
Ranum senja terpancar di ufuk barat dengan merona. Pesta kebun di sebuah taman hotel yang asri dan cantik mungkin menjadi hari terkonyol bagi Mikaila dan Tegar. Tak mungkin tidak, berbulan-bulan segala kejadian penuh drama berakhir di sana, pesta pertunangan yang belum mereka bayangkan akan terjadi.
Tegar menyunggingkan senyum geli di tengah keluarga inti dan para sahabat yang duduk manis mengelilingi satu meja panjang yang di hiasi bunga-bunga segar yang kontras dengan warna taplak satin yang berwarna brown sugar. Ayahnya agaknya lagi konslet, pesta pertunangan itu harusnya tidak perlu semewah itu seolah-olah LDR nanti akan berakhir pada pernikahan.
“Kalian sudah siap?” tanya Sera. Wanita itu luluh lantak oleh rayuan Harris yang ampuh. Tak heran Shinta kepincut dengan buaian seorang Harris Abiyasa. Tapi harusnya Harris tobat saja, tapi itu tidak mungkin, konon pria seusianya sedang gencar-gencarnya puber kedua. Sera bergidik, namun faktanya banyak di luar sana.
“Bagaimana Mikaila, apa kamu berubah pikiran?”
Mikaila menggaruk kupingnya. Salah tingkah waktu semua orang menatapnya.
“Emang Mika harus apa selain siap? Toh kalian yang minta Mikaila tunangan.”
Sera menatap Tegar yang maskulin, rapi dan sejak bertemu dengannya tadi senyumnya tidak luntur. “Kamu bagaimana, Gar?”
Tegar menyunggingkan senyum sejuta dolarnya. “Gue slalu siap, Tante!”
Sera memutar mata, pertunangan anaknya dia serahkan ke Harris yang duduk di ujung meja.
Harris meminta maaf atas kekacauan yang terjadi selama putranya berada di kampung halaman istrinya. Dan, ia meminta maaf kepada pawang anaknya untuk mengambil alih tugas itu kembali.
Jelas Mikaila langsung senang bukan main. Mengurus Tegar bukan hanya pake hati. Tenaga, pikiran serta tambahan gejolak masa mudanya membuatnya super sibuk.
“Makasih banget, Om. Emang sudah saatnya Tegar kembali ke pawang sebenarnya. Woah, aku bebas!”
Mendengar itu, Tegar langsung melemparinya dengan serbet makan. “Bebas apanya! Lo masih harus setia, telepon gue setiap hari dan nunggu gue dengan sabar. Enak banget, bebas!”
Mikaila menyeringai sambil mengibaskan serbet itu dan meletakkan ke pangkuannya.
“Yaiyalah bebas, kamu kira ngurus kamu setahun ini gak capek apa? Aku di marahin mama setiap hari gara-gara jadi bad girl. Ah... Leganya.” Mikaila bersulang sendiri dengan gelas kakaknya.
“Mik...” Tegar mengeluh dengan mimik kasian. “Lo cuma menutupi kesedihanmu dengan pura-pura senang kan jauh dari gue? Lo sebenarnya gak mau jauh-jauh dari gue kan?” tukasnya tanpa ampun.
“Gak juga tuh!” Mikaila menjulurkan lidahnya. Meledek kesedihan Tegar yang kentara.
__ADS_1
“Karena dengan gini aku tetap jadi cewek sok, aristokrat, berkelas, tak tersentuh dan jauh dari kemarahan mama. Ya walaupun kangen banget sama kamu pasti, tapi gak ngaruh sih.”
Tegar kembali melayangkan serbet milik adiknya. Kesal, kemarin ceweknya bilang cinta banget sekarang drama apa ini.
“Terus ngapain Lo cium-cium gue kemarin sampai mau nemenin gue tidur. Lo munafik!”
Mikaila menuding Tegar seraya menundukkan kepala. “Mulutmu ketularan Daffa. Ember!”
“Lagian kamu sarap, Mik. Tegar kan jadi mikir kamu cuma main-main. Sarap!” celetuk Wicak.
“Halah. Tapi suwer, Ma. Aku cuma nemenin Tegar tidur sambil duduk, gak sambil bobok. Sumpah.” akunya dengan serius.
