Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 85 : Goals


__ADS_3

Mikaila merasakan lengan kukuh Tegar memeluknya dari belakang dengan wajah yang terbenam di ceruk lehernya sewaktu kesadarannya dari malam panjang penuh komedi keesokan paginya.


Mikaila mengerjapkan mata, tidak ada respon lain mengenai tingkah suaminya sehingga ia membiarkan tubuhnya yang ramping bernapas dalam rengkuhan Tegar. Tapi waktu yang terus bergulir terlalu lama membuat badannya gerah.


Mikaila berdecak sambil menggerakkan punggungnya, “Gar... bangun.”


Tegar semakin mengeratkan rengkuhannya. Sejauh Mikaila terjaga, dia lebih dulu sadar untuk menikmati suasana ranjang pengantin dengan gadis kebahagiaannya. “Aku sudah bangun.” Suaranya yang serak mengisi gendang telinga Mikaila hingga sekujur tubuhnya merinding.


“Bangun dari mana, kamu daritadi beku.” omel Mikaila.


Tegar menggerakkan pinggulnya membuat Mikaila mendelik saat kumpulan hasrat Tegar yang tersembunyi terasa di tubuhnya.


“See, babe?” Tegar mengecup kepala belakang Mikaila... “Pejamkan matamu dan rasakan aku.”


Mikaila mencengkeram jemari tangan Tegar yang memeluknya ketika matanya terpejam dan Tegar mengerakkan pinggulnya lebih intens.


Tegar menelan ludah, ini sudah lebih jauh dari kejadian semalam setelah perang bantal dan perang lidah tanpa menghasilkan percintaan yang membara. Hanya percakapan hangat seputar pernikahan mereka sembari tidur-tiduran.


Tegar memejamkan mata, begitu banyak hasrat-hasrat yang ingin dia nikmati dan ia sudah tidak tahan.


“Bolehkah pagi ini menjadi penyatuan lengkap ketos dan bad boy, Mika?” Tegar berbisik.


Mikaila mengigit bibir bawahnya seraya mengangguk pelan. Udahlah pasrah aja, ntar kalo sakit tinggal di cakar dan di cubit aja Tegar!


Tegar mematikan lampu meja seraya menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka ke lantai.


Mikaila yang memakai kaos dan boxer-nya membuat Tegar memudahkannya melepas dua kain yang menutupi keindahan yang selama ini tertutupi oleh kecantikannya sebagai gadis baik-baik.


“So beautiful and incredible.” puji Tegar setelah boxer-nya melewati kedua kaki Mikaila yang mengatup rapat.


Tegar berdecak kagum saat melihat sebentuk tubuh putih polos yang meringkuk malu di atas ranjang dengan mata terpejam. Rasa takjub dan rasa sayangnya bercampur dengan gairah.


Tegar melepas pakaiannya, seraya mencumbu kulitnya meski ketakutan dan kegugupan merajahnya tanpa henti. Mikaila membiarkan segalanya yang dia miliki dan ia merasakannya dengan segala indranya.


Tegar menurunkan tubuhnya sekali lagi, memposisikan dirinya sebelum mengerahkan keberaniannya yang canggung untuk mengawali rasa penasarannya.


Mikaila memejamkan mata, tak kuat, dia menabok punggung Tegar dan mencengkeramnya dengan kuku palsunya sebelum memekik sakit saat desakan semakin banyak di tubuhnya.


Tegar membungkam bibir Mikaila, keduanya menelan kesakitan yang sama perihnya dalam tarian percintaan yang akan mereka kenali dan lakukan di kemudian hari setelah semuanya selesai.

__ADS_1


Tidak ada kedamaian di wajah mereka, hanya peluh dan dada yang kembang kempis untuk menghirup napas sebaik mungkin ke paru-paru mereka.


“Gue gak tau akan sedahsyat ini rasanya, babe. Tapi aku berada di tempat yang tepat seharusnya aku berada, bersamamu, milikmu. Milikku, seutuhnya.”


“Gombal!” sahut Mikaila, dia memunggungi Tegar ketika pria itu kembali melekatkan diri padanya. Setitik air matanya jatuh ke bantal ketika seluruh badannya mulai berasa remuk.


Sakit sekali bestie. Kurang ajar emang Tegar ini. Udah dari kemarin aku bilang pelan-pelan mas Tegar, dia malah ngebut.


Tegar mengecup tulang belikat istrinya. “Aku butuh obat merah, babe. Perih punggungku.”


Mikaila memutar matanya yang berkabut.


