
Tegar meletakkan tubuhnya di atas rumput kering seraya duduk memeluk lutut dan memandangi lapisan-lapisan dedaunan yang menebus langit sementara disekelilingnya suasana jurit malam akan segera dilaksanakan.
Bokap lagi apa ya. Apa dia bakal marah tahu gue ikut geng motor di sini? Apa dia bakal ingat gue, nyokap, dan Dinda waktu dia udah sukses? Apa selamanya hidup gue hanya akan mengais-ngais kenangan indah bersamamu? Apa gue sepenuhnya akan jadi penggantimu buat Dinda? Apa mama akan terus menderita karnamu?
Rahang Tegar mengeras dengan pelupuk mata yang lelah berair hingga Daffa menunjukkan keheranan yang tidak bisa di sembunyikan.
“Jurit malam emang nyebelin, materi setiap tahun sama. Slalu menyentuh hati. Hubungan anak dan ortu. Habis itu di suruh keliling dari pos ke pos. Gak bisa jawab pertanyaan, di hukum! Parah tapi seru. Kamu harus cobain, Gar. Pramuka di sini sama Jakarta beda!” hibur Daffa, ia yakin Tegar rindu pada ayahnya karena hanya satu kelemahan jagoan itu. Mengingatnya dengan rindu yang berkumpul, bukan kemarahan yang menggelegak.
Tegar menyunggingkan senyum. “Gak ada Lo mungkin gue gak bisa beradaptasi di sini dengan santai, Daff. Thanks.” Tegar menepuk-nepuk punggungnya. “Gak ada yang lebih seru, kecuali tadi siang.”
“Tapi Wicak demam, Bray. Kalo besok pagi gak membaik dia balik ke kota, di bersih-bersihin badannya biar gak ketempelan terus. Kemungkinan besar, kita juga di awasi mereka-mereka yang gak kelihatan!” bisik Daffa takut. Takut ada yang dengar, padahal siapa tahu ya kan di belakang mereka ada yang dengar. Nguping gitu, dan Tegar merinding seketika.
Dia beranjak, menyita perhatian Mikaila dan pembina pramuka saat pindah ke barisan paling depan. Tegar bersila lalu sengaja tersenyum, sekejap Daffa menyusul.
“Ada apa kalian pindah tempat?” tanya Deni. “Gak dengar harus diam di tempat?”
“Daffa ngomong yang nggak-nggak, kak. Saya takut.”
Mikaila dan Daffa spontan mencebikkan bibir. “Jagoan kok penakut.” cibir Drew. “Aku lho pemberani sampai teman-temanku ke toilet minta di temenin!”
Daffa memutar mata. Lagaknya aja mirip superhero, padahal itu cuma siasatnya untuk bisa meminta ditemani balik.
Jangan cari masalah, jangan cari masalah. Jadi anak teladan beberapa hari aja!
“Mendadak aku merinding disko kak, boleh dong di sini daripada aku kenapa-kenapa, nanti mama khawatir.” aku Daffa, berlagak innocent dengan memberi senyum anak mamanya.
Deni terpaksa mengiyakan. Buang-buang waktu pikirnya mengurus Daffa cs, geng itu sudah terkenal suka cari perhatian, bikin masalah dan perusak suasana.
“Kita lanjut ke acara selanjutnya. Apa semua sudah siap?”
“Siap kak!” seru Daffa semangat. Sementara Tegar memilih menatap Mikaila, menunggu kedipan matanya seperti yang di janjikan. Tapi mata pacarnya tidak berkedip-kedip, mata Mikaila menyorot tajam.
Tegar yakin ceweknya sedang marah, khawatir dan lelah bahkan mungkin depresi, sementara ia tidak bisa membantu banyak padahal janjinya ia akan membantunya mengurus kawan-kawannya.
__ADS_1
“Maaf.” gumamnya.
Mikaila membuang tatapannya ke sembarang arah.
Apa kamu gak ngerti, susah buat gak lihat kamu sehari aja. Tapi kamu pinter banget bikin aku marah!
Peluit berbunyi, semua siswa di minta memakai bandana sebagai penutup mata. Hanya satu orang per kelompok yang menjadi pemandu mereka untuk melewati pos ke pos.
Sebagai murid baru Tegar jelas menjadi pengikut, dia memegang bahu Daffa, bahunya di pegang teman sekelasnya. Ketika semua sudah siap. Lampu yang sejak tadi di padamkan di nyalakan kembali. Meski masih remang-remang, tiada yang peduli, semua terasa gelap bagi yang memakai bandana.
