
Tegar menggapai lengan Mikaila setelah ceweknya turun dari motor.
“Mau ngomong sebentar?” tanyanya lembut. Perihal Dela dia sudah tahu, cuma reaksi pacarnya gemas-gemes menyebalkan, diluar prediksi BMKG. Di hari yang cerah bersinar, Mikaila diam seribu bahasa, hanya bahasa tubuh yang mengisyaratkan kesedihan karena sepanjang perjalanan cewek itu hanya menyandarkan kepalanya di helmnya. Mau gak mau helm mereka berbenturan dan itu membuatnya cemas.
“Kamu dimarahi keluargamu?” desak Tegar ditengah suasana orang tua yang mengantar anaknya dan menunggu di bangku semen sebelum berangkat persami dengan menggunakan truk.
Tegar memberi senyum saat Mikaila mengutusnya untuk diam. Tegar melakukannya meski dia tidak suka.
“Bentar.” Tegar berlutut, ia membuka tas kerilnya seraya mengeluarkan kantong plastik putih berisi bekal makanan buatan Shinta dan camilan-cemilan untuk dinikmati.
“Apa pun yang ortumu bilang dipikir baik-baik aja dulu, jangan kayak gue ya. Gue kurang ajar bukan karena gue dilarang pacaran. Gue di buang sama bokap demi kepentingannya yang besar itu. Demi banyak orang.” Tegar mengulurkan coklat batangan.
Bahu Mikaila merosot. “Mama minta Dela jagain aku, mama larang aku pacaran sama kamu dan itu berbeda dengan keinginanku!”
Woah, lagi-lagi Tegar tak berdaya dengan ucapan Mikaila. Cewek ini pengen gue, huaha. Harusnya gue yang kena tepukan cinta ini cewek, putar balik berhasil.
Tegar menyunggingkan senyum, melambai pada Drew yang menyapanya keras. “Bentar, cewek gue laper!”
“Baper, Gar!” sahut Mikaila lemes. Drew mengacungkan jempolnya, alih-alih memberi ruang bagi mereka bicara. Dia berlari kecil, nimbrung.
“Kenapa, berantem?” tanyanya penasaran. Mukanya menatap Tegar lalu Mikaila. “Baru jadian sekarang berantem. Amit-amit... Gimana bisa langgeng!” Drew mencibir dengan gaya santai.
__ADS_1
Mikaila menguncupkan bibir. “Boro-boro langgeng. Yang ada aku udah di marahin mama gak boleh pacaran sama Tegar. Kita harus back street kayaknya, Gar.”
“Back street?” Tegar menaikkan alisnya. Setelah di pikir-pikir lagi walaupun dia gak suka tapi mengerti ia melebarkan sudut bibirnya. “Gue gak pernah back street sebelumnya, patut di coba. Seru pasti.”
Drew pun membalasnya dengan alis naik turun. “Penuh risiko dan adrenalin. Dan itu semua bisa ditangani dengan mudah oleh anak geng!” Tegar menerima tepukan simpati dari Drew di bahunya.
“Semangat... Semangat... Semangat... Kayak aku gini loh, empat kali ikut persami, empat kali aku harus berhadapan dengan penunggu tempat kemah. Ngeri banget, cah!” selorohnya dengan nada bangga dan itu mau gak mau membuat Mikaila tertawa.
“Itu pertanda kamu harus lulus tahun ini, Drew. Ngapain lama-lama di SMA, kurang kerjaan.” Mikaila menggendong tas kerilnya. Matanya memandang sekilas gerbang sekolah. Pasti tak lama lagi Dela akan datang dan bersama Tegar akan membuatnya mendapat bahan untuk mengacaukan keluarganya lagi.
“Mulai sekarang bisa back street-nya, Gar?” Mikaila membuka coklat pemberian Tegar sambil menatapnya. Coklat hasil keringat sendiri si pacar dengan membantu Shinta menggosok pakaian itu masuk ke mulutnya.
Mikaila menyuapi Tegar, lalu Drew yang mangap seperti ikan kelaparan.
Tegar merapikan topi pramuka Mikaila lalu membawakan tongkatnya.
“Gak masalah back street, kita belum mau nikah. Jadi enjoy aja. Aku cowok setia!” Tegar mengambil helm couple mereka, tak akan ia biarkan helm itu kepanasan atau kehujanan apalagi hilang sementara mereka berdua baru mengadu nasib di perkemahan.
Mikaila membawa langkahnya mengikuti Tegar ke lapangan sekolah dalam diam. Berpikir keras, lupa pada dialog yang biasanya ia siapkan masak-masak sebelum acara penting sekolahan.
“Keluargaku tau kamu cium aku, kalo mereka cari kamu, kamu mau menghadapinya?”
__ADS_1
“Sendirian?” Tegar menoleh, barang bawaannya cukup ribet dan banyak, mana muka sangarnya dilihat banyak orang. Rasanya tambah ribet waktu pertanyaan itu mengacaukan konsentrasinya.
Tegar meringis. Secuil hatinya mengaku takut menghadapi keluarga Mikaila lagi seorang diri. Apalagi sudah tahu ia bersalah dan pantang berdusta.
“Aku sebenarnya mampu, cuma aku lebih berani kalo mama ikut. Syukur-syukur kita langsung dinikahkan? Masalah selesai?”
“Gak bercanda, Tegar.” sahut Mikaila setengah merengek. “Kamu berani gak mengakuinya?”
“Jelas gue berani!” Tegar menampilkan wajah angkuhnya, jangan meremehkan. “Tapi aku gak berani kalo mereka minta aku menjauhi kamu. Kamu yang bikin aku betah di sini, Mikaila.”
Mikaila menoleh ke belakang, suara mobil Dela. Perasaannya kembali di sabet murka.
“Kalo gitu kita bikin permainan baru, aku bakal jarang perhatian ke kamu, tapi sebagai gantinya aku bakal kedip mata ke kamu. Oke?”
Tegar berusaha tak tertawa saat Mikaila meyakinkannya dengan perhatian yang sarat dengan informasi mata kelilipan.
Kedip-kedip mata? Bukannya ganjen juga?
Tegar mengendikkan bahu sambil merasa konyol karena hubungan mereka takkan berjalan mulus. Tegar membiarkan Mikaila pergi dari sampingnya.
“Jalani aja dulu, kalo dimarahi cukup di dengar. Paling-paling cuma nasihat seperti biasanya.” Tegar berusaha menganggap itu sepele, padahal di rumah Mikaila sedang terjadi perundingan serius. Bagus, satu lagi permasalahan yang harus dihadapi.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung^^^