
Acara resmi wisuda dan pelepasan siswa berakhir. Dan itulah yang di tunggu-tunggu seluruh murid Garuda Pradipta Jaya.
Tegar beranjak dari kungkungan ayah dan ibunya saat Daffa dan Wicak memanggilnya dengan siulan. “Bray, buruan!” seru mereka di tengah suasana beberapa wali murid yang membubarkan diri.
“Mau ke mana, Gar?” tanya Harris sambil menggenggam ujung jemarinya.
“Pensi!”
“Mau apa?”
“Nyanyi.”
“Perihnya pasti sampai ke dada papa.”
Tegar menarik napas sambil menarik tangannya dengan lembut. Tatapannya pindah ke Shinta. “Pulang aja, Ma. Papa terlalu sensitip. Jantungan nanti!”
Shinta menyunggingkan senyum sampai perlu menutupi bibirnya dengan punggung tangan saat Harris menyentuh dadanya dengan mimik payah.
“Hobinya kan memang nyindir kamu lewat lagu, Mas. Sudah sana, teman-temanmu gak sabar tuh. Mau lempar stik drum.”
Wicak lantas menyembunyikan stiknya di belakang punggung saat Tegar menoleh.
“Buruan!”
“Pergi dulu, Ma.” Tegar melesat di antara kursi-kursi berpenghuni dan nyaris menginjak kaki mereka saking antusiasnya pergi ke panggung.
Shinta pindah ke samping Harris tanpa sedikitpun memindah tatapan pada putranya yang menjemput ceweknya dulu.
“Mau nyanyi apa mereka?” tanya Harris.
Shinta mengendikkan bahu. Sungguh-sungguh tidak tahu. Tegar hanya bilang nge-band, lagunya tidak cerita.
“Dengerin aja mas, nanti malam sudah balik ke Jakarta kan? Sabar.”
Harris membuka nasi kotak yang dibagikan lalu menyantapnya tanpa khawatir. “Sebelum pulang kita perlu konseling pernikahan, Shin.”
“Aku ingin kamu bijaksana mas. Tahunan aku menunggu kabar baiknya, tapi mana. Janji dan kata-kata yang kamu ucapkan hilang bersama kesibukanmu.”
__ADS_1
Dan Harris tersentak akan gebrakan drum dari panggung yang mengagetkan. Wicak beratraksi. Tegar mengalungkan tali gitar di depan standing mic dan Mikaila berdiri di sampingnya. Sementara Melody memegang piano, Daffa bass, Sarina backing vocal.
Tegar tersenyum. “Gue sebenarnya gak pingin pentas lagi, takut di bilang cari muka terus. Tapi ya gimana ya, gue cuma di ajakin ketos pasang badan.”
Rasa percaya diri Mikaila melejit. Tak perlu tawar-menawar atau usaha menolak ajakannya membuat pesta kelulusan mereka penuh arti dan penuh kesibukan demi menumpuk banyak kenangan masa SMA. Sudah jelas Mikaila pasti memaksa saban hari dengan memepetinya terus-menerus.
Tegar memetik sinar gitarnya. Intro. Sekilas tatapannya tertuju pada orang tuanya. “Lagu ini kami persembahkan untuk bapak ibu guru dan para wali siswa. Ada kalanya masa-masa indah harus diakhiri dengan air mata. Maafkan kami yang tak pernah mendengar dan maafkan kami yang tak pernah membuat senyum di hidup kalian. Tapi tanpa kalian, kami bukan siapa-siapa.”
Tegar memetik gitarnya. Mereka membawakan lagu dari The Overtune - Berlari Tanpa Kaki. Mikaila dan Tegar bergantian mengambil bagian menyanyikan liriknya.
Harris pun langsung paham putranya kembali menyentilnya dengan lagu walau begitu dia tetap menikmati nasi kotak dan suara anaknya sambil menilai petikan gitar dan nada suara Mikaila yang kadang fals. Tapi untuk cewek sekelas Mikaila, Harris percaya cewek itu pasti bodoh amat.
Pentas berakhir. Tepuk tangan terdengar berbarengan dengan Wicak yang beratraksi dengan drumnya seraya melempar stiknya ke adik kelas yang berkerumun di depan panggung. Bergantian mereka turun dari panggung seraya keluar gedung serbaguna meninggalkan pensi lanjutan. Dance adik kelas.
“Deg-degan parah aku.” ucap Daffa seraya berlutut di atas rumput taman lalu menelentangkan badan di sana. Membiarkan cahaya matahari menghujam wajahnya.
Tegar melepas jasnya, menyampirkan di pohon kamboja. “Lo mending cuma wo-wo-aya-ya-ya... Gue baca skrip. Akting. Nyanyi. Habis ini minta bayaran Bu Weni gue!”
Mikaila tergelak sembari membagikan air mineral ke teman-temannya. Sarina bagian Wicak. Titik.