Mikaila menegakan dagunya lalu mendekat ke Tegar karena Dela dipastikan tidak akan melihatnya sementara untuk guru-guru itu urusan gampang.
Daffa meringis saat Mikaila menyentuh pundak tangan pacarnya seraya mengelusnya pelan.
“Lo ngapain, Daff! Jijik gue...” Tegar menarik tangannya seraya menyembunyikannya di saku celana. “Amit-amit ngelus-elus gue! Sadar Lo. Sialan!”
“Mikaila yang ngelus-elus! Bukan aku!” gumam Daffa mangkel. Bisa-bisanya Tegar menganggapnya begitu, menyiksa sekali. Kurang ajar!
Tegar mengeluarkan tangannya, berusaha menggapai Mikaila. Sayangnya pacarnya sudah menjauh. Semeter darinya.
“Iket bandana kalian lebih baik! Jangan berusaha ngintip.” seru Mikaila berapi-api. “Lampu masih padam, perhatikan langkah baik-baik, ikuti instruksi dari pembina. Yang mau curang ada tambahan pos! Cari satu nama di pemakaman warga.”
Tegar meneguk ludahnya. Betul kata Daffa, Pramuka di sini berbeda. Suasana alam dan ancaman pacarnya mendukungnya untuk dukding-duduk merinding-daripada berbuat masalah.
Tegar mengeluh. Sadar tak berani curang, bahunya merosot. Ia merindukan ceweknya dan bibir lembutnya yang wangi dalam keadaan semi terbuka yang memberi setengah privasi.
“Aku mau lihat matamu. Tapi gelap. Maaf. Apa ini yang dimaksud dark road, loving you?”
Mikaila menaruh tangan Tegar di bahu Daffa. Bukan itu maksudnya, bukan jalan gelap, mencintaimu. Tapi perjalanan yang di paksa menjadi gelap saat berusaha mencintai.
“Yang serius, ada Wicak yang udah kamu korbankan!”
Tegar iya-iya dengan anggukan. Hidungnya menghidu aroma wewangian dari rambut Mikaila saat gadis itu mengibaskan ke arahnya.
__ADS_1
Kok gue bisa suka sama cewek galak kayak dia ya, gak ngebayangin gue kalo berantem. Bukannya diam-diaman tapi adu tinju. Tapi bagus, jadi kalo ketemu Brittany, dia punya cara sendiri untuk menghadapi!
Instruksi terdengar, masing-masing dari pemandu kelompok mulai melangkah sambil menahan tawa sebab manipulasi intrupsi yang diberikan terasa di lebih-lebihkan. Super hiperbola. Dari yang ada gundukan tanah, menyeberangi sungai kecil, ular lewat, kecoa terbang, alien mampir, pak guru duduk, merangkak di atas tanah, menggapai bintang dan semuanya menimbulkan jeritan-jeritan ketakutan dan umpatan kesal.
Mikaila berdiri di belakang pos dua sambil menahan tawa. “Tegar-tegar, balapan jagoan, giliran sekarang nyali ciut.”
Kelompok Garuda yang dikomandani Daffa berhenti di pos dua. Tegar membuka bandananya. Ia mengerjapkan mata. Sosok Mikaila masih sama, judes, berbeda dengan sentuhannya tadi yang lembut mendayu-dayu.
“Babe...”
Mikaila membuka secuil kertas berisi pertanyaan yang dia ambil di wadah kecil tanpa mempedulikan pacarnya.
“Siapa bapak UFO Indonesia?” tanyanya tak acuh.
“Ya kali, Mik. Pertanyaan pertama susah di jawab!” sembur Daffa jengkel.
“Gak bisa? Ayo mikir dulu, kalo gak kalian makan burger isi kopi dan saos. Waktu lima menit! Capsus...” Mikaila menghidupkan stop watch.
Kelompok Garuda itu berdiskusi, susah-payah menerka-nerka siapa pionir yang menjadi bapak UFO Indonesia. Sekejap berdebat, mereka putus asa.
“Nyerah!” tandas Daffa.
“Jacob Salatun!” Mikaila menyodorkan satu burger hukuman, burger itu di bagi menjadi tujuh bagian.
Tegar mengamati Mikaila di tengah keriuhan yang sedang berlangsung di pos-pos yang lain.
“Kamu yakin aku harus makan ini?”
“Ya iyalah!”
“Padahal aku sayang kamu!” Tegar melempar secuil burger yang sangat tidak nyaman di lidah itu dan menelannya bulat-bulat hingga nyaris mengeluarkannya lagi keluar mulut.
Semua nyaris muntah-muntah.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung ^^^