Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 41 : Manisnya Hukuman


__ADS_3

Mikaila memandu Tegar menuju desa yang terletak lumayan jauh dari lokasi persami menggunakan sepeda motor. Mereka melewati jalan desa yang terbuat dari cor-coran semen dalam kesunyian pagi dengan dingin yang merambat sekujur tubuh tanpa henti meski terkhusus ketos galak itu, dia boleh menggunakan jaket sementara Tegar tidak.


Tegar mengusap telapak tangan seraya meniupnya saat areal yang mereka lewati sudah tak berbelok dan menurun lagi. Dia kedinginan.


“Mika..., masih jauh?” tanyanya gemetar. Semilir angin berhembus, Tegar menahan gigil, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


“Sepuluh menitan! Aku harus hati-hati. Bisa bablas ke sawah atau jurang kalo sampe gak fokus!”


“Berhenti sebentar kalo gitu!”


Mikaila mengerem laju motornya perlahan-lahan seraya menurunkan kedua kakinya, mencari keseimbangan seakan membawa Tegar seperti membawa beban yang menyulitkannya untuk rileks.


“Kenapa? Kebelet lagi? Sana cari semak-semak, aku gak bakal ngintip!” tandas Mikaila.


“Turun, matiin mesinnya! Aku takut dan curiga kamu kabur dari sini!” ucap Tegar sambil turun dari motor.


Mikaila menggerutu meski dengan santai dia menurutinya. Ia bergeming di depannya sambil menatapnya berang.


“Udah sana boker, gini amat punya pacar. Banyak problem, seneng ngasih polusi udara. Gak sekali doang kamu buang angin di dekatku, Tegar!”


Tegar menatap Mikaila dan menghampirinya dalam satu kali langkah cepat sebelum merengkuhnya cepat ke dalam pelukannya.


“Gue bisa hipotermia kalo Lo gak ada!” Tegar menghidu aroma rambut Mikaila yang wangi sampo kering. “Gue kangen.”


Mikaila menggeram saking kesalnya, dia menepuk-nepuk punggungnya dengan kepalan tangan. “Gar, kita tamu di sini. Jangan macam-macam!” perintahnya galak.


“Sebentar...” Tegar mengistirahatkan kepalanya di rambut halus ceweknya. “Gue bermimpi kita bisa seperti ini selamanya.”


“Tapi aku gak mau hidup dalam mimpimu doang, aku suka kenyataan!” sahut Mikaila. Menangkup wajah Tegar di antara kabut yang mulai memudar di bawa angin.


Mereka bertatapan, membagi hembuskan napas hangat yang menerpa wajah keduanya dalam keheningan.


“Hubungan kita masih terlalu baru, Mika. Dan bermimpi adalah satu-satunya hal gampang yang bisa gue lakukan sekarang!”


“Ya udah, sana mimpi terus tanpa berusaha mewujudkannya!” Mikaila mendesis, tangannya meremas ikat pinggang Tegar. “Hubungan kita udah sampe ke ortuku, mana mungkin mereka atau kita diam aja!”


“Slow, babe.” Tegar reflek mencium keningnya dengan tulus. Mata yang khawatir itu menghangatkan dadanya, ia bisa memastikan mimpi dan harapannya bisa terwujud meski dia tahu tak akan mudah menjadi bagian dari keluarga Mikaila. Andai itu mudah, itulah keberuntungannya.


“Empat atau tiga tahun lagi gue bakal tanggung jawab sama ciuman gue waktu itu, gue bakal lamar Lo setelah kita sama-sama jadi sarjana! Lo gak usah takut tapi Lo gak bisa putus dari gue apapun masalah yang bakal kita hadapi.”


“Kalo gitu kamu egois!” tukas Mikaila. Berusaha beringsut menjauh. “Aku gak bisa bertaruh soal itu! Apalagi kalo kasusnya perselingkuhan.”

__ADS_1


Tegar terbahak, sekarang dia yakin Mikaila tipikal cewek serius kalau berpacaran.


“Kamu udah aku tandai dengan ciuman anak geng, gak bisa luntur sampe kapanpun!”


“Udah... udah...” bentak Mikaila. Love language-nya memang physical touching karena dia lebih sering memberi sentuhan pada Tegar dengan cara sedikit kasar. Tabokan cinta.


“Pokoknya kamu do the best aja, sekarang ayo, kita masak-masak.” katanya sambil naik motor.


Tegar menyeringai. Sudah hangat, sudah melepas rindu, harusnya sekarang dia sudah bisa nurut pada ceweknya yang mengendalikan motor dengan ngeri-ngeri sedap.


“Aku lihat-lihat kamu lebih sering di antar jemput ortumu, gak mau bawa motor sendiri?” tanya Tegar sambil mengikuti Mikaila ke arah rumah warga lewat jalan setapak bebatuan yang di susun rapi.


