
“Jangan coba-coba membujukku, Mika.” tukas Tegar sambil mendengus. “Aku ngerti taruhan itu bisa bikin kamu cemas. Tapi ini bukan soal itu!”
“Gengsi? Geng? Apalagi?” sahut Mikaila berang. “Aku gak mau kamu kehilangan motormu, itu satu-satunya benda yang bikin kamu dekat sama papamu! Aku gak mau balapan itu bikin kamu tambah jelek di mata keluargaku. Jadi aku cemas dan marah ada sebabnya! Ngerti gak sih...”
“Iya.” Tegar berkata pelan. Tidak ada celah untuk menghindari kesepakatan semalam. Ia membawa nama geng dan harga diri yang harus ia tegakkan seorang diri untuk melawan cemoohan orang-orang yang menganggapnya hitam dan putih. Menanggapi Rio adalah satu-satunya cara untuk membuat mantan ceweknya tak berkutik. Kehilangan motor herex ayahnya adalah misi melepas kenangan dengan perasaan yang sama seperti ayah melepasnya.
“Tapi aku tetap gak bisa mundur!”
“Serah!” Mikaila berdiri sampai kursi plastik terjungkal. “Sampai hubungan kita kenapa-kenapa, kamu penyebabnya!” ucapnya marah sambil menentang tatapan Tegar.
“Mik... Gar,” potong Daffa. Mereka sedang di kantin sepulang sekolah. Menunggu jam les.
“Gak usah berantem deh. Kenapa, kamu bela Tegar apa Rio?”
“Apaan sih, Daff!” sembur Mikaila jengkel. “Aku jelas belain Tegar!” ngakunya nyolot.
Cowoknya tersenyum. Daffa melambaikan tangan. “Sini deh aku kasih tau!”
“Pa'an?” Mikaila bersedekap. “Ingat gak aku masih ketua OSIS di sini dan kalian tetap dalam pantauan mataku!”
“YES, BABE!” seru satu geng itu bersamaan sampai membuat Tegar menundukkan kepala. Gak kuat, ceweknya manis banget terlebih wajahnya kaku menahan senyuman itu.
Tegar mendekat, membetulkan kursi plastik dan meminta Mikaila duduk lagi di singgasana paling bagus di kantin karena yang lain hanyalah kursi-kursi kayu yang nyaris di penuhi grafiti dan coret moret vandalisme.
Tegar memegangi bahu Mikaila. Menegaskan rapat anggota geng belum selesai.
“Mau ngomong apa?” tanya Mikaila.
Daffa menegakkan tubuh. “Daripada marah-marah dan bikin Tegar jadi sad boy, mending temenin dia servis motor, mesra-mesraan kek, nonton dan bikin dia semangat ngalahin mantanmu, gampang kan ide kita?”
“Ya kali mesra-mesraan, jangan sinting Daff. Kita aja di suruh pacaran sehat!”
Daffa dan Drew melontarkan tawa brutalnya. “Kalo gitu gym kek, olahraga, atau bela diri? seru Daffa antusias. “Biar kalo berantem gak cuma jambak-jambakan!”
Mikaila memutar matanya. Udah bagus jambak-jambakan, emangnya kalo cewek berantem harus gimana? Smackdown? Martial art? Duh kasian badannya yang di rawat saban hari.
“Aku pikir-pikir lagi!” Mikaila menyingkirkan tangan Tegar dari bahunya. “Tapi emangnya kapan balapannya?”
“Sabtu besok.” Daffa menyebutkan lokasi balapan. “Kamu mau ikut?” sahut Tegar sambil mengumpulkan surai-surai rambut Mikaila hingga menjadi satu genggaman tangan. Dengan iseng ia mengikatnya dengan karet yang dia colong dari wadah ibu kantin.
“Aku udah bilang tadi, aku pikir-pikir lagi. Lagian jam segitu aku gak boleh keluar malam!”
__ADS_1
“Nanti cari akal.”
“Ah, kamu ngerusak aku.”
Keseluruhan geng The Evolve Wild itu menyunggingkan senyum. “Udahlah, Mik. Mau gak mau Tegar maju walau pun tanpa dukungan kamu!” Kali ini Drew yang nimbrung.
“Lagian kapan kamu nyadar kalo Rio ngajak Tegar taruhan karena cowokmu ini bikin dia turun pangkat gara-gara banner yang dia buat! Nyadar, Mik.”
Woah... Mikaila tercenung sebentar lalu berdiri. Dia mencengkeram tepi meja seraya menghela napas.
“Oke aku temenin daripada kalian anggap aku gak tau diri!”
Tegar langsung memasukkan seragamnya cepat-cepat ke dalam celana. “Les dulu, Bray. Nakal jalan, pendidikan lancar! Ada mama yang perlu aku banggakan.”
“Ya elah anak mama!” cibir Drew. Tapi semua anggota geng itu juga melakukan hal yang sama seperti Tegar. Ada mama tempat pulang dan menjadi diri sendiri walau harus diomeli dulu.
Sepulang les, senja membelai sekumpulan awan-awan putih yang berkelana di langit sore. Tegar menunggu Mikaila menyelesaikan beberapa chat keluarga sambil memakai jaketnya.
“Di terima alasanmu?” tanya Tegar.
Mikaila mengeluarkan jaketnya dari laci dan memakainya. “Kayaknya kamu perlu beliin aku helm lagi.”
Tegar cukup lega, Dela dan Mira sudah keluar kelas jadi rahasia mereka aman.
“Di rumahmu!” tandas Mikaila.
Tegar menyahut helm yang di ulurkan Wicak ketika cowok itu lewat dengan membonceng Daffa. “Trims, Bray.”
“Jam tuju, markas!” seru Daffa.
Tegar mengiyakan, selang setengah jam perjalanan sambil diam-diaman. Mereka sampai di rumah Tegar. Shinta menyambut kedatangan mereka dengan senyum kecut.
“Mau ngapain anak muda datang-datang cemberut gitu?”
Mikaila menjabat tangan Shinta, mencium pipi kanan kirinya. “Laper, Tant.”
“Datang-datang lapar? Gak di kasih makan kamu sama Tegar?” seloroh Shinta.
“Kita habis les, Ma. Mana sempat makan!” Tegar menjejalkan kaus kakinya ke sepatu setelah melepaskannya sambil duduk di lantai teras. “Mama gak masak?”
“Um...” Shinta menggerakkan rahangnya. “Telur ceplok sama tumis kangkung doyan?”
__ADS_1
“Doyan!” seru Mikaila.
Shinta geleng-geleng kepala. Dia nampaknya perlu memberi jatah preman biar tentram sementara Tegar menahan Dinda yang berseru memanggil nama Mikaila.
“Kak Mikaila bukan guru lesmu lagi!”
“Ya udah, biarin. Tapi kak Mika teman aku. Kak Tegar minggir!” seru Dinda kesal.
Shinta menurunkan tangan Tegar yang mencengkeram kusen pintu. “Udah deh jangan usil sama adiknya terus.”
Tegar mengacak-acak rambut Dinda sebelum menggendongnya ke dalam rumah. Dinda menjerit-jerit sambil memukuli punggung Tegar dengan gemas.
Mikaila tersenyum. Sayang banget sama adiknya.
“Kak Mika, kak Tegar rese.” Dinda menghamburkan diri ke pelukan Mikaila setelah Tegar menurunkannya di kamar dan nyaris menguncinya agar tidak mengganggunya berpacaran.
Di dapur Shinta tersenyum meledek. “Kayaknya abang gagal berduaan nih.”
“Apaan sih, Ma.” Tegar menuangkan air putih ke dalam gelas. “Tegar mau balapan, motor papa jadi taruhannya!”
Shinta menghentikan aktivitasnya menggoreng telur. “Kamu yakin?”
“Mama doain Tegar dapat mobil sekaligus mempertahankan motor papa.”
“Ya ampun, Tegar. Masa iya mama harus doa semoga anakku menang balapan ke Tuhan!”
Tegar tergelak. Ibunya terlihat lucu. “Mama gak liat tulisan di belakang truk-truk besar? Doa ibu adalah sebaik-baik doa mujarab!”
Karena saking gemas dan jengkel, Shinta menabok pantat Tegar dengan sotil. “Kamu ya, bisa gak sih sehari aja gak usah cari gara-gara. Mama cepet tua nih jadinya.”
“Gak juga tuh, Ma. Orang mama lebih muda dari ibu Mike.”
“TEGAR!”
Sekonyong-konyong anaknya itu pergi ke ruang keluarga sambil tergelak. “Sorry atas keributan di dapur.”
Mikaila membebaskan kuping Dinda yang ia tutupi. “Emang dasarnya kamu gila ya, Gar! Heran aku.”
Tegar duduk di samping Mikaila seraya menyandarkan kepalanya. “Hidupku udah gila sejak lama. Sama kamu aku semakin menggila!”
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^