
Mikaila melangkah terburu-buru dari gerbang sekolah menuju kantin dengan sekali dua kali bersembunyi di balik pilar saat guru-guru terpantau pengelihatannya.
Mikaila mendekap tasnya, wajahnya cemas, rambutnya berantakan, sejak malam pesta ulang tahun Daffa jiwanya terguncang. Nafsu makannya berkurang.
“Sumpah, aku takut banget di panggil BK gara-gara ciuman sama Tegar. Itu kan gak penting banget disebar-sebar. Kenapa sih orang-orang pada sirik sama aku!” gumamnya saat mengintip keadaan.
Tegar menyeringai. Oh pacarnya ini sungguh membingungkan. Sebentar-sebentar menggemaskan, sebentar-sebentar menyebalkan. Tapi tetap tekadnya sudah bulat, dia akan mencintainya.
“Emang gak penting di sebar-sebar menurut gue! Banyak kok yang ciuman kemarin?” celetuk Tegar di belakangnya.
Mikaila menoleh dalam posisi membungkuk. Alih-alih marah dia cuma mendengus lalu menatap pacarnya dengan sendu. “Kamu lagi.”
“Hai...” Tegar mengacak-acak rambutnya alih-alih merapikannya. “Sehat? Atau kepikiran gue?”
“Gue-gue! Belagu.” cibir Mikaila. “Aku kepikiran nasibku sendiri kok, gak kepikiran kamu.” ucapnya sambil melengos.
“Oke kita ke kantin.” Tegar menariknya melewati jalan sempit belakang gedung kelas sebelas yang tidak pernah dilewati Mikaila sebelumnya.
“Kamu bisa lewat sini kalo takut, atau lewat pintu belakang, tempat-tempat orang kantin keluar masuk.” Tegar memberitahu. “Lagian gak ada salahnya ketua OSIS melakukan kesalahan, emang kenapa kalo kelihatan buruk sedikit saja?”
“Aku beda sama kamu!” sembur Mikaila tanpa berhenti. “Aku sama Dela saudara sepupu! Sedikit aja kejelekan yang aku lakukan itu berimbas sama keluargaku.”
Astaga... Tegar menahan tangan Mikaila lalu menahannya di tembok, seperti biasa, cowok itu akan menjadi seseorang yang tertarik pada masalah pacarnya. “Aku bakal bantu kamu, asal kamu tidak marah-marah terus.”
“Kamu apa-apain sih, Gar. Iuhh... Kita gak betul-betul pacaran, ngerti kan?”
“Aku ngerti tapi kita bisa memperbaikinya!”
Mikaila memejamkan mata. “Aku cuma mau nyetir kamu sampai masa jabatanku selesai. Aku jujur aku gak suka sama kamu, apalagi cinta. Aku cuma mau menjaminmu demi diriku sendiri!” ucapnya menyesal.
“Well.” Tegar tersenyum. Tidak kecewa atas kejujuran Mikaila yang teramat gamblang dan terlihat jelas dari caranya melobinya selama ini. Dia mengerti persoalan itu jauh sebelum si gadis yang berbeda menurut penilaiannya. Si berani yang bisa mengimbanginya bercerita. Sungguh rasanya sempurna pengusiran ayahnya sekarang. Ada Mikaila yang membuatnya semangat bersekolah alih-alih bolos dan membuat ibunya memarahinya siang-malam.
“Aku ngerti, makanya aku ikutin permainanmu sampai aku sadar, kamu cocok jadi pacarku. Sekarang...” Tegar menyingkirkan helai rambut yang menutupi telinga Mikaila ke belakang.
__ADS_1
“Dengar baik-baik sayang, kita masih punya jadwal dinner bareng, jalan sama Dinda, Pramuka lalu menganalis perkembangan kodok-kodok kita di rumahku. Mau yang mana dulu? Dinner? Nanti malam?”
Mikaila merinding mendengar bisikan Tegar. Ini di sekolah lho kok dia berani ngajak mojok-mojok sih. Lututnya lemas, tidak ada anggukan, tidak ada tanggapan, tak ada apa pun. Dia jatuh terperangkap dalam perbuatannya sendiri yang ia sadari.
Tegar tersenyum sekali lagi sebelum menegakkan tubuh karena suara gaduh yang terjadi dari ujung jalan sempit. “Jangan anggap sepele perasaan orang ya, nona. Aku akan membantumu menangani Drew, tapi kamu tangani aku!”
Mikaila mengerjapkan mata setelah kecupan sangat cepat Tegar berikan sebelum Daffa menyatroni mereka berdua dengan muka panik.
