Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 46 : Membingungkan


__ADS_3

Mikaila menarik napas dalam-dalam di tengah persidangan yang dilakukan guru BK, Pak Rahmat dan Pak Rama di ruang kepsek bersama anggota the Evolve Wild yang dicurigai sebagai dalang pencemaran nama baik Dela dan Rio.


Butuh usaha untuk terlihat tidak mengetahui segala kegaduhan yang terjadi dengan sempurna. Mikaila menggeleng, “Aku di hukum mama sebulan gak boleh keluar malam, Bu. Bisa tanya ke mana aku semalam di mana.” akunya dengan suara manis.


“Saya sudah lumayan capek dengan masalahku sendiri, Bu. Tegar juga, mana mungkin kita cari masalah lagi orang Tegar lagi usaha untuk membuktikan ke ortu kita kalo kami bisa jaga kepercayaan mereka.”


Terus, babe. Buat semua pusing. Kita berdua harus saling melindungi!


Daffa menimpali. “Kalo Tegar semalaman sama kita-kita, Bu, Pak. Kita nongkrong doang, ngobrol cinta-cintaannya mereka, terus konvoi. Semuanya clear! Kita gak bikin masalah. Kita cuma hepi-hepi di jalanan!” tandasnya dengan muka serius.


Nama geng baru ia jaga, begitu juga kesetiaannya. Dan itu membuat Pak Rama dan Bu Weni menepi keluar dari ruang kepsek, bisik-bisik serius di dekat pohon palsu


“Ibu hubungi keluarga Mikaila dan Tegar, minta laporan kebenaran.” pungkas Pak Rama, “Saya juga dapat laporan jika Rio mengalami hal serupa. Apa kira-kira mereka hanya ingin menunjukkan kepemilikan dengan pamer kemesraan di muka umum?”


Bu Weni sendiri langsung ketar-ketir. Permasalahan muridnya ini tidak akan selesai-selesai terutama untuk Mikaila dan Dela. Jadi untuk meredakan situasi panas yang akan membuat kredibilitasnya sebagai guru di kelas unggulan sirna, dia mengangguk.


“Sepertinya begitu, Pak. Rio adalah mantan Mikaila, jadi kemungkinan hubungan mereka lagi dalam persaingan ketat. Kita hukum Dela saja dan melepaskan Mikaila serta gengnya, saya yakin orang tua mereka sudah membatasi pertemuan anak-anaknya di luar sekolah!” tandas Bu Weni.


Pak Rama mengiyakan. Mereka kembali ke ruang kepsek seraya memandangi siswa-siswi yang berdiam diri di kursi pesakitan.


“Mikaila dan kalian keluar semua. Kembali ke kelas masing-masing!” Pak Rama menunjuk The Evolve Wild lalu pintu keluar.


Drew mengerutkan keningnya, heran. Demi apa ini Pak Rama melepas mereka tanpa secuil pun gertakan. Ajaib, diskusi macam apa yang mereka lakukan tadi.


Drew berdiri. “Kita gak kena hukuman atau tuduhan lagi, Pak? Kenapa?”


Pak Rama menunjuk pintu keluar dengan rahang mengeras. “Sebelum bapak berubah pikiran, kalian semua keluar, kecuali Dela!”


“Loh, Pak! Aku kan cuma korban, aku juga lagi cari bukti siapa pelakunya.”


“Cukup Dela, ibu ngerti apa yang kamu lakukan hanya pamer dan membuat Mikaila cemburu. Ibu minta kamu tobat dan kurang-kurangin pacaran! Satu lagi, kamu masuk kelas rohis dan ibu berhentikan kamu dari ketua pemandu sorak!” sahut Bu Weni.


Wajah Dela terkejut sebentar sebelum melayangkan protes yang berupa rengekan kesal kepada Bu Weni, mata Dela berkaca-kaca, masalah semalam masih panas, masalah sekolah tambah panas, belum lagi kemarahan Rio nanti dan ini yang paling dahsyat mengguncang dadanya. Masuk ke kelas rohis yang berarti dia harus menggunakan hijab.


Mikaila dan The Evolve Wild menahan senyum ketika keluar dari ruang kepsek daripada kena getahnya.

__ADS_1


“Aku rasa Bu Weni memihak pada kita.” gumam Daffa saat mereka menyusuri koridor yang sepi.


