
Kesedihan mendera keluarga Tegar hari itu. Rumah hening, semua membisu. Shinta dan Harris tak terlibat pembicaraan. Kasus terbukanya skandal mereka di luar perkiraan. Bocah-bocah itu... Semua tersiksa sendiri-sendiri di ruang pribadi mereka kini.
Tegar menjotos tembok berulang kali. Dia menggeram, “DREW!”
Shinta mengusap air matanya seraya pergi ke kamar Tegar. “Gar, buka kamarnya.” Shinta mengetuk-ngetuk pintunya. “Jangan marah-marah, Tegar. Ini sudah jalannya.” ucapnya dengan suara bergetar.
Tegar kembali menggeram. Barang-barang di meja belajarnya berserakan. “Bohong jika aku gak peduli sama papa, Ma. Gue peduli sama si brengsek itu!” ungkapnya saat Tegar membuka pintu.
“Kita pergi untuk kebahagiaannya sekarang apa mungkin semua akan baik-baik saja? Ini salahmu, Ma!” Emosi Tegar berubah menjadi nada ketakutan.
Shinta menangkup kedua pipinya. “Mama tahu kamu khawatir sama papa, sama ibu Mike dan keluarga. Tapi jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Shinta menyentuh dada Tegar.
“Kamu anak baik, bersabarlah. Kita sudah melakukan apa yang perlu kita lakukan sampai sejauh ini. Mama capek, ya mama capek, lebih dari apa yang kamu tahu. Sekarang kita hanya bisa menunggu keputusan papa.”
Keduanya menoleh saat Harris keluar dari kamar Dinda.
“Ketiga anak itu akan berurusan dengan pengacara papa dan polisi.”
Tegar dan Shinta saling tatap. “Untuk apa mas?”
“Memberi pelajaran untuk menghormatinya orang tua dan orang lain. Singkatnya balas dendam!” Harris mendekat. Ia mengamati mata istri dan putranya yang benar-benar membuatnya sadar mereka terlampau terluka dan menyayanginya.
“Kembalilah ke Jakarta. Papa akan mengakui kalian!”
Shinta menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Dia paham efek buruk dari keputusan Harris, semua yang sudah di bangun pria itu akan hancur berantakan, tapi anak-anak membutuhkannya. Shinta menundukkan kepala sambil menggenggam tangan Tegar.
“Jangan mengambil keputusan dalam keadaan ngenes mas. Itu hanya tekanan sesaat.”
“Saya serius, Shinta! Kapan saya pernah bercanda dengan kalian?”
__ADS_1
Tegar spontan masuk ke kamarnya. Harris slalu serius sudah terbukti dari kelakuan sadisnya membuang mereka. “Bagaimana bisa aku ikut papa. Mikaila. Dia akan menganggapku pembohong.”
Shinta menghela napas seraya mengelus keningnya. “Aku angkat tangan mas. Giliranmu dengan Tegar!”
Shinta pergi keluar rumah dengan membawa mobil Tegar. Harris masuk ke kamarnya, menghadapi anak lebih susah dari menghadapi rivalnya. Apalagi soal cinta? Ingin sekali Harris bilang OMG tapi itu tidak mungkin. Wajah sangar dan kulit cokelat eksotisnya turun ke Tegar, seperti Tegar dia tidak suka basa-basi.
“Papa antar kamu lamar Mikaila sekarang untuk mengikatnya. Kamu mau.”
“Papa pikir gampang ninggalin dia waktu lagi sayang-sayangnya!”
Harris mengulum senyum yang tak tertahankan. Baiklah, dia akui anaknya cinta gila dengan gadis itu, gadis yang setiap kali menjumpainya slalu ceria dan menganggapnya orang tua si pacar yang tak punya kekuatan super.
“Itu yang papa dan mama lakukan dulu saat muda! LDR.”
“Cicak pun ngerti papa salah!”
Harris menarik napas dan menghembuskannya.
Alamak, Tegar langsung pusing. Mikaila sudah memberi jawabannya jauh-jauh hari. Cewek itu jelas suka Tegar kembali ke ayahnya. Masalahnya, pikir saja, kampus idaman dan ceweknya lenyap dari pandangan mata seketika.
Tegar menutup kepalanya dengan bantal. Emosinya luruh, padahal dia tadi sudah berniat menghajar Drew nanti malam dan membuat Dela dan Mira menerima hal yang sama.
“Papa atur aja. Kalo sampe Mikaila nangis papa tanggung jawab!”
Harris menutup matanya sambil geleng-geleng kepala. “Kok papa, kamu lah, kamu laki-laki, pegang kendali!”
Tegar menepuk-nepuk bantalnya. Kesal. Kehadiran ayahnya bikin tambah ribet. “Itu papa, buatku tidak! Aku lebih suka dikendalikan Mikaila karena bagiku selain mama dia pengganti papa!”
“Deal. Papa yang atur. Kamu tinggal persiapan mentalmu jadi laki-laki pengendali!”
__ADS_1
Tegar merasakan kasurnya bergelombang. Harris pergi, di susul suara mobil yang menjauh dari rumah. Baru setelah dia sendiri di kamar, Tegar membalikkan badannya.
“Ke Solo menjemput jodoh atau menjalani karma orang tua?” Tegar menatap langit-langit kamar. “Taulah, gue capek.”
Tegar memejamkan mata. Sementara di rumah Mikaila. Shinta dan Harris bertemu di sana. Diskusi serius dan genting terjadi di sana seakan-akan hubungan anak-anaknya sudah berada di fase serius banget.
Mikaila mengendap-endap keluar rumah lewat dapur. “Pumpung ada kesempatan ketemu Tegar, mari gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya!”
Cewek itu meluncur ke rumah Tegar menggunakan ojek daring.
“Babe... Babe...” Mikaila mengetuk jendela.
Tegar semakin menutup telinganya seakan panggilan Mikaila menggema di mimpinya.
“TEGAR!”
Pemuda itu spontan beranjak. Matanya langsung terpatri ke jendela, alih-alih senang, doa justru ketakutan. Mikaila menghidupkan lampu hpnya dan menaruhnya di bawah wajah.
“Lo ngapain ke sini? Gentayangan?”
“Buka pintunya!” bentak Mikaila.
Baru setelah nada marah ceweknya terkenal di kuping telinga. Tegar tergopoh-gopoh membuka pintu utama.
“Hai, Ba—” Ucapan Tegar terpotong karena Mikaila langsung memeluknya. “Kamu bakal ninggalin aku...”
Tegar menggeram dalam hati. Kecamuk di dadanya kembali terasa padahal baru sejam dia merasa tenang. Tegar mengelus punggung Mikaila seperti saat cewek itu berusaha menenangkannya seraya memeluknya erat dengan tangan kokohnya.
“Maaf. Prediksimu tepat. Kita LDR.”
__ADS_1
Mikaila menangkup rahangnya dan menciumnya seolah itu ciuman terakhir dalam hidupnya.
...***...