“Ya udah beli, sekalian minta orang rumah nganter bajuku.” katanya serak.


Tegar yang sanggup memahami suara Mikaila yang mengisyaratkan kesedihan melongok ke arah wajahnya.


“Nangis?”


“Kalo sakit emangnya gak boleh nangis? Emang aku harus gimana sekarang? Diam aja gitu, apa ketawa-ketawa?” katanya dongkol.


Tegar membalikkan tubuh Mikaila dengan sedikit paksaan agar istrinya menghadapnya.


“Ucapan gue berasa angin lalu ya. Gue bohong, gue gak bisa mengendalikan diri saat melihatmu begitu sempurna hari ini. Maaf.”


Mikaila mencebikkan bibir sambil mengangguk. Mau marah tapi gimana lagi.


“Kalo belum sembuh jangan lagi ya, aku tambah takut setelah kamu tau rasanya, kamu pasti makin candu sama aku. Kamu makin brutal.”


Tegar menyunggingkan senyum lalu mengigit ujung jari telunjuk Mikaila dengan lembut, menggodanya.


“Kamu memang mengerti aku Mikaila.”


Wajah Mikaila langsung tertekuk saat Tegar memintanya untuk memahaminya nanti jika hasrat-hasrat terpendamnya terjadi.


“Coba kamu lihat mahakaryamu di punggungku, babe.” Tegar duduk, keringat yang menyentuh lukanya terasa perih, tapi sebagai pria yang telah melepas masa perjakanya, gagah adalah hal wajib.


Mikaila mengusir kabut di sorot matanya dengan mengerjapkan mata berulang kali. Tangannya terjulur menyentuh hasil mahakaryanya, ada luka cakaran di kulit kedua tulang belikat Tegar. Merah dan berdarah. Seperti cakaran kucing, you know?


“Satu sama.” Mikaila meringis, tapi tetap upaya Tegar untuk memperlihatkan keadaannya yang sama-sama babak belur tidak mengubah keadaan Mikaila. Ia tetap malas beranjak dari ranjang sementara Tegar agaknya tetap semangat melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


Tegar berdiri, membuka tirai jendela seraya menghubungi layanan kamar untuk memesan sarapan mereka dan menghubungi ibunya yang tidur di kamar sebelah.


“Mama bakal datang sebentar lagi, mau pesan apa biar sekalian di cariin?” tanya Tegar, masih memainkan ponselnya sebelum memfoto ranjang dan penghuninya yang sudah ia selimuti.


Goals ❤️‍🔥


Daffa, Wicak, Sarina dan Melody yang berada di satu grup chat sahabat terbahak alih-alih cemburu.


Next generation on progesterone, anjay. 🤣 - Daffa.


Otw punya bayi - Sarina.


Enak-enak, bagi resep, Gar! - Wicak.


🥰 - Melody.


Tegar langsung kepikiran dengan ungkapan Sarina. Dia menaruh ponselnya di meja sebelum membuka selimut tepat di wajah Mikaila.


“Babe, apa kamu siap punya bayi?”


“Kamu sendiri siap gak?”


“I don't know, but... aku memberimu banyak kehangatan tadi.”


Mikaila memejamkan mata seraya mengepalkan kedua tangannya. “Aku siap asal kamu siap karena... gak mungkin kan anak kita merasakan hal yang sama seperti kita? Fatherless, terkekang?” Mikaila menangkup sebelah pipi Tegar sambil tersenyum.


“Kamu harus siap ada untuk anak kita, setidaknya saat dia golden age. Waktu-waktu terbaik untuk tumbuh dan berkembang. Kamu siap?”


Tegar meraih tangan Mikaila dari pipinya seraya mengecupnya. “Jika slalu ada kamu aku siap!” rayunya setengah cengengesan. “Soalnya kalo ada mama semua aman!”


“Gar.., aku serius! Pengalaman kita harusnya bisa jadi pelajaran untuk kita sendiri. Plis... di tengah kesibukanmu sempatkan family time setiap hari, walaupun sebentar.”


Tegar mencondongkan tubuh, mencium kening Mikaila. “Udah berasa terkekang aku, Mik. Anak-anak kita nanti pasti sama.” selorohnya sambil memungut kausnya di lantai.


Mikaila memanyunkan bibirnya. “Ya udah, aku ngambek.”


“Gue persilakan, babe.” Tegar bersiul seraya mengenakan kausnya dan membuka pintu kamar. “Ma...”


“Semua baik-baik saja?” seru Shinta dengan mata jelalatan ke dalam kamar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2