Drew setuju, dalam beberapa hal kelihatannya Bu Weni memang gualak bgt, tapi dia cukup tahu alasannya, kelas unggulan sedang di guncang permasalahan hebat. Makanya dia mengambil jalan pintas. Hal itu sering ia lihat ketika ayahnya melobi klien. One on one solutions.


“Tapi kalian tetap dalam masalah, was-was aja. Jaga nama geng!” saran Drew.


“Oke.” Mereka ke kelas-kelas masing-masing setelah menaiki anak tangga.


Tegar menyentuh jemari Mikaila dengan kelingkingnya. “Thanks udah di bantuin, babe.”


“Your welcome.” Mikaila tersenyum. “Hoki gak ada dua kali, jadi habis ini jangan cari gara-gara dengan pihak sekolah! Banyak ide lain.”


“Saran di terima.” Tegar menggenggam tangan Mikaila dan mengayunkannya. Hatinya senang, ceweknya bisa diajak kerja sama dan itu sangat bagus.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan kelas, dengan berat hati Tegar melepas tangan Mikaila.


“Aku udah buat hasil perkembangan keluarga kodok, Mika. Rancangan mentah sudah ada, tinggal kamu dan gengmu selesaikan.”


“Oke, biar nanti Sarina dan Melody ke rumahmu. Main sama Dinda!”


“Ma, ada gengnya Mika di depan. Mau kerja kelompok. Mama samperin ya.”


Shinta mencabut colokan setrikanya seraya menghapus keringat yang membasahi leher dan pelipisnya.


“Mikaila gak ikut?” Shinta berdiri, mengikuti Tegar ke dapur.


Tegar mengambil akuarium tertutup berisi keluarga kodok yang terpaksa ia rawat sepulang dari praktek anatomi tubuh kodok waktu itu. Bersama ibunya ia bergantian mengamati perkembangan kodok-kodok itu setiap hari.


“Masih di hukum, Ma. Dia juga sibuk persiapan nikahan kakaknya.”


“Kamu sendiri yakin kalo habis jadi sarjana mau lamar Mikaila? Gar, mama tahu rasanya hidup tanpa kepastian.”


“Gelisah sepanjang waktu?”


Shinta mengaduk sirup leci di gelas sambil mengangguk. “Berikan dia keputusan yang bijak, jangan seperti papa. Kamu tidak begitu!”

__ADS_1


Tegar mengenyahkan pendapat ibunya sambil berlalu. Di luar, Dinda langsung menyerbu Melody dan Sarina dengan kegiatan bercerita dari ujung timur ke ujung selatan sampai mulut Melody dower saking seringnya ia bicara dusta tentang Mikaila.


“Adik gue kangen sama kakaknya. Jadi sorry ngerepotin.” ucap Tegar.


Melody langsung berterima kasih setelah minuman datang. Tak perlu sungkan ia langsung menghabiskannya.


Sarina menyenggol lengannya. “Malu-maluin, Mel.”


“Haus banget aku, Sar!”


Tegar memegangi bahu ibunya yang tersenyum lebar. “Tante buatkan lagi, mau?”


“Gak, gak perlu Tante.” Melody menggeleng. “Tapi bolehlah segelas lagi.”


“Aku aja yang buat, Ma. Sekalian ada urusan, kalian bisa tanya ke nyokap perkembangan kodok-kodok ini. Mama tau.”


Shinta mengiyakan dan cewek-cewek di teras itu membiarkan Tegar masuk ke rumah.


Tegar ke kamar, ia membuka tas seraya mengeluarkan paper bag dari Mikaila.


Secarik kertas ia temukan bersama undangan pernikahan Alvian.


...Datang ke rumahku malam Minggu....


Tegar mengernyitkan dahi. “Kalo di marahi lagi? Seneng banget ambil risiko.”


Tegar mengeluarkan lagi hadiahnya. Sebuah parfum. Makin carut marut hatinya. Penuh praduga. Parfum, undangan pernikahan di malam Minggu? Punya rencana apa Mikaila?


Alih-alih senang, Tegar malah dilanda was-was, penasaran dan tidurnya tak nyenyak sampai hari Sabtu tiba. Menggetarkan jantungnya dan membingungkan pikirannya.


“Datang, enggak, datang, enggak! Sialan.” Tegar menendang udara. “Giliran serius, gue malah jadi pengecut gini. Oh, Tuhan.”


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2