Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 80 : Balapan Terakhir


__ADS_3

Gosip beredarnya kabar pertaruhan terakhir Evoleventador dan Evolve Blast menyebar di antara kumpulan-kumpulan anak geng yang berafiliasi dengan dua geng itu. Berbondong-bondong mereka menuju satu spot balapan liar di tengah dinginnya malam.


Mikaila keluar dari mobil bersama keluarganya. Netral dia mengangkat kedua tangannya sebelum Drew memakinya


“Kita cuma mau dukung Tegar. Gak bawa polisi atau alasan lain! Sumpah.” ucap Mikaila serius.


Drew menudingnya seraya mendekat. Wajahnya yang kian dewasa sedikit menambah ketampanan sekaligus kesuraman diwajahnya. Drew tambah ngeri dan Mikaila diam-diam berharap Lila sudah putus dengannya.


“Kalo sampe kejadian empat tahun lalu terulang lagi, kamu bener-bener kebanyakan bacot!”


Sera nyaris menampar mulut Drew jika ia belum berjanji tidak membuat permasalahan semakin gawat.


Mikaila mengiyakan lalu tersenyum. “Kamu pastiin aja menang karena kayaknya banyak yang datang nih.”


Mikaila menonton kedatangan cowok-cowok yang menggeber motornya sebelum berhenti di bahu jalan. “Lagian Drew, masalah udah lama berlalu kamu masih gini-gini aja. Gak pingin bahagia?”


Mikaila merasakan pipinya tertekan terlalu keras di giginya saat Drew mencengkeramnya.


“Pacarmu yang bikin hidupku sengsara.”


Tegar yang awalnya hanya menonton dari kejauhan menghampirinya dan menepuk pundak Drew dari belakang.


“Cuma gue yang boleh pegang pipinya!”


Sera dan Adnito menarik Mikaila ke belakang saat Drew melepas putrinya.


“Mika gak papa, Pa.” aku gadis itu ketika Adnito menonton pipinya dengan seksama.

__ADS_1


“Papa heran pipimu ada apanya, Nak. Kenapa cuma Tegar yang boleh pegang pipimu?” Adnito mengelus pipi putrinya yang sebentar lagi bukan miliknya dengan penuh kasih sayang.


“Lembut, gemes, pantes saja Tegar ngaku-ngaku pipimu cuma miliknya. Papa nggak boleh.”


Tegar dan Drew yang mendengar sama-sama mendengus. Oke, kemesraan ayah dan anak itu bikin mereka cemberut dan cemburu sebab kedekatan mereka tidak sampai di tahap itu.


“Gimana-gimana, kalian udah siap?” ucap Daffa setelah kondisi jalan yang mereka blokade sudah siap.


Tegar mengiyakan, tidak perlu pemanasan fisik, mesin dan mental. Dia akan mengalah tanpa kentara, dia akan melawan Drew sebagaimana mestinya ketika balapan. Meski pecundang satu itu masih akan dia beri pelajaran jikalau kemenangannya kelak membawanya pada satu permasalahan yang lebih gawat. Menjadi jagoan ulung tak tahu diri.


Tegar tersenyum pada keluarga Mikaila sebelum mengendarai motornya ke garis start. Dia menatap Drew yang menggunakan setelan komplit safety riding. Tegar tersenyum, andai memungkinkan untuk menaklukkannya dengan cara baik, dia pasti memilih itu, tapi jangankan baik-baik, cuma di kirim salam doang langsung sewot. Mana bisa ia diam saja.


Tegar menggeber-geber mesin motornya, atraksi dulu biar makin seru balapan itu. Toh geng yang datang menantikan sensasi dari balapan paling di tunggu-tunggu seluruh telinga yang sempat mendengar desas-desus kembali jagoan The Evolve Wild. Tak kalah semangat, Drew ganti meraungkan mesin motornya. Keduanya memakai motor 2 tak dengan jenis sama.


“Siap?” Perwakilan dari penonton berdiri di antara kedua motor, membawa bendera hitam putih.