“Minta aja, paling-paling ayahmu yang dikasih selembar kertas sakti.”
Tegar menatap Mikaila yang duduk di sebelahnya. Ceweknya keringatan tapi masih enjoy dengan kebaya dan sanggul modernnya. “Gue mau sama dia dan keluarga gue. Ada pesta kecil-kecilan. Mau join?”
“Males. Acara keluarga formal! Yang santai gitu kek, nobar, touring, piknik, yang seru-seru gitu. Lulus kok mager.”
“Gimana, Babe?”
Daffa menghitung hingga hitungan ke tujuh cewek Tegar menjawab.
“Hari ini sih gak bisa, Daff. Tegar lagi pdkt sama bapaknya. Bakal susah cabut dari rumah.” ujar Mikaila.
Kedua bola mata Daffa mengerjap. “Kabur gitu,” sarannya pelan-pelan.
“Gak bisa, papa cabut nanti malam.”
Daffa kembali menggelepar di rumput. “Gak asik!”
__ADS_1
Tegar lantas ikut menjatuhkan diri di atas rumput lalu bersedekap. Wicak sih enggak ya, karena dia sibuk menangani Sarina yang berusaha mengelap keringatnya.
“Ikut gue aja kalo gitu. Makan-makan doang.”
“Di mana? Tapi, Bray. Bapakmu berani juga datang ke sini, ke rame-rame lagi. Doi udah siap kayaknya pamer istri kedua dan anak-anaknya!”
“Sialan Lo berani-beraninya nilai bokap gue!” Tegar mendorong bahunya lalu terkekeh. “Tapi satu kutipan yang masih gue ingat dari bokap waktu nakal di Jakarta. Dari Bill Clinton sih, if you life long enough, you'll make mistake. But if you learn from them, you'll be a better person. It's how you handle adversity, not how itu affects you. The main thing is never quit, never quit, never quit.”
Daffa terpukau sambil menganggukkan kepalanya. Dan Mikaila mendengus. Bromance itu kalau sudah berdua lupa sekeliling. Bukan karena dia tidak diajak, kadang-kadang Tegar memang lebih enjoy membicarakan banyak hal dengan Daffa.
Mikaila menoleh saat rame-rame terdengar dari dalam gedung serbaguna. “Gar... Dela, Mira sama Drew cari gara-gara!” seru Wicak dan Sarina bersama-sama.
Sekonyong-konyong Tegar bangkit dengan tergesa-gesa ke dalam gedung.
Satu komplotan antagonis sekunder itu berada di atas panggung. Membawa ponsel, Dela tersenyum penuh kemenangan.
“Terkadang kesedihan slalu datang memberi kesakitan. Ada yang ngerasain gak di sini? Fatherless? Apalagi kesedihan karena di buang ayah sendiri? Eh tapi gak papa sih ya. Orang cuma simpanan. Wah gila sih ini tapi? Apa kabar Om Harris Abiyasa? Istri tua aman, Om?” celetuk Dela.
Tegar mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Tetapi Mikaila keburu memegangi ikat pinggangnya. “No, babe! Plis.” Mati-matian Mikaila memeluknya dari belakang saat Tegar berusaha mendesak maju.
Tegar menggeram. Amarahnya memuncak. Dia luar biasa murka. Anak panah Dela, Drew dan Mira tepat sasaran. Mira yang kemarin menyempatkan diri liburan di Jakarta mengenal baik wajah Harris yang tersebar di seluruh penjuru kota dan selama acara wisuda, ia menyempatkan diri mencari informasi pria itu dari sanak saudaranya di Jakarta.
Drew terkekeh dengan wajah pongah. “Hai Tegar Julio Raydan Abiyasa. Hati aman gak sekarang? Mau nangis ya gak di anggap sama papa karena bisnis dan kekuasaan lebih penting?”
“Lo semua bangsat!” teriak Tegar.
Shinta dan Harris, Sera dan Adnito berbondong-bondong ke arah panggung. Sera mendekati saudaranya seraya melayangkan kemarahannya dengan memutuskan hubungan persaudaraan.
Shinta mengambil alih Tegar dari Mikaila dengan memeluknya. “Udah, Gar. Udah.”
“Gue terima kalo dia nyerang gue, Ma. Tapi enggak kalo mereka nyerang kalian.” seru Tegar sengit.
“Oke... mama lepas tapi jangan lupa ada mama yang lebih terluka karena itu.”
Seketika Tegar bergeming. Napasnya memburu. Ia tahu benar bahwa apa yang disampaikan ibunya adalah kebenaran.
Tegar menatap ayahnya, kecewa. “Harusnya papa gak perlu datang, harusnya papa di Jakarta sana atau seharusnya papa pake topeng! AND YOU BETTER BACK OFF!” ucapnya dengan murka.
__ADS_1
...***...