
Keesokan paginya. Jakarta hujan dan tersiar kabar bahwa beberapa ruas jalan di ibukota terendam air.
Tegar memasukkan barang-barang keluarganya ke dalam mobil. Selesai berkemas. Ia duduk termenung, menanti kehadiran Harris sebelum berpisah.
Detik bergulir waktu terbuang. Tegar mengamatinya jam tangannya. Sudah sejam ia menunggu.
Kayaknya papa ingkar janji.
Tegar menundukkan kepala. Kecewa. Masih belum terima lagi dan lagi ayahnya mengkhianati kesepakatan bersama yang mereka bicarakan semalam.
Ternyata gue gampang diperdaya janjinya. Ternyata gue gampang percaya dengan papa. Padahal udah sering papa bohong!
Tegar menarik napas dalam-dalam sambil mencengkeram tulang keringnya.
Di dalam rumah, Shinta tersenyum sembari menggelengkan kepala. Hal yang mudah untuk mengerti anaknya sedang menunggu ayahnya. Sejak kecil sudah ratusan kali anak itu melakukannya di teras rumah.
“Gak usah di tunggu.” ucap Shinta sembari duduk di sampingnya. “Papa gak akan datang, ibu Mike sakit, gejala serangan jantung.”
“Sejam doang apa susahnya.” Tegar memalingkan wajah saat ibunya hendak menatapnya. “Mama gak usah gitu.”
“Kamu kenapa sih galau banget. Papa marahin kamu? Mika ngambek?” tukas Shinta heran. Shinta tidak tahu perihal semalam. Geng anak-anak pintar itu menyembunyikan agenda bromance bapak dan anak itu dengan mengaku habis nongkrong di kafe.
Tegar menarik napas, Shinta bukan ibu yang mudah menyerah untuk mengulik kondisi anaknya. Dan ia tidak mungkin beranjak dari teras jika belum menjawab rasa penasaran ibunya.
“Tadi malam kita riding bareng! Papa janji bakal datang.”
“Oalah.” Shinta mengelus punggungnya. “Kita samperin ke rumahnya aja. Biar puas itu Naufal sama Baskara kamu pulang ke tempat seharusnya kita ada.”
“Ma...” sahut Tegar dengan suara bergetar. “Apa mama terima kita begini-begini saja?”
“Memang apa yang harus mama cari lagi, Gar? Kesetiaan? Cinta? Kebersamaan? Tidak mungkin!” Shinta geleng-geleng kepala.
“Mama sudah mengambil risiko dengan menjadi istri kedua. Maafkan mama tidak bisa memenuhi kebutuhanmu memiliki keluarga utuh. Mama yang salah, Gar.”
Tegar menggeleng cepat. Tidak ingin membiarkan ibunya menyalahkan dirinya sendiri. Ibunya sudah mendapatkan balasan setimpal dari perlakuan buruknya selama ini.
“Mama gak salah!” katanya lembut. Dalam hati ia bersumpah akan berusaha mengerti kondisi asli keluarganya kelak. “Kita ke rumah papa dan semua bakal baik-baik saja karena bukan hanya kita yang menderita!”
Shinta terkekeh seraya memeluk anaknya. Perasaan bangga menghangatkan dadanya.
__ADS_1
“Berasa adil ya sakitnya? Berasa harus di bagi rata?” katanya sambil mendongak.
Tegar menatap guyuran hujan yang mereda. “Luka milik bersama.”
Shinta menggeleng. “Pada saatnya ketika kamu sudah dewasa dan ayahmu menua, ayahmu akan memilih rumah mana yang akan dia pilih untuk menjadi rumah ternyaman dan menerimanya dan rumah itu adalah anak-anaknya. Bisa jadi kamu.” Shinta menangkup kedua pipi Tegar. Dia tersenyum.
“Jangan terlalu membenci ayahmu. Bagaimanapun dia ayahmu.”
Sepasang mata Tegar menghangat. Dia menangis untuk pertama kalinya di depan ibunya meski bibirnya tersenyum. Shinta mengusap kepala belakang Tegar seraya mengerakkan badannya seolah sedang menimang-nimang Tegar kecil.
“That's ok. Hapus air matamu.”
Tegar menegakkan tubuhnya setelah Shinta menepuk pundaknya.
“Harus jadi kakak dan anak yang hebat ya kamu. Ada dua wanita yang perlu kamu jaga.”