“Kalian di cari Bu Weni, Dela udah menyebarkan seluruh rahasia pestaku!”
Mikaila spontan mengigit bibirnya, sudah jatuh ketimpa bibir? Lagian apa yang ia harapkan dari anak geng kalo bukan masalah?
Tegar mendorong Mikaila dengan lembut untuk keluar dari jalan sempit yang tembus ke koridor samping perpustakaan tepat di pojokan gedung sekolah.
“Aku bisa tangani sendiri.” ucap Mikaila serak, dia sedang emosional.
“Gak usah ngaco! Dela sama Mira bakal jadi target The Evolve Wild, mereka sekongkol dengan horizon blast!”
“Kalian ini sebenarnya temanku apa musuhku sih?”
Keduanya menyunggingkan senyum. “Tergantung kondisinya!” ucap Daffa. “Tapi sekarang kita teman kok. Yuk masuk, aku bisa jadi saksi siapa aja yang tium-tiuman kemarin.”
Gak percaya! Mikaila mendengus, dan betul saja mereka berdua langsung di bawa ke ruang BK ketika batang hidungnya terlihat oleh Bu Weni.
“Apa benar yang ibu dengar?”
“Maaf Bu, memangnya apa yang ibu dengar?” seloroh Mikaila.
“Kalian ciuman?” Bu Weni menguncupkan kesepuluh jemarinya dan menempelkannya.
Mikaila tersenyum. Ayo, Mik. Ayo, Mik. Jadi leader lagi! ucapnya menyemangati dalam hati.
“Ya benar sih, Bu. Tegar cium aku. Cuma apa ibu percaya, cewek secantik Mikaila Dannies mau di cium cowok begundal ini? Bu Weni tau reputasi aku kan? Aku pemilih!”
__ADS_1
Tegar menahan senyum. Udah dua kali, Mik. tapi silahkan saja bersenang-senang dengan reputasimu yang sempurna itu. Gue maklum.
Bu Weni menatap tajam ke arah Tegar, murid baru yang awalnya dia puja-puja, sekarang, ekspresi Bu Weni tampak tidak percaya. Si anak cerdas ini begitu membahayakan.
“Sebenernya ibu tidak percaya, Mik. Tapi banyak saksinya.”
“Ooohya?” sahut Mikaila antusias. “Boleh Mika tahu, Bu? Siapa tahu saksinya juga melakukan hal-hal di luar nalar. Saya tahu lho... Ketua OSIS pantang bohong!” ucapnya menegaskan.
Bu Weni menarik napas dan menghelanya. “Gini ya, Mikaila, Tegar, kalian sudah kelas tiga. Masalah yang kalian timbulkan baru saja tenang, jangan bikin suasana sekolah panas lagi. Toleransi nol untuk perbuatan asusila! Mengerti?”
“Jadi Bu Weni percaya gak kita ciuman?” tanya Mikaila heran.
“Setelah ibu-ibu pikir, tidak. Kamu cukup bijak ketimbang Dela, tapi Dela juga tidak bisa ibu salahkan karena menuduhmu yang tidak-tidak. Kalian berdua pacaran?” Bu Weni menyipit matanya.
Mikaila melirik Tegar yang hanya menjadi penonton. “Saya rasa iya, Bu. Cuma aku gak masuk geng The Evolve Wild kok, aku bersih.”
“Bagus! Kamu contoh Mikaila, buat Tegar ke jalan yang benar. Biar orang tuanya bangga.”
Spontan Tegar mengepalkan tangannya. Langsung teringat Harris dan kelakuannya.
“Saya permisi ke kelas, Bu!” Izin Tegar seraya berlalu. Tak lama Mikaila menyusul.
“Hei, my bad boy boy friend.” seru Mikaila.
Tegar menoleh di anak tangga. “Apaan?” tanyanya ketus.
“Kayaknya gak ada salahnya kita coba hal-hal baru dan aneh. Menurutmu itu bakal menyenangkan?” Mikaila tersenyum, mencoba mengalihkan perasaan Tegar yang kalut atas labirin keluarganya.
Tegar menyimpulkan itu hanya tawaran singkat, tapi Mikaila slalu memerankan diri sebagai si tukang sesuka hati. Mau diakui atau tidak, tapi gadis itu melakukannya. Tegar mengiyakan lepas mereka menyusuri koridor sekolah.
“Kita mulai dari membuka diri di dinner nanti malam. Aku jemput lebih awal.”
...***...
__ADS_1