Mikaila menghela napas. “Biasalah, ortuku gabut!”


Tegar dan Mikaila menyunggingkan senyum saat ibu-ibu PKK dan rewang simpatisan setempat menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah.


“Sarapan belum siap, Nduk. Ada apa?” tanya ketua PKK sambil mengajak Mikaila ke dalam rumah sederhana itu.


Mikaila tersenyum sementara Tegar mengikuti sambil celingukan. Ada ayam goreng, capcay sayur, sambal merah, teh hangat, pisang emas dan ibu-ibu yang sedang melakukan packing.


Pantesan Daffa pengen ikut. Surga ini.


Mikaila menyuruh Tegar mendekat. “Saya nganter anak baru, Bu. Di hukum, di minta bantu-bantu di sini!”


“Ya sudah, duduk-duduk, ibu ambilkan teh dulu! Kalian pasti kedinginan.”


“Sarapan juga Bu kalo boleh.” celetuk Tegar.


Mikaila memasang muka malu sambil mencubit kecil punggung Tegar.


Apa-apaan sih! Batinnya sambil memelototinya.


“Kangen masakan mama, lagian makan mie terus gak bagus buat kesehatan.” dalih Tegar hingga membuat ibu-ibu PKK pedesaan yang pada dasarnya ramah terkekeh gemes.


“Duduk-duduk dulu, mas. Ibu ambilin piring di belakang.”


Dengan sangat bersedia Tegar melakukannya lalu menarik tangan Mikaila agar duduk di sampingnya, di atas tikar.


Mikaila mengembuskan napas. “Maaf ya, Bu. Anak dari Jakarta ini. Biasa bebas berekspresi.”


“Gak papa, Nduk. Kamu juga makan, capek toh ngurus banyak orang.”

__ADS_1


Woah, terkenal juga cewek gue sampe ke pelosok desa begini.


Tegar melirik Mikaila yang menerima dua gelas teh hangat lalu dua piring sarapan pagi seraya memberikan kepadanya.


“Terima masih, Bu.”


“Iya, tapi habis itu bantuin packing ya.” Ibu pkk tersenyum jenaka sebelum mempersilakan dua remaja menyantap sarapannya. Mikaila dan Tegar malu-malu kucing saat menyantapnya, tapi semuanya habis tak bersisa. Candaan kemudian Tegar layangkan.


“Lapar juga Lo?”


Mikaila mengambil kardus, “Udah ayo kerja!” katanya lalu mendelik. “Jangan bikin aku malu!”


Tegar mengambil satu tampah bambu berisi pisang emas, dia meletakkan satu persatu ke dalam kardus dan untuk pertama kalinya, Tegar dan Mikaila tidak menciptakan kegaduhan dan tragedi. Dua remaja yang sedang ingin di mabuk asmara itu menyelesaikan hukuman dengan lancar sementara yang lain mulai melakukan kegiatan outbound yang menjadi fasilitas bumi perkemahan.


Hukuman selesai, Tegar dan Mikaila menaruh tumpukan nasi box terakhir di mobil bak terbuka.


“Nduk, mas, duluan saja. Kalian ikut acara di atas!”


“Ya... Ya... Bu, terima kasih.” seru Mikaila karena ibu PKK itu sudah masuk ke dalam rumah untuk mengambil teko besar berisi teh hangat.


Tegar mengulurkan tangan, meminta kunci. “Gue gak mau cewek gue bawa motor bebek di trek kayak gini. Gue takut.”


Mikaila menyerahkannya dengan sinis. “Kamu juga berat kok, males aku nyetir kamu!”


Mesin meraung, Tegar memanaskan mesinnya sebentar sebelum mereka kembali menyelusuri jalan yang meninggalkan satu kenangan rahasia dan janji untuk lamaran empat atau tiga tahun lagi.


Mikaila menepuk-nepuk punggung Tegar tak sabar ketika matanya menangkap mobil Alvian.


“Kenapa, babe?”


“Keluargaku datang! Berhenti-henti.”


“Anjir mampus, baru juga gue mau seneng.” Tegar mematikan mesin motor di balik mobil dinas sekolah. Mereka kemudian mengintip suasana.


“Mama, Dinda...” Tegar menoleh, keduanya menempel di mobil dengan eskpresi tercekat.


“Kok ada mereka, apa jangan-jangan?” Tegar dan Mikaila saling tatap. Lalu mengintip lagi ke arah perkumpulan guru-guru dan ortu. Bu Weni melambaikan tangan lalu berseru dengan toa.


“Itu yang baru di hukum buruan apel pagi! Jangan ngumpet!”


...***...

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2