
Mikaila mengantarnya ke bengkel dalam keheningan yang nyaman sementara matahari mulai terbenam. Dia tersenyum menggoda seolah menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar kedekatan di bioskop, jalanan dan rumah makan padang ketika cowoknya sedang menjelaskan ide keluar dari rumah besok malam Minggu.
“Kenapa Lo?” tanya Tegar sinis. Dia wajib membentengi diri dari pesona ceweknya, dia yang memegangi kendali. Dia harus menjaga amanah orang tua mereka dengan menjinakkan setan-setan dalam dirinya yang berusaha berbisik menggoda.
Mikaila meringis. “Sampai ketemu besok. Makasih jaketnya!”
“Preman Lo, tukang malak!” cibir Tegar seraya berbalik. Dia mengangkat tangannya sambil tersenyum. “Bye, babe. Usahakan besok datang!”
“Tunggu!” panggil Mikaila saat ia melangkah pergi.
Tegar berbalik. “Apalagi?”
“Menciummu.” Mikaila berjinjit, mengecup pipinya sekilas lalu pergi ke motornya. “Bye, babe. Jangan marah ya...” ledeknya saat Tegar melotot tiba-tiba.
“Aku pulang!”
Tegar mengusap pipinya dengan ekspresi tertegun juga merasa geli, untuk pertama kalinya di cium Mikaila dia merasa langit terlihat cerah dan dunia terasa baik. Sementara kemesraan mereka menjadi tontonan orang bengkel dan gengnya.
“Habis kesambet setan centil di mana dia?” sembur Daffa.
“Bioskop.” Tegar menepuk pundaknya, “Dia lagi seneng bisa bawa motor sendiri. Udahlah, gak usah di bahas. Malu gue.”
“Cuma cewekmu doang yang labil!” sembur Drew. “Kayak Lila dong, konsisten.”
Tegar memutar mata. Tak peduli. Tak henti-henti dia mengingatkan, “Tinggal beberapa bulan lagi lulus SMA, jangan sampe bunting tuh cewek!” sarannya sambil mengeluarkan amplop dari Mikaila.
“Dari ketos?” sergah Daffa.
Tegar mengangguk sambil menghitung jumlah uang yang nampak kumal terlipat. “Dua juta.” ucapnya pada Daffa.
“Mayan tuh, motor juga udah kelar servis! Coba dulu tarikannya.” Daffa menyahut uangnya lalu mengeluarkan dompetnya. Tegar berdecak waktu Daffa mengeluarkan uang pribadinya untuk menambah biaya servis onderdil motor dan membayarkannya ke montir.
__ADS_1
“Aku pernah di posisi jauh dari bapak, apalagi kalau keuangan buruk. Rasanya gak enak!” Daffa tersenyum tulus.
“Thanks.” Dada Tegar menghangat, tapi jauh di lubuk hatinya ia akan mengganti sikap royal Daffa dengan persahabatan yang kekal.
Tegar tersenyum seraya mencoba motornya yang lebih enteng tarikannya dan lebih gesit fleksibilitasnya sambil menjadikan Daffa komentatornya.
Daffa tergelak. “Kampret, kita di kejar polisi!” Ia menepuk pundak Tegar sambil menoleh ke belakang.
Uwiwww... uwiwww... wiuuuu...
Tegar bermanuver di tikungan sampai motornya nyaris ambruk dan partnernya syok berat.
“Anjir bangsat... Aku hampir nyium aspal dengan brutal!” maki Daffa kesetanan.
Tegar tergelak. “Mikaila udah sering, masa Lo ciut gitu!” serunya sambil menyalip kendaraan lain, menghindari polisi yang nampaknya mulai kesusahan mengejarnya.
“Anjir... Beda rasanya kalo kalian yang jatuh. Lah kita, bisa masuk penjara, kena tilang, motor di sita, orang tua marah... Komplit apesnya!” sahut Daffa mangkel.
“Ada informasi apa dari horizon blast?” tanya Tegar.
Daffa membuka pintu gerbang rumahnya. “Gak ada, Rio fokus ajar balapan! Yang perlu kamu khawatirkan itu Dela bocor ke ortunya Mika gak.”
“Bener juga." Tegar berpikir panjang sampai lapar. “Gampanglah urusan itu, paling di marahi lagi.” Tegar tersenyum santai. “Balik dulu, Lo jangan lupa minta uang nyokap lagi buat beli bensin!”
“Ngawur!” Daffa menendang velg motor seraya terbahak. “Ati-ati.”
Tegar tergelak seraya menggeber motornya, meninggalkan Daffa yang semringah mendapati ibunya nongol di depan pintu.
***
Dua puluh empat jam kemudian. Ketegangan membuncah seolah sekujur badan dihantam kecemasan yang tidak selesai-selesai.
__ADS_1
Mikaila memakai jaket kulit pemberian Tegar di kamar lalu melongok keluar kamar. Sera sedang di ruang keluarga, sedang bertelepon dengan seseorang. Kesempatan itu Mikaila gunakan untuk keluar rumah.
“Buruan-buruan sebelum mama sadar aku keluar rumah.” ucapnya sembari mendorong motor keluar rumah.
Dengan ekspresi panik Mikaila menengok ke belakang. Aman. Dia langsung menghidupkan motornya pergi ke markas The Evolve Wild. Dia menghampiri Tegar yang baru melakukan meeting poin dengan Shinta.
“Tante juga ikutan ke lokasi balapan?” Mikaila mencium punggung tangan Shinta.
“Iya, Tegar yang minta!” Shinta menunjuk putranya yang berwajah sepolos mungkin.
Mikaila mencibirnya dengan anak mama. Tapi Tegar gak peduli. “Gimana ceritanya bisa sampe sini?” Ia mengernyit curiga. “Kabur?”
“Yups.” Mikaila meringis. Tapi itu tidak menyenangkan Tegar. Cowok itu menghela napas. “Gimana kalo ortumu cemas dan marah? Izin sekarang, bilang ada mama!” ucapnya tegas.
Mikaila menguncupkan bibirnya. Harusnya Tegar senang, harusnya keberadaannya membuatnya semangat mengalahkan Rio. Tapi kenapa dimarahi? Tapi dia nurut, Mikaila mengirim chat ke Sera disertai foto bersama Shinta yang kontan panik di rumahnya. Ia mengecek kamar Mikaila, motor dan pintu gerbang.
“Ya ampun, Mika! Kamu benar-benar bikin mama marah!” Sera berusaha menghubungi Mikaila, tetapi nomer anaknya tidak aktif dan itu semakin membuatnya murka dan cemas dalam satu waktu.
Sera pergi ke dalam kamar, menghubungi Alvian dan Adnito agar mencari Mikaila ke skena geng sekolah yang membuat pria-pria itu kebingungan. Rumah Mikaila gempar!
Di markas, anggota The Evolve Wild berkumpul membentuk lingkaran. Mereka mengepalkan tangan dan mengangkatnya.
“SEMAKIN KITA BERKEMBANG LIAR, SEMAKIN KUAT BERSAMA-SAMA.”
Semboyan itu menggelegar penuh semangat dari anak geng yang memakai seragam serasi. Jaket kulit hitam dan bandana merah yang terikat di lengan kiri. Mereka naik ke motor masing-masing dan menggebernya ke lokasi balapan, tapi diiring-iringan paling belakang Mikaila mendengus.
“Mentang-mentang motor spek balapan semua, motor bebekku di abaikan! Awas kalian ninggalin aku.”
...***...
Bersambung
__ADS_1