Tegar dan Drew mengangguk. Kedua mesin meraung bersama-sama dan Mikaila bisa merasakan kecemasan yang lain ketika kedua motor itu mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


“Kita berdoa sama-sama, mereka selamat sampai finish, Ma, Pa.” ajak Mikaila seraya membawa mereka mendekat ke Daffa dan Wicak, mereka bersama geng Evoleventador hasil rekrutmen mereka di kampusnya.


Tegar melirik Drew di bawah remangnya pencahayaan. Pria berusia lebih tua dua darinya itu menunjukkan semua usahanya untuk mengalahkannya.


Di balik helm full face-nya, Tegar tersenyum.


Kalo dulu gue bisa karena gue emosi, gue marah sama keadaan. Gue gak terima di buang bokap. Sekarang gue gak marah, gue ngerti betapa terlukanya ibu Mike, Naufal, Baskara, dan bokap gue sendiri atas permasalahan berat ini. Gue sekarang hanya bisa memohon kepada Tuhan agar keluarga gue menemukan cara bahagia di jalan masing-masing. Dan dewasa bikin gue melihat betapa banyak sudut pandang yang belum sempat gue ketahui dulu. Kini giliranmu, Drew. Gue yakin Lo cuma butuh ketemu wanita yang tepat untuk mengubah Lo.


Perlahan-lahan Tegar mengurangi kecepatan motornya, dia menikmati waktu yang bergulir sampai di ke garis finis.

__ADS_1


Geng yang berafiliasi dengan Drew berseru kegirangan ketika jagoan mereka menang. Drew di gotong-gotong lima orang pria dengan bangga. Sementara geng yang berafiliasi Tegar bertepuk tangan, mengapresiasi kegagalan Tegar dan kemenangan Drew tanpa emosi. Mereka justru berseru atas berhasilnya Drew.


Tegar melepas helmnya seraya tersenyum bersamaan dengan berhentinya euforia kemenangan Drew.


Tegar mendekati Drew yang melepas helmnya. Mereka bertatapan berang sekejap mata sambil memegangi helm masing-masing.


Tegar mengulurkan tangannya. “Selamat.”


Drew meludah ke samping. Tidak berminat bersentuhan dengan Tegar sebab sekelebat bayangan Tegar yang mengalah tadi mengusik kemenangannya.


Tegar menarik tangannya tanpa kecewa. Masih tersenyum, dia berharap balapan terakhir ini memberikan makna tersendiri untuk Drew terlepas apa yang di pikirannya sekarang.


“Senior kampret.” celetuk Tegar tiba-tiba. Dan itu memancing atensi Drew lebih banyak ke muka Tegar di banding suasana pesta jalanan itu. Tegar mendekat, memeluknya alih-alih menggubris ocehan Drew karena julukan itu.


“Gue minta maaf setelah apa yang terjadi kemarin, Drew. Anggap aja semua salah gue. Tapi Drew, coba ajari hatimu untuk bisa menerima kenyataan karena ada beberapa hal yang bisa di terima tapi tidak bisa di ubah.” sarannya setelah melepas pelukan.


Drew tercenung, sementara Tegar sudah memakai helm dan mengendarai motornya kembali ke tempat yang dia inginkan. Mikaila menyambutnya sebelum kakinya betul-betul memijak aspal.


“Gimana? Sesuai rencana?”


“Slalu.”


Mikaila langsung memeluknya tanpa sempat membiarkan Tegar menyangga motornya kuat-kuat. Walhasil mereka nyaris ambruk jika Sera dan Adnito tidak segera menahannya.


“Kalian ajak semua anggota geng bubar, mama takut blokade jalan bikin warga lapor polisi!”


Dan ketika petuah bijak Sera selesai, Mikaila naik ke atas motor Tegar. Dia nyengir saat ibunya mendengus. “Kalian hati-hati.”

__ADS_1


Evolventador dan pengikutnya mengikuti aba-aba Daffa dan Tegar karena Wicaksono sudah bubar terlebih dahulu untuk mengantar Sarina absen di kamar mandi pom bensin. Buang air kecil.


...***...


__ADS_2