Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 78 : Reuni


__ADS_3

Drew meremas kaleng bir berisi dan melemparkannya ke tong sampah agar bergabung dengan kaleng dan botol bir lainnya. Kepalanya mulai ringan setelah beberapa kaleng bir mengisi perutnya di tengah basecamp Evolve Blast, gabungan dari dua geng yang berafiliasi membenci Tegar cs.


Drew menggeram. Nama Tegar menggema lagi di hidupnya setelah sekian tahun hanya ada Daffa dan Wicak yang menjadi incaran kebrutalan gengnya.


Drew mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Empat tahun lalu, hidupnya hancur setelah algojo dari Harris menghajarnya di suatu tempat terbengkalai sebelum ia mendekam di penjara sebagian tersangka kasus pencemaran nama baik dan UU ITE. Orang tuanya malu dan acuh tak acuh, pun satu dari mereka berterima kasih telah memberi efek jera bagi putranya. Tapi alih-alih tobat, keluar dari penjara dia tidak berubah, dendam kepada Tegar masih menggumpal dengan baik di benaknya.


“Punya nyali gede juga dia masih datang ke sini!” ucap Drew. Matthew, Rio, yang mendengar kabar kembalinya Tegar mengangguk.


“Kabarnya dia mau nikah.” ucap Rio, hangatnya tubuh Dela mungkin masih menjadi bagian terenak dari perjalanan nikah muda. Tapi biaya hidup, kuliah, dan mengurus anak rupanya menjadi hal yang tidak pernah luput dari daftar masalah hidupnya. Setiap hari setiap saat.


“Masih sama Mikaila! Yang berarti Tegar jadi saudaraku!” Rio tersenyum kecut meski prahara di keluarga Mikaila dan Dela masih berasa di musim gugur. Musim yang berada di antara musim panas dan dingin.


Drew memejamkan mata. Meracau ketidaksukaannya. “Aku yakin dia datang untuk reuni dengan Daffa dan Wicak sekaligus menunjukkan kalo dia memang si jagoan yang masih berkuasa di sini dengan titip-titip salam sialan itu. Kita serang basecamp mereka besok malam!”


Rio dan Matthew pun saling pandang seraya mengangguk. Di ujung malam, di antara kepulan asap rokok, mereka membicarakan rencana jahat seraya menggeber motor ke rumah Daffa. Mereka menonton motor gede Tegar di antara sela-sela pagar besi sementara kamar Daffa masih menyala. Drew yakin itu makanya dia memberi isyarat kepada Matthew dan Rio untuk memanjat pagar.


“Buruan naik!” ucap Matthew dari atas pagar.


Dengan sempoyongan Drew berusaha mengikuti mereka tapi naas berkali-kali upaya untuk memanjat tembok dia terjatuh dan terjerembab ke selokan tak jauh dari pagar.


Matthew memaki, tak ingin kepergok warga, dia melompat ke dalam halaman rumah. Gegas dia dan Rio mengeluarkan tang potong dari saku jaket untuk memutus beberapa bagian selang dan kabel motor.


Oli mengucur, seluruh fungsi lampu mati, tapi yang paling parah engine kill.


Rio dan Matthew tersenyum puas seraya terbirit-birit keluar dari rumah Daffa. Mereka menyelamatkan Drew dari selokan musim hujan. Kuyup oleh air kotor, Matthew mendengus.


“Dulu musuh bebuyutan, giliran di tinggal semua anggota ngajak berasosiasi!” Matthew mendorongnya ke Rio.


“Urus dia, kak.”


Rio mengapit lengannya dengan satu tangan sementara tangan satunya menutup hidung.

__ADS_1


“Pantesan pada di tinggal anggotanya, jadi leader ngerepotin doang!”


Matthew memutar mata, meski begitu, mereka tetap membawa Drew ke basecamp, Drew tinggal di basecamp itu setelah orang tuanya menyuruhnya angkat kaki dan hidup mandiri.


Paginya, di kediaman keluarga Daffa. Tegar bangun lebih pagi untuk melakukan aktivitas fisik di atas treadmill meski semalam ia dan gengnya menghabiskan waktu dengan nge-game dan cerita-cerita sampai dini hari.


“Ampun, udah sejam gue bakal kalori, kalian masih ngorok!”


Tegar membangunkan Daffa dan Wicak dengan mencipratkan air mineral ke wajah mereka. Daffa dan Wicak spontan melakukan atraksi silat dengan udara lalu mengusap wajah mereka dengan selimut.


“Kurang ajar! Gar...” maki Daffa seraya menguap. “Aku kuliah siang, gak usah kayak emak-emak lah bangunin anak pagi-pagi! Ganggu Lo!”


“Gue mau ke rumah Mikaila, Lo berdua nemenin gue diskusi nikahan!”


“Anjir, aku masih lama nikahnya. Wicak aja tuh dah siap calonnya!” gerutu Daffa sembari memeluk guling seraya mengerjapkan mata. “Lagian, Gar. Jadi pengantin pria cukup bawa seserahan, mahar, sama keluarga. Urusan WO, makanan, dll urusan keluarga cewek! Habis itu baru ngunduh mantu, di Jakarta sana. Itu urusan keluargamu, kamu cuma iya-iya aja!”


Tegar tergelak, untuk cowok sejomblo Daffa, cowok itu terlalu paham dengan urusan sebelum nikah.


“Ya kali, goblok!” Daffa mendesis. “Orang kayak keluarga Mikaila itu menerapkan ilmu sewajarnya yang penting ada dan mereka bakalan menerapkan seluruh prosesi pernikahan adat Jawa Solo komplit! Saranku sih belajar sabar."


Tegar mengambil handuk di tas ranselnya lalu menyita kemeja Daffa dan celananya di lemari.


“Gue pinjem.”


Daffa mendengus. “Gak Wicak, gak kamu pinjem mulu. Gak di beliin papa baju apa di sana?” cibirnya membuat Tegar tersenyum.


“Niat gue cuma mau ketemu Mikaila tanpa mengurus Drew cs. Dah gue mandi bentar.”


Alih-alih melanjutkan tidur, Daffa mengajak Wicak ke dapur, membuat kopi dan roti bakar seraya ke depan rumah. Keduanya lantas berteriak ke arah lantai atas.


“Gar... Tegar... Motormu...”

__ADS_1


Tegar menyudahi acara mandinya dengan kilat seraya ke balkon kamar setelah berpakaian.


“Kenapa motor gue? Keren?” katanya sambil menunduk.


“Ada yang sabotase motormu! Oli bocor, kabel-kabel pada putus.”


Tidak kaget, Tegar gegas ke bawah. Dia menyeringai. “Mereka udah kena pancing gue. Drew, Matthew, Rio... Cctv aman di rumahmu?”


“Amanlah, bapak ibuku setia pasang cctv demi memantau anaknya.” Daffa mendengus, “makanya aku susah bawa cewek ke rumah! Terakhir Melody ke sini nyokap mirip wartawan.”


Tegar dan Wicak merangkulnya bersama-sama.


“Bagus! Gue minta salinannya dan laporin mereka ke polisi. Cuma ini yang bisa gue lakukan buat kalian. Ntar pengacara papa yang atur!”


Daffa dan Wicak menggeleng. “Kita masih aman, Bray! Santai, gak usah laporan ke polisi. Ribet.”


“Tapi kalian terancam keamanannya. Gue gak tega dendam mereka salah sasaran.”


Daffa tersenyum penuh makna. “Gini aja deh, berhubung semua berawal dari balapan. Kita buat balapan terakhir untuk menutup perseteruan ini. Tapi syaratnya kamu ngalah, Gar.”


“Ngalah?” Tegar menghela napas, sedikit hatinya memberontak untuk hal itu. Tapi mungkin dengan satu-satunya cara paling mudah untuk dilakukan, dia setuju.


“Atur aja, Daff. Tapi salinan cctv tetap gue ambil. Gue sebar ke sosmed biar orang-orang tahu kelakuan geng itu!” Tegar menepuk bahunya, “Gue titip motor, ntar bakal ada orang bengkel ambil!”


“Oke.” Daffa mengacungkan jempolnya.


“Dah sono diskusi nikah. Jangan lupa seragam pagar bagus buat kita.”


Tegar membuka pintu gerbang yang tidak terkunci dari semalam seraya mengangguk. Dan ia menggunakan ojek daring menuju rumah Mikaila daripada merepotkan kedua sahabatnya terus.


...***...

__ADS_1


__ADS_2