“Berat banget. Terus Tegar siapa yang jaga, Ma?”
Shinta menyeringai. “Tuh... Teman-teman kamu dan mamanya.”
Tegar menoleh ke belakang. Mikaila, Sera, Daffa, Wicak dan mama Daffa menyunggingkan senyum.
Calon mama mertua gue pasti bakal habis-habisan ngeledek gue besok. Anaknya juga. Apalagi sahabat gue juga. Apes!
Mikaila mendatanginya seraya meraih tangannya. “Bangun boy, perjalanan masih panjang. Diam-diam aja mana bisa sampe tujuan!” Mikaila menariknya sampai Tegar tak berdaya dengan tuntutan ceweknya. Dia berdiri sambil menahan senyum.
“Lo jangan bilang siapa-siapa tentang hari ini.” ancamnya seraya mengusap wajah.
Sera terkekeh lalu berputar. “Detektif kocar-kacir ternyata hatinya melodrama. Kasian” Dia berdecak lalu mengangkat tas ranselnya.
“Pulang yuk. Kita sambut tahun baru dengan harapan yang lebih realistis.”
Mikaila mengulurkan tangannya. “Ayo. Aku ajak ke tempat yang aku ingin. Bukan di sini seandainya itu menyakitimu.”
Tegar menggenggamnya sebelum mereka pergi ke rumah Harris. Di sana mereka hanya di terima di teras rumah.
Tegar membuang muka saat Harris keluar bersama Naufal dan Baskara. Pemuda itu tidak berminat melihat ayahnya dengan baik.
“Dinda, pamit dulu sama papa.” ucap Shinta.
__ADS_1
Dinda mencebikkan bibir. Bocah itu ngambek karena ayahnya tidak mengajaknya singgah di rumah megah itu dan tidak bisa bermain dengannya seperti biasa. Dinda mendekat, dia mencium punggung tangan Harris. “Papa sibuk terus, gak asik. Jadi Dinda mau pulang aja. Di sana aku punya banyak teman!”
Harris mengelus kepalanya penuh sayang seraya berlutut. Dia menatap gadis kecilnya sambil tersenyum. Senyuman yang tidak akan mengubah segalanya.
“Maafin papa. Papa janji, papa bakal datang ke rumah Dinda di Solo.”
“Bukan rumah Dinda, Papa. Tapi rumah mama. Dinda gak punya duit buat beli rumah sendiri tau.” celetuk Dinda.
Harris tersenyum mana kala putrinya tetap kritis. “Sekarang papa harus apa biar Dinda tidak cemberut? Dinda mau jalan sebentar?”
Tegar memutar mata. Ribet banget sih pamitannya. Makin lama di sini, makin sesak napas gue.
Mikaila mengusap punggungnya, suatu respon yang langsung terjadi jika ia tahu pacarnya sedang berkeluh kesah.
“Gak mau tegur sapa dulu bentar?” tanya Mikaila. “Hari terakhir lho—”
“Males.” Tegar memilih mengajak Mikaila ke kursi taman sementara Dinda pergi bersama Harris dan ibunya ke swalayan menggunakan motor gede.
Tegar mengeluarkan rokoknya. Dua mama di sana spontan berkacak pinggang lalu menyingkirkan dari anak geng. Membentuk geng sendiri yang membahas dunia ibu-ibu.
“Gue berharap bokap punya jalan keluar yang lebih solid daripada punya istri dua tapi sengsara.”
“Sabar.” Mikaila memindahkan tatapannya ke Naufal yang menghampirinya.
“Lo semua harus jaga rahasia yang ada di sini. Kalo sampai ada yang tahu bokap punya skandal besar, kalian pelakunya!”
Tegar bungkam dan tetap asik merokok.
Mikaila tersenyum. “Kita tau kok, mana mungkin kita menghancurkan keluarga teman. Jadi Lo tenang aja deh dan gak usah anggap kita ulat bulu segala. Takut amat deket-deket!”
Daffa tergelak. “Takut gatel, Mik. Maklum beda level. Dia takut.”
Naufal membuang napas dengan kasar seraya berbalik.
Tegar tersenyum datar. Dan bahkan ketika ayahnya datang, rencana pulang tetap jalan. Tegar berdiri di belakang ibunya, memberikan keduanya berpamitan. Sementara itu, diam adalah emas. Tegar pergi setelah secuil hati ayahnya remuk redam.
...***...
^^^Bersambung^^^
__ADS_1