Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 37 : Emang Enak


__ADS_3

Delapan truk pembawa siswa-siswi kelas dua belas SMA Garuda Pradipta Jaya bergantian berhenti dari areal perkemahan yang terletak di lereng barat daya gunung Lawu. Di atas 1100 mdpl. Suasana hutan yang asri dan sejuk menyelamatkan mereka dari hawa panas selama berjejalan di atas truk sambil berdiri.


Mikaila keluar dari mobil dinas sekolah, bersama kakak-kakak pembina dan staff sekolah. Dia menghirup udara segar lalu menghelanya.


Kok aku lebih percaya diri waktu nggak punya pacar ya, apa Tegar mau di ajak berantem sebentar biar aku punya energi untuk marah-marah?


Mikaila menerima tas kerilnya dari kakak pembina. “Koordinasikan teman-temanmu untuk bikin barisan secepatnya. Kita langsung apel di bumper!”


Mikaila menggendong tas kerilnya yang mulai jadi beban, terasa berat di punggungnya tetapi tugas sekolah tetap jalan, ia menghidupkan toa putih kecil yang sudah menjadi kawan baiknya sejak menjadi ketua OSIS.


“Guys, hellow... buat yang udah siap sama barang bawaannya tolong segera kumpul dengan kelompok masing-masing dan bikin barisan. Yang rapi, waktu sepuluh menit di terima? Capcuss... Laksanakan segera karena Mikaila sedang tidak baik-baik saja!”


Tegar meringis, Dela bahagia tiada terkira.


“Ini belum seberapa Mikaila, baru pemanasan!” gumam Dela.


“Yuk, buruan, yuk... Itu yang baru datang ayo semangat, kalo bisa jadi yang terdepan, jangan mau jadi yang belakangan!”


Meski hanya mendengar dari toa karena truk yang di tumpangi Tegar dan satu gengnya masih menyala. Tegar langsung memahami, ada emosi yang tersirat dalam suara ceweknya. Emosi karena harus menghadapi situasi yang tidak di sukai.


Dela? Harus gue apain dia?


Senyum iblisnya terlihat. Dan Tegar tersentak waktu Daffa menepuk bahunya.


“Ngapain, Gar? Kesurupan?”


“Sialan. Bukan!” Tegar menggendong tasnya. “Dela bikin masalah sama gue dan Mika. Dia rekam semua kejadian di perpus. Gue jamin dia punya celah buat ngerusak geng dengan pernyataan Lo mau geser Drew dengan gue.” bisiknya pelan.

__ADS_1


“Parah sih kalian kalo gak loyal.” Wicak nimbrung.


Tegar menghela napas. “Bukan gue yang gak loyal sama geng, cuma kalian kan tau gue jagoan!”


Tegar dan Daffa spontan menoyor kepalanya bersama-sama. “Anak baru sombong banget! Emang harus di kasih pelajaran biar makin tangguh nih orang, Bray!” ucap Daffa.


“Buruan turun, ngapain kalian bertiga rangkulan begitu? Takut?” seru Mikaila dengan toa. Suaranya menggelegar sampai memekik telinga.


Tegar cs mengusap-usap kuping mereka yang berdenging seraya melompat dari truk dengan wajah kesal. Daffa dan Wicak melirik seraya membunyikan peluit di kuping Mikaila bersama-sama.


“Rasain emang enak!” sembur Daffa berapi-api saat Mikaila menutup kedua kupingnya erat-erat. “Mending pake peluit, daripada pake toa, sialan!”


Tegar mengulum senyum, melihat betapa cuek wajah pacarnya saat ini dia mengeluarkan senjatanya lagi. Rayuan, permen.


“Paling kamu butuh gula, atau aku gantiin kamu? Dulu aku juga ketos, tapi cuma sebentar.” Tegar membuka bungkusnya lalu mencelupkan permen itu ke mulut ceweknya.


Mikaila melengos pergi dengan berlari kecil di atas kerikil-kerikil kecil hingga menimbulkan suara berderak. Dia merasakan permen itu, rasa yang slalu ada di setiap ciuman yang Tegar berikan. Manis-manis segar.


“Itu pesan buatmu, Gar. Mulutmu di jaga, jangan nyosor terus!”


“Nyosor juga kena dikit, Daff!”


“Halah, sama aja.” Wicak menimpali, “Lagian Mikaila itu anti mesra-mesraan lho kalo pacaran, dia masih full virgin!”


“Wow.” Tegar terpukau. Gak salah pilih cewek dan dia bersyukur sekali. “Emang wajib cewek-cewek kayak dia.”


“Tapi semua cowok gak wajib kayak kita. Kita berbahaya!” ujar Daffa seraya membusungkan dada. Dia berjalan dengan jumawa, padahal wajahnya imut-imut. Dan kesombongannya itu langsung dibayar tunai, Daffa tersandung batu, menubruk teman di depannya, dan di depannya lagi sampai kegaduhan yang terjadi di barisan paling akhir membuat Mikaila yang bergeming di bawah pohon besar memutar mata.

__ADS_1


Tegar dan Wicak terbahak seraya mencengkeram tas punggung mereka yang jatuh dan menariknya agar berdiri lagi.


“Udah dibilang mulut di jaga!” omel Tegar. “Cewek gue udah kelihatan marah lagi tuh!”


Daffa menoleh, Mikaila mendatangi mereka dengan ekspresi tak tersentuh.


“Urus temen-temenmu atau kita marahan!” ancamnya pada Tegar.


“Daffa cuma kesandung batu, Mika.”


“Oh begitu ceritanya? Aku gak peduli. Mau kesandung batu, kelilipan kelelawar, atau tremor ketakutan kalian satu geng dilarang bikin masalah. Saling jaga!”


Tegar mengangguk. “Yes, babe. Aku jaga satu geng, terus kamu gak dijagain gak papa?”


“Aku dijagain kakak pembina! Haha...” Mikaila menjulurkan lidah, meledek pancingan Tegar dengan pancingannya seraya mengayunkan tongkat pramukanya.


“Buruan jalan! Aku awasi kalian dari belakang!”


Daffa menepuk-nepuk celananya yang kotor. Lalu terpaksa melangkah saat Tegar merangkulnya.


Daffa menoleh. Memandangi Mikaila dengan cengengesan. “Tegar ogah sama cewek galak! Sukurins gak dijagain.”


Mikaila yang jengkel mendorong punggung Daffa dengan tongkat pramukanya. “Gak usah GR! Tegar cuma nurutin aku.”


Daffa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. “Jujur, aku gak bisa bayangin kalian pacaran berdua. Beuhh, ganas vs ganas. Meledak!” Daffa mengangkat tangannya.


“Ada yang jauh lebih penting dari itu. Gue harus ngurus Dela, kalian bantuin!” tandas Tegar.

__ADS_1


...***...


^^^Bersambung ^^^


__ADS_2