
Kemenangan Tegar, Daffa dan Wicak membawa senyum Pak Rama ke langit bidadari yang dipenuhi warna-warni dan penuh pewangi.
“Kalian bisa dan mampu, kenapa harus jadi anak geng?” Pak Rama berdehem setelah menerima piagam dan piala dari Wicak. Playboy itu sedang bahagia setelah membawa nomer hp salah satu peserta olimpiade biologi dengan iming-iming trik dan tips biologi mudah dan cepat.
“Teman main, curhat, di dengar, dan pelampiasan dari sepinya rumah.” jelas Daffa dengan enteng lalu tersenyum. “Tapi Pak, kayaknya emang perlu pilih-pilih teman dan pergaulan. Salah gaul, mama muncul! Taraaa...” Ibunya benar-benar datang, menjemputnya di ruang kepsek dan memeluknya erat-erat.
Daffa tersenyum jengkel. Terlihat anak mama banget dia sekarang.
Pak Rama menyunggingkan senyum. “Untuk hadiah uang bapak serahkan sepenuhnya pada keputusan Bu Weni. Tapi biasanya akan di gunakan untuk administrasi sekolah dulu sebelum di bagi-bagi.”
Tegar berdehem selaku siswa yang memiliki banyak kekurangan administrasi. Daffa meringis.
“Gak usah pake kereta gak masalah kan, Bray?”
“Gak usah basa-basi!” Tegar mengingatkan. “Gue gak mau ngerepotin kalian.”
Dengan segala hormat, pumpung suasana masih mendukung untuk merayu. Daffa menyembah ibumu. “Belikan tiket kereta PP Solo-Jakarta, Mama. Kami mau holiday!”
“Baru sekali juara saja ngelunjak. Kenapa gak tiket pesawat sekalian?”
__ADS_1
“Cukup tiket kereta api, Mama. Soalnya kita rame-rame!”
“Ah kamu nih, Daff. Bikin dompet mama masih tebel aja.”
Sombong amat. Batin Tegar sambil menyembunyikan ekspresinya yang geli dengan bantal kursi.
Pak Rama geleng-geleng kepala. “Kalian boleh pulang, dan ingat Tegar, mobil Rio masih jadi jaminan sebagai permintaan maaf keluarganya. Jadi jangan kamu gadaikan untuk pergi ke Jakarta.”
Tegar merampas haknya, nasi kotak dan minuman Boba di meja seraya mengangguk. “Tapi satu fakta yang belum bapak ketahui tentang Rio dan Dela, mereka pernah making love.” bisiknya sebelum berlalu.
Setelah melancarkan ujian semester dalam waktu seminggu dan melepas pen dan gips, Tegar cukup beruntung tangannya sudah bisa di gerakkan walau pelan-pelan.
Tegar mendatangi Mikaila yang menunggu jemputan di dekat pintu gerbang.
Mikaila merasakan kehangatan cilok itu di telapak tangannya lalu tersenyum. “Aku rasa kita mulai dihadapkan pada suatu pilihan!”
“Apa?” Tegar menyantap ciloknya sendiri. “Pilihan masa depan?” tukasnya serius dengan jantung yang mulai berdebar. Takut ceweknya bicara ngadi-ngadi karena hubungan mereka yang tidak mulus.
Mikaila menatapnya serius. Berlama-lama melihatnya dengan wajah yang memberi pertimbangan. Mikaila terkekeh saat Tegar melipat wajahnya.
__ADS_1
“Pilihan untuk pulang sendiri-sendiri lah. Emang apaan.” Mikaila menyenggol Tegar dengan sikunya. “Kamu jadi ke Jakarta?”
Tegar menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk. “Sebelum bimbingan UN jalan, ketemu bokap adalah impianku.”
“Kalo gak ketemu?”
Tegar tambah melipat wajahnya, “Jangan gitu. “Gue lagi usaha buat mempertahankan nasib kami di sini.”
Mikaila mengelus punggungnya dengan muka prihatin. “Pasti ketemu, kamu dan mamamu hebat. Tapi memangnya harus 19 tahun bertahan tanpa kepastian? Apa kalian nggak mau ambil jalan keluar?”
Tegar menatap awan cukup lama sebelum menatap Mikaila. Ia sungguh-sungguh menatap kisah klasik yang sedang terpampang jelas di matanya.
“Mama yang memutuskan, aku akan mengikutinya dan besok adalah jawabannya. Jadi kamu bisa ikut? Ada ibunya Daffa juga. Mau shopping.” ucapnya dengan geli di kalimat akhir.
Mikaila berdiri saat ibunya datang sambil menekan klakson berulangkali. Posesif banget.
“Usahamu bisa mendapatkanku bisa dimulai dengan merayu ibuku. He...” Mikaila meringis. “Tapi ada yang lebih bagus, cuma ngeselin. Mamaku ikut.”
Tegar memutar mata. Tapi jika itu yang terbaik, oke-oke ajalah daripada ribet. Makanya setelah terima raport di bulan Desember, piknik keluarga dengan tujuan berbeda-beda itu terlaksana. Mereka pergi ke Jakarta dari stasiun Solo Balapan di bawah hujan yang mengguyur.
__ADS_1
...*** ...
^^^Bersambung ^^^