
Tegar memberikan senyumnya sambil mengusap puncak kepala Mikaila di ujung pertemuan mereka malam itu.
“Masuk gih, gue mau cabut ke rumah Daffa.”
“Ke rumah Daffa doang? Gak ke mana-mana lagi kan?” tukas Mikaila. Kedua alisnya mendekat, menandakan bahwa gadis itu tidak menyukai apa yang akan Tegar lakukan.
Tegar tersenyum simpul, mengerti maksud Mikaila. Dia khawatir aku macam-macam, buibu.
“Rumah Daffa emang lagi banyak anggota Evolventador, tapi aku macam-macamnya sama kamu doang kok. Sumpah, babe. Masuk sana!” usirnya dengan lembut.
Bahu Mikaila merosot, matanya terasa lelah dan perih setelah di terpa angin malam. Namun benaknya yang ingin sekali menempel terus pada Tegar membuatnya cemberut dan Tegar tertawa menyindir seraya menyingkirkan tangan Mikaila yang memegangi jaketnya.
“Gue panggil Tante Sera deh kalo kamu mau sama aku sampe besok pagi!”
“Jangan...” sahut Mikaila cepat seraya menggeleng. “Aku cuma mau lihat kamu kok!” akunya setengah manja.
Akhirnya Tegar memilih membuka helmnya lalu turun dari motor. Dia memeluk Mikaila tanpa sempat membiarkan gadis itu membuka suara.
“Besok 24 jam Lo bisa sama gue, Lo puas-puasin deh, sekarang waktunya Lo istirahat.”
Mikaila memutar bola mata. “Kok kedengarannya jadi aku sih yang nafsu sama kamu?” ucapnya seraya menjauhkan tubuh.
Tegar nyengir. “Karena Lo yang kelihatan mau sama gue sekarang, mau banget malah, kenapa? Gak rela di pingit setelah hari ini?”
Menengadahkan kepala, Mikaila memberikan tatapan sendunya. “Setelah ketemu kamu lagi, aku kurang paham kenapa empat tahun LDR yang terasa berat lebih gampang aku jalaninya daripada dua bulan lagi.”
“Cause you love me!” Tegar memegangi dagu Mikaila seraya mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman dahsyat untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Tegar tersenyum setelah bibir mereka terlepas dan keduanya mengisi paru-paru dengan udara dini hari. Dingin seakan pergi dari tubuh keduanya saat Mikaila memilih memeluknya sembari mengatur napas.
Tegar mengusap rambutnya setelah mata tajam Sera menghujamnya dari balik jendela rumah.
“Mama udah nunggu kamu tuh, dan gue harus kabur!” Tegar mendesis tajam saat kuku Mikaila mencap di kulit perutnya. Dan alih-alih kabur beneran sebelum Sera memarahinya, dia melihat kuku-kuku Mikaila yang panjang dan berwarna peach.
“Besok sebelum nikah dipotong aja ini, babe. Kukumu akan melukaiku!”
Mikaila menarik tangannya seraya menggampar lengan Tegar. Enak aja potong kuku. “Melukai gimana?”
“Kamu cakar-cakar punggung gue.”
Mikaila mendesis seraya menggampar lengannya lagi. “Pikiranmu ke mana-mana, ih ih, apa jangan-jangan kamu sering nonton film parno terus mikir gitu juga?” tukasnya berang.
Tegar terdiam sambil mengelus lengannya yang ngilu. “Lo kemarin gak terima gue nuduh Lo selingkuh sama Ares, sekarang gue gak terima Lo nuduh gue nonton film parno! Gue ngambek, enak aja. Gue bayanginnya Lo, tubuh Lo dan physical touching yang sering Lo lakuin ke gue kalo lagi kesal!”
Tegar memakai helmnya seraya naik ke motor. Dia menatap Mikaila yang terperangah dengan kata-katanya. Tegar menyeringai.
“Ma, mama... Mama dulu malam pertamanya gimana?” tanya Mikaila setelah bertemu ibunya di dalam rumah.
Sera dan Adnito saling menatap lalu menaikan bahu. “Emang kenapa, Nak?”
“Tegar nyuruh aku potong kuku biar besok aku gak cakar-cakar punggungnya. Kan harusnya cantik kukuku bagus waktu nikah.”
Adnito menggeram nama Tegar di batinnya meski wajahnya terkesan biasa saja.
Anak itu sudah mempersiapkan diri, anakku masih sepolos ini.
__ADS_1
Adnito menggaruk lehernya, bagian dari kebingungannya menjawab dan Sera mengambil alih tanggung jawab suaminya.
“Turuti aja kemauan Tegar, kalo perlu minta dia yang potongin kukumu setelah nikah. Masalah selesai! Kukumu tetap cantik, punggung Tegar aman. Ya kan, Pa?”
Adnito memberikan jempolnya. Mikaila mendengus dan tetap bergeming di antara mereka.
“Kenapa lagi?” tanya Sera. “Tegar bilang apa sama kamu?”
“Aku di suruh membayangkan malam pertama versiku sendiri.” seru gadis itu seraya berbalik, malu, gadis itu masuk ke kamar. Menutup wajahnya dengan bantal.
Sera dan Adnito langsung menepuk kening, “Tegar kayaknya bakal ngasih pengalaman yang tidak terlupakan nanti, Pa.” gumam Sera.
Hati kecil Adnito ingin tertawa, memang begitulah pria, Tegar tidak salah, godaan menggoda macam itu sudah ada sejak lama, tapi nalurinya sebagai seorang bapak memang perlu mencampuri urusan putrinya sebentar.
“Begitu nikah, kamu menjadi tanggung jawabnya, dan sepatutnya memang kamu perlu menurutinya, Mika. Tegar anak baik, ya emang nakal sedikit, dan itu wajar. Kalo papa bilang normal lah.”
“Tapi dia itu napsuan, Pa.”
“Emang kamu enggak? Mama bilang kalian habis ciuman?”
“Ya... Terbawa suasana.” aku Mikaila seraya menutup wajahnya lagi.
“Habis nikah nanti juga akan terbawa suasana. Enjoy your marriage, Nak. Semua di pikiranmu sekarang pasti terjadi kok. Tergantung kamu bisa mengontrol atau tidak.”
Setelah Mikaila tenang, dia membalikkan badan. Menatap ayahnya. “Kalo Tegar hangover?”
“Malam pertama pasti begitu.”
__ADS_1
Dan Mikaila tidak bisa tidur saking banyaknya stresor yang hinggap di kepalanya sampai menjelang pagi.
...***...