
Tegar bergeming sembari berkacak pinggang untuk membiarkan ibunya merapikan pakaian dan menyemprotkan parfum ke seluruh titik-titik nadinya.
“Harus banget aku pake jas, Ma?” Tegar menatap dirinya bagai ingin pergi ke rapat kerja. Formalitas terpampang, terlihat perlente. Mirip papa...
“Harus dong walaupun mama juga gak tau kamu diundang untuk apa.”
Shinta menutup parfum pemberian Mikaila dan meletakkannya di meja. Dia tersenyum bangga, putranya terlihat sempurna alih-alih mengingat suaminya yang mewariskan delapan puluh persen pesonanya ke Tegar.
Shinta meringis, “Sapa tau kamu akan dinikahkan sekalian oleh mereka.”
Kembali detak jantung Tegar berpacu dalam melodi diskotik. Padahal belum ada sejam ia merasa jantungnya tenang.
“Mama gak mau nemenin Tegar?” harap pemuda itu dengan mimik kasian, bingung, dan ekspresinya berpikir keras. Seribu daftar sudah ia pikirkan untuk terlihat normal nanti. Seribu kegelisahan bersanding di sebelahnya.
Shinta mencolokkan kabel setrika ke lubang steker. “Enggak. Setrikaan mama banyak!”
“Yah...” Bahu Tegar merosot seolah ia kehilangan renjana dalam mendekati ceweknya. Dan Shinta tersenyum geli.
“Jangan ngaku-ngaku anak geng kalo datang ke keluarga besar pacarmu ciut begitu, kayak papamu dong. B-E-R-A-N-I.” cibir Shinta sambil mengibaskan pakaian dan meletakkannya di meja.
“Sudah sana berangkat, hadapi! Cemen amat kamu, jago kandang."
Tegar mengambil kunci motor di gantungan seraya memakai helm. “Pergi dulu, Ma. Doakan Tegar selamat sampe pulang nanti ya.”
“Ya!” sahut Shinta geli. “Semangat, Julio. Jadikan Mikaila cewek terakhir kamu biar mama gak pusing lihat anak galau Jaksel di sini.” Shinta melambaikan tangan. “Jangan lupa pacaran sehat. Ingat panduan gizi seimbang dan olahraga!”
Tegar memutar mata seraya menghidupkan motornya di teras rumah. Ada banyak pertimbangan yang membuatnya lupa cara menggeber motornya kuat-kuat, dia memilih menekuri jalan dengan malas agar berdamai dengan pikirannya sendiri sebelum sampai di rumah Mikaila.
Tegar menarik napas, rumah Mikaila cukup ramai dengan aktivitas tamu undangan yang datang untuk menyumbang serta menyambung tali kasih kekeluargaan.
Tegar menyunggingkan senyum gugup. Dia mengusap telapak tangannya, grogi. Jantungnya kembali berdebar ketika menyelinap di antara tamu yang lain ke teras rumah Mikaila.
“Hai, babe." sapanya rikuh. “Lagi sibuk?”
Mikaila berbalik setelah memfoto dirinya sendiri dengan gaya kenes.
“Hai, berani juga kamu datang ke sini!” Mikaila mengekspose Tegar dengan berani seraya memujinya dengan tulus. “Cakep banget, pacar siapa sih ini?”
__ADS_1
“Pacar kamu!” Tegar mengangkat tangannya dan hanya bisa menggantung di udara.
Alvian nimbrung lalu berdehem-dehem sambil berkacak pinggang.
“Ada apa ini? Kayak kenal...,” Alvian menonton muka Tegar dari dekat, “kayak detektif yang kocar-kacir waktu itu.” Alvian memberi senyuman meledek. “Gimana puas belum bisa masuk sini?”
Rahang Tegar mengeras, susah payah ia melontarkan kalimat yang rasanya mudah tapi susah.
Kalo bukan jadi kakak ipar gue ntar, udah gue lakban tuh mulut.
Tegar mengangguk sementara Mikaila meraih tangan si jagoan itu.
“Kakak yang nyuruh aku undang kamu, jadi ortuku gak akan marah. Cuma matanya mecicil.” gumamnya pelan lalu menunjuk ibunya yang berdiri di antara tamu-tamu pentingnya. Tegar menyunggingkan senyum. Dari jauh Sera memang melihatnya dengan mata melotot. Tajam menghujam.
Alvian bersedekap. “Kalo bukan karena adikku lesu setiap hari dan gak mau makan, aku tidak akan mengundangmu di acara keluarga ini.”
“Terima kasih sudah mengundang saya di sini, tapi saya tidak bawa amplop seperti ibu-ibu itu!”
Mikaila dan Alvian saling tatap dan spontan tergelak. Lucu banget sih Tegar, sampai Mikaila yang gemas mencubit pipinya dan Alvian merasa bersalah adiknya perlu menjalani kisah cinta tersembunyi dengan cowok yang begitu kharismatik dan lugu ini.
“Gak perlu ngasih amplop, belum cukup umur.” ledek Alvian. “Tugasmu di undang cuma buat ngajak adikku makan-makan biar semangat. Lagian acara nikahnya besok, kenapa pake jas sekarang?
OMG Tegar.
Mikaila kembali tergelak sambil menabok punggungnya. “Udah deh kak, kasian anak orang. Lagian jagoan kalo ketemu keluarga pacar tetap grogi. Gak mungkin enggak. Bener gak?”
Tegar mengangguk. Alvian yang sudah merasakan bagaimana sensasi bertemu keluarga pacar untuk pertama kalinya menepuk bahunya. Bersimpati sesama pria.
“Cukup satu doang pesanku kalo kamu mau jadi keluarga kita. Sabar. Ada masanya adikku jadi milikmu.”
“Baik, kak. Pesan di terima.” Tegar mengangguk sementara Mikaila ingin sekali memeluknya, memeluk tubuh pemuda yang beraroma parfum kesukaannya lalu menanyakan apa semuanya baik-baik saja?
Pemuda itu tampak maskulin dan berkarisma dari cowok manapun yang pernah ia kagumi.
“Mau nemenin makan?” tanya Mikaila dengan lidah kelu.
Tegar menarik tangannya dari genggaman tangan Mikaila ketika ibunya lewat sambil berdehem.
__ADS_1
“Maaf tante.”
“Halah, senang juga kan kamu?” tukas Sera sinis.
“Kalo Mikaila senang, saya juga seneng.”
“Udah dong, Ma. Janjinya kemarin gak marah waktu kakak bilang ini solusi yang baik buat kesehatanku.” bujuk Mikaila, menengahi Tegar dan Sera.
“Hanya dua hari! Awas besok kamu berani jadi detektif lagi yang memata-matai rumah kami setiap malam.” ancam Sera.
Tegar mengiyakan, sungguh-sungguh, pastilah ia sangat berterima kasih sudah di beri waktu dua hari untuk terlihat di antara keluarga Mikaila. Ia wajib pasang muka sedemikian baik.
Sera berlalu, Mikaila lantas mengajak Tegar ke ruang tamu yang di penuhi makanan tradisional dan modern.
“Kalo rendang ada di depan, kamu mau makan apa?” tanya Mikaila. Cewek itu begitu ayu dengan memakai gaun sopan lengan panjang warna toska, manis sekali di kulitnya yang putih.
Tegar menggeleng. Lebih memilih menonton pacarnya yang menggiurkan untuk di kecup dan di peluk daripada makanan yang enak-enak itu. “Bener kamu gak mau makan?”
Mikaila nyengir sambil mengangguk. “Aku cewek penuh drama. Jadi sabar adalah koentji, ya babe?”
Tegar mengulum senyum sembari menikmati tatapan mata pacarnya yang begitu lekat.
“Kamu kangen sama aku?”
Tubuh Mikaila menjadi rileks setelah ia mengungkapkan. “As long as i'm with you. It'll with be okay. ” ucapnya yang berarti selama aku bersamamu. Semuanya akan baik-baik saja.
Tegar melepas senyuman lega. Ceweknya bilang kangen dan ia tidak baik-baik saja. Tegar ingin menghentikan waktu, menutup mata Sera, Adnito dan Alvian agar tidak melihat mereka berduaan. Agar ia bisa mencumbu pacarnya dan mengajaknya balapan.
Tegar bergumam. “Bisa kita makan aja? Jas ini dan kata-katamu bikin aku panas!”
Mikaila memanyunkan bibir. “Hanya dua hari kamu bisa jadi mata-mata kami sesuka hati. Segini doang reaksimu. Ah, gak seru.”
Tegar menepuk keningnya. Gak seru apanya, jantung dan segala hasrat terpendamnya membabi buta di dalam sana dan bisa-bisanya ceweknya protes.
Tegar berdiri, mengambil nasi prasmanan di belakang ibu-ibu yang mengantri lalu menyuapi Mikaila dan mulutnya sendiri.
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^