
Tiba di stasiun Gambir, padatnya arus kedatangan dan keberangkatan di malam hari terasa lebih lengang. Mereka-mereka yang melewati perjalanan nyaris sembilan jam itu merenggangkan otot-ototnya yang kaku seraya bertatap-tatapan.
Muka Tegar yang kusut membuat Mikaila tersenyum geli. Sepanjang perjalanan tadi memang mereka bisa bersama-sama karena Sera melonggarkan pengawasan dengan menyuruh Dinda berada di antara mereka. Sungguh cerdik sekali mama satu itu pemirsa.
“Terima nasib ajalah, Gar. Pacaran backingannya banyak!” ucap Mikaila. Sera yang berdiri di belakangnya menyerahkan koper Mikaila.
“Sebelum janur benar-benar melengkung dan belum jadi sarjana tanpa penghasilan jangan harap restu turun dari bumi khayangan! Contoh itu kak Vian.”
“Iya calon mama mertua.” celetuk Tegar. Sera sendiri langsung mendorong bahu Mikaila agar jalan keluar sementara Tegar menatap ibunya sambil tersenyum geli. Ia benar-benar lelah secara mental. Situasinya bukan lagi pulang dengan harapan, tapi pulang mencari keputusan. Berat juga persoalan pemuda yang saban kali suasana kereta hening, kegentingan di kepalanya membuatnya gelisah. Dia tahu Shinta akan mengambil jalan keluar.
Setelah keluar dari kereta, mereka menyempatkan diri makan malam di kedai sebelum menuju jemputan. Daffa, Wicak, dan ibunya transit hotel, keluarga Tegar dan Mikaila akan bermalam di satu rumah yang Tegar rindukan.
“Besok pagi gue jemput, kita jadi detektif.” seru Tegar setelah sahabatnya turun dari mobil.
Tak terduga, kepala Daffa dan Wicak melongok ke dalam mobil lewat jendela mobil. “Ajakin kita ke tempat cewek-cewek cantik, Gar. Anak gaul JKT!”
Tegar spontan memalingkan wajahnya ke Mikaila yang terbatuk-batuk dengan sengaja. “Cewek-cewek cantik dan anak gaul JKT mana yang mau kamu persembahkan, Gar?”
__ADS_1
Shinta mengulum senyum sementara Sera melihat betapa premannya suara putrinya.
Tegar meringis seraya mendorong wajah sahabatnya dari jendela mobil dan menutupnya.
“Jalan, Pak!” ucapnya dengan seringai geli.
Mikaila cemberut. Membayangkan Tegar memiliki banyak teman cewek yang cantik dan gaul membuat benang cemburunya tersulut api. Dia memalingkan wajah, memandangi warna-warni lampu-lampu di gedung-gedung tinggi lebih minat dari yang seharusnya.
Tegar sendiri spontan merasa cinta cewek itu masih ada. Alih-alih bahagia, dia justru geli melihat respon ceweknya gitu amat. Alih-alih bahagia, dia justru geli melihat respon ceweknya gitu amat.
Enam bulan ninggalin Jakarta udah cukup mengubah semua yang ada kemarin. Cewek-cewek cantik gue pasti juga udah dapat gebetan lain.
“Apa jangan-jangan papa nyuruh orang buat jaga rumah ini, Ma?” tukas Tegar, matanya mengamati tanaman hias yang tetap tumbuh, lampu teras dan keset yang sama.
Shinta sendiri tidak tahu menahu perihal itu. Sebelum ke Solo ia mendiamkan Harris dan tidak terjadi perbincangan serius.
“Coba kita ke dalam.” Shinta membuka pintunya dengan kunci rumah yang ia bawa.
__ADS_1
Dan ia terbelalak melihat siapa penghuni yang terkejut melihat tamu tak di undang itu.
Dinda berlari ke arahnya sembari merentangkan kedua tangannya. “Paa... Pa....”
Tegar mendapati ibunya berbalik, menatapnya. “Berbulan-bulan papa abai dengan kita, ternyata tidur di sini juga dia! Mama gak habis pikir, Gar.”
Mikaila dan Sera spontan saling pandang. Plis, plis, plis, jangan berantem. Mama makin takut nanti aku punya mertua broken heart! Batin Mika.
Harris menggendong Dinda dengan wajah senang seraya menghampiri orang asing yang bersama keluarganya.
“Silakan masuk, kalian pasti lelah.”
Tegar menatap Mikaila dan Sera dengan ekspresi yang dipaksa setenang mungkin.
“Welcome home, ladies. Dan ini kenalin papa Harris. Pa, ini Mikaila dan Tante Sera. Calon istriku dan besan papa!”
Harris tersedak dalam sandiwara yang diperankannya.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung^^^