Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 33 : Saingan, Iya...


__ADS_3

Seminggu kemudian partner Ketos dan Si jagoan itu selesai melakukan penilaian tengah semester tanpa beban sama sekali. Si jagoan pun hanya mendapat peringatan keras dari Pak Rama untuk tidak membuat sekolah menanggung malu. Surat peringatan juga mendarat di aplikasi chat hp Mikaila, peringatan lagi untuk menjaga teman-temannya lebih ketat. Sungguh-sungguh Pak Rama mengeratkan benang kasih tak kasat mata di antara keduanya dengan peraturannya!


Bu Weni memasuki kelas, membawa setumpuk kertas lembar ujian murid-muridnya. Dia menaruhnya di meja Mikaila. “Bagikan ke teman-temanmu.”


“Oke.” Mikaila merapikan setumpuk kertas, membaginya menjadi dua lalu memberinya pada Melody. Dengannya ia membagikannya sementara Bu Weni ke depan kelas. Ia mencopot penutup spidol broad marker seraya mencatat keperluan persami terakhir kelas 12 di papan tulis.


Mikaila membagikan satu persatu lembar jawaban ke teman-temannya, tetapi setelah menaruhnya di meja Dela, saudaranya itu mengeluarkan kakinya dari dalam kursi dengan sengaja hingga membuat Mikaila tersandung dan menyebarkan kertas-kertas ke udara.


Lutut beradu dengan lantai, Mikaila mengaduh seraya menoleh dengan rambut yang terurai ke depan wajah. Dengusan napasnya serupa kepulan asap knalpot racing. Tangannya terjulur, mencubit betis Dela dengan sangat kecil.


Dela menggertakkan giginya sembari menepis tangannya cepat. Bu Weni menginterupsi untuk diam dan minta maaf.


“Mika sama Tegar kemarin bolos bareng, Bu. Mereka gak sakit. Tante Sera ngomong Mikaila berangkat kok dari rumah. Ups...” Dela menutup mulutnya, seolah ia mengeluarkan kalimat yang gak seharusnya.


Tegar mengambil kertas-kertas yang berserakan di meja dan lantai seraya mengambil alih tugas Mikaila. Dia membagikan lembar jawaban teman-temannya lalu menolong Mikaila yang nampaknya susah berdiri.


“Apa gak ada yang lebih brengsek dari perseteruan antar sepupu? Sudahi atau gue bilang kalian berdua saudara!” ucap Tegar dengan suara berat. Tampak emosi dengan kejadian barusan.


Bu Weni nyengir geli di belakang Tegar. “Kamu sudah bilang, Tegar! Kenapa pakai ngancam segala.”


“Ups!” ucap Tegar seraya berjongkok, memastikan lutut ceweknya tidak lecet atau tempurung lututnya pecah dengan menjentikkan jarinya di sana dan meniup lembut bagian yang merona.


“Masih sakit?” Tegar mendongak.


“Tegar Julio Raydan Abiyasa!” Bu Weni menjewer telinganya. “Bangun atau ibu sebutkan peraturan sekolah? Di larang pacaran atau pamer kemesraan di depan umum?”


“Itu ibu sudah bilang peraturannya? Jadi gak usah ngancam!” Tegar meringis, mendorong bahu pacarnya ke mejanya. “Kalo masih sakit bilang aku, stok obat anti nyeriku masih banyak.”


Mikaila menginjak sepatunya. “Mulutmu udah ketularan Daffa tau gak, pake bilang-bilang aku sama Dela saudara. Najis!”


“Mika!” Bu Weni menggedor-gedor papan tulis. “Sudahi persaingan kalian!”


Wajah-wajah siswa yang baru mengetahui kebenaran itu terheran-heran sampai-sampai Sarina meminta kebenarannya untuk mewakili semuanya.


“Ya pokoknya dia orang yang gak bisa aku tendang dari hidupku! Dia slalu ada di pikiran dan chat keluarga. Pokoknya itu cewek musuh paling ribet!” jawab Mikaila tak acuh.


Dela menjulurkan lidah dan mata tertutup.


“Aku bantuin bilang ke mamamu deh kamu punya pacar anak geng! Biar makin seru hubungan kalian!”

__ADS_1


Tegar melemparinya tipe-x warna merah yang dalamnya ada kelerengnya, kalo makai harus di kocok dulu biar afdol. Suaranya nyaris mirip lato-lato, tapi ini gak penting sih karena cewek itu sudah melempar balik ke dada Tegar.


“Hei calon saudara!” Belum sempat Dela merampungkan kedipan mata. Suara Mikaila menggelegar.


“Jauh-jauh dari Tegar!”


Brak...