Sera menatap keduanya sambil menguncupkan bibir. “Memang ini jalan terbaik buat kalian! Mas Harris lanjutkan acara pertunangan mereka.”
Harris mengangguk dan sudah terbayangkan olehnya bagaimana Tegar dan Mikaila bertemu. Ribut mulu.
Harris berdiri, dia mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jasnya.
Mikaila dan Tegar yang berdiri berhadapan saling bertatapan. Mikaila menyunggingkan senyum geli seolah tidak percaya dia bertunangan di usia belasan tahun.
“Om aku deg-degan.” ucap Mikaila saat mengambil cincin itu dari tempatnya. “Om bisa jaga Tegar kan? Om bisa jamin dia gak dekat-dekat cewek lain?”
“Om usahakan.”
“Om harus janji dulu kalo gak, gak mau nih tunangan.”
Sekilas Harris menatap Tegar yang berwajah kecut. Semudah itu ternyata membuat anaknya bad mood. Harris menganggukkan. “Om janji!”
“Yeyy, sekarang kamu berada di tempat yang tepat, Gar. Walaupun pasti awal-awal gak mudah, aku yakin semua hanya urusan waktu.”
“Labil Lo!” Tegar mengangkat tangannya dari sisi tubuh, membiarkan Mikaila menyematkan cincin itu terlebih dahulu sebelum gilirannya.
Tegar berlutut satu kaki, matanya mengeksplorasi kaki mulus ceweknya yang terbuka sembari mendongak.
__ADS_1
“Gue minta maaf kalo pada akhirnya kita tunangannya terlalu dini dan gue harus ninggalin Lo. Gue gak mau, tapi semua sudah terlanjur tahu bokap punya istri dua dan akan lebih mudah mengurusnya jika kami ada di tempat yang sama. Lo dan semuanya yang ada di hidup gue waktu terpuruk adalah para jagoan gue. Thanks, Mik, Daff, Wic, Mel, Sar. Gak akan pernah terputus persahabatan ini.”
Mikaila mengelus bahu Tegar ketika suaranya menjadi bergetar. “Udah ayo tunangan aja. Biar makin banyak cincin di jariku.”
Tegar berdiri, dia menggapai jemari Mikaila dan menyematkan cincin bertahtakan berlian biru.
“Gue bakal beliin lagi dari hasil kerja keras gue, bukan dari bokap.”
“Terserah elu.” Mikaila tersenyum seraya memeluk Tegar. “Baik-baik ya di sana dan jadilah Tegar yang biasa aja! Aku takut kalo kamu keren banyak yang suka.”
“Gue setia.” Lo tuh yang baik-baik di Jogja. Pepatah bilang, jangan jatuh cinta di Jogja nanti susah lupa!” Tegar mendesis dan serentetan peraturan baru dia berikan dan itu lebih parah dari peraturan Sera. Tidak boleh pake celana pendek, rok ketat, baju seksi dan make up cantik.
Mikaila memutar mata. Tapinya sudahlah, ia membiarkan Tegar berdamai dulu dengan hatinya saat ini dengan menyetujuinya. Tiga atau empat tahun lagi bukan waktu yang singkat. Dia yakin banyak perjalanan dan kejadian yang akan menghampiri mereka. Bisa langgeng jaya saja sudah syukur apalagi lulus kuliah tanpa kendala.
Harris mempersilahkan tamu-tamu undangannya menyantap sajian dari restoran hotel. Sarina jelas kalap, dia sampai mengambil udang goreng milik Wicak dan melahapnya. Wicak mendengus sambil menginjak kakinya.
“Caranya jauh-jauh dari cewek ini gimana sih, Mik? Aku sesak napas diganggu terus!”
Mikaila terbahak, “Jadian aja toh, witing tresno jalaran saka njarak.”
Wicak mendengus, dia membawa piringnya ke samping Alvian karena alih-alih ikut makan Mikaila dan Tegar pergi ke ayunan di dekat kolam renang.
Mikaila bersandar di tubuh Tegar. “Rencana bisa berubah kapan saja ya, Gar. Padahal dulu kita sama-sama berharap bisa menghentikan waktu biar terus sama-sama.”
Tegar menyelipkan helaian rambut yang menutupi pipinