak ada efeknya.
Drew memaki lagi saat tekanan di lengannya semakin kuat. Minta maaf sama junior kampret yang dia benci akan menurunkan citra dirinya. Karena itu ia memilih menggunakan cara paling mudah melepaskan diri dari pertikaian. Drew menyuruh siswa-siswi lain yang hendak melewati jalan membunyikan klakson motor. Kegaduhan itu membuat satpam mendekat.
Tegar tergelak seraya melepas Drew. “Gue sebenarnya masih mau temenan sama Drew, cuma dia kayaknya benci banget sama gue dan Mika.”
“Karena kalian berdua yang bikin The Evolve Wild melambung tinggi tapi jatuh lagi mana pecah dan itu bikin The Horizon Blast di atas angin.” jawab Daffa. “Mereka berkuasa sekarang. Kabarnya sering gembar-gembor di wilayah markas kita.”
Mendadak Tegar ingat belum mengembalikan mobil Rio. “Gue butuh bantuanmu, Daff. Balikin mobil Rio sekarang.”
__ADS_1
“Oke. Tapi pertama-tama kamu kudu balikin nih cewek-cewek ke rumahnya, Gar. Sumpek.”
Mikaila dan gengnya berseru. “Tapi firasatku ngomong lain, kalian ada rencana terselubung?” tukas Mikaila. Dia mengamati Tegar menyetir.
Tegar melirik. “Cuma balikin mobil, Daffa tuh yang ngusir kalian. Bukan aku.”
“Empat bulan kita bakal menghadapi ujian-ujian, belum persiapan pensi. Kalian gak usah membangkitkan The Evolve Wild atau bikin geng baru!”
“Evolventador.” celetuk Tegar lugas. “Nama geng baru kita.”
Mikaila memutar mata. “Baru juga aku nasihati, kamu udah cari gara-gara. Buruan deh antar aku pulang duluan. Sumpek sama kamu.”
“Cie... kasih longgar, Gar. Biar dia tau caranya kangen.” potong Wicak.
“Siap! Nih cewek kadang-kadang emang perlu di kasih pelajaran.” Tegar tersenyum. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Mikaila dan cewek itu menyesal, setelah mengungkapkan kata sumpek, Tegar melonggarkan hubungan mereka. Cowok itu memikirkan hal lain yang menurutnya lebih penting dipikirkan daripada pacaran. Tegar memikirkan hidupnya, memikirkan keluarganya. Dan setelah melakukan perenungan dan membayangkan bila Harris ada bersamanya, dan membagi langkah apa yang harus ia lakukan demi menyambung hidup seorang laki-laki yang memiliki gengsi tinggi. Ia memilih part time dan fokus menjadikan mobilnya sebagai taksi daring. Berminggu-minggu lamanya sampai Mikaila melempar bola basket ke punggungnya setelah ujian praktek olahraga selesai.
“Maksudmu apa sih diemin aku?” tanya Mikaila seraya menghampirinya.
Tegar memungut bola itu seraya mendribble-nya. “Gue mau fokus ujian dan hidup gue.”
“Dengan cara cuek bebek sama aku? Berminggu-minggu bahkan sampe dua bulan?”
“Of course, babe.” Tegar tersenyum. “Sorry ya.”
Mikaila mendesah. “Emang gak kangen ya?”
“Banget.” Tegar berlutut, dia mengikat tali sepatu Mikaila yang longgar. “Gue lagi usaha cari duit buat masuk universitas ternama, jadi sorry, kamu yang kedua dari daftar ambisiku!”
“Tapi aku kangen, gimana dong.” rengek Mikaila di bawah terik matahari.
...***...
^^^Bersambung^^^
__ADS_1