Spontan Tegar, Wicak, dan Daffa tersentak kaget lalu saling pandang. Wow, posesif agresif atau sekedar penanda dia miliknya?


Tegar menaruh jarinya di depan mulut. Geli. “Calm down, babe. I'm with you.”


Bu Weni menghela napas. Cerita cinta masa SMA itu susah ia enyahkan dari hidupnya. Setiap semesternya slalu ada. Slalu memusingkan, tapi baru kali ini yang membuatnya ingin menjewer telinga murid-muridnya.


“Kalian berdua ikut ibu ke kantor setelah ini!”


Yah... Masalah. Mikaila menempelkan wajahnya pada lembaran kertas.


“Baru seminggu aku ayem tentram, Bu. Kenapa lagi ini.”


“Salah kamu sendiri mulai macam-macam!”


Tegar menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepala. Benar-benar di suruh mencintai Mikaila rupanya cowok itu. Sekejap dia menenangkan Mikaila dengan melemparinya tipe-x yang mengenai punggungnya.


“TEGAR!” Bu Weni melemparinya spidol broad marker dan hap. Ketangkap. Tegar nyengir, “Mau saya bantu nulis, Bu?”


“Udah selesai! Ini kamu amati baik-baik dan persiapkan! Awas kalo sampe seharian di sekolah cuma pacaran!”


“Siap, nasihat di terima.” Tegar mengangguk.


Setengah jam kemudian, pengeras suara berbunyi. Lagi Garuda Pancasila terdengar, Tegar dan Mikaila bertemu di depan kelas.


“Mau sekarang ke kantor guru?” tanya Tegar sambil mengulurkan uang 50rb.


Mikaila jelas mencomotnya dan memasukkannya ke dalam saku seragam. Uang jajannya dua hari.


“Nyebelin kamu, kenapa harus bilang-bilang aku sama Dela sepupu. Gak seru!”


“Biar kalian berdua gak berantem terus. Salah?”

__ADS_1


“Ya gak gitu, Gar. Hubungan kita? Kamu gak bayangin keluargaku tahu kamu anak geng?”


“Terus apa keluargamu gak bayangin aku anak Harris Abiyasa?”


Mikaila menyunggingkan senyum. “Diam-diam ada yang kangen papa, samperin dong ke Jakarta. Jangan cuma lari dari kenyataan! Gayanya aja sok jagoan.”


“Ntar kalo ongkos udah banyak!” Tegar mengacak-acak rambutnya. “Habis sekolah temenin prepare cari perlengkapan pramuka. Bisa?”


“Hadapi dulu Bu Weni!”


Keduanya lantas memperlihatkan batang hidungnya di kantor guru. Bu Weni menarik napas.


“Betul apa yang dikatakan Dela tadi, kalian bolos sekolah? Berdua?”


“Bertiga sama Daffa.” sahut Tegar.


“Apa ada hubungannya dengan wajahmu yang babak belur, Tegar?”


“Ada!”


“Bilang siapa pelakunya?”


“Itu sih fifty-fifty, Bu. Tegar salah, mereka juga salah. Gak ada masalah serius.” tandas Mikaila.


“Nilaimu turun, Mika. Kamu jadi peringkat tiga!”


Mikaila spontan ternganga. Gak percaya. Nilainya turun? “Siapa nomer satu dan duanya, Bu?” tanyanya heran.


“Tegar dan teman bolos kamu!”


Tatapan Mikaila lalu berubah sinis kepada Tegar. “Kamu gak kasih aku contekan? Tapi sekongkol sama Daffa? Yakin mau jadi saingan?”


Tegar menutup mulutnya, menyembunyikan senyum manisnya saat Mikaila tak peduli dia pacarnya atau bukan. Saingan tetap saingan.


“Maaf, Mika. Tapi itu kenyataannya, aku lebih unggul dari kamu! Aku minta baksonya seperti kesepakatan kita kemarin.”


Tanpa ambil pusing Mikaila mengeluarkan uang dari Tegar dan menaruhnya di telapak tangannya. “Kamu beli sendiri, aku harus evaluasi! Gimana mungkin jadi guru les nilainya lebih jelek dari murid skorsingan dan tukang bolos. Permisi!” Mikaila berdiri seraya melengos pergi.


Bu Weni ngelus dada. Pacaran dengan versi apa mereka? Pacaran jalan, saingan iya. Tetapi daripada memikirkan itu dia memberi kertas detensi pada Tegar sebagai hukuman membolos sekolah. Dia harus merapikan perpustakaan sepulang sekolah dengan kedua partner bolosnya. Seru sekali!

__ADS_1


...***...


^^^Bersambung^^^


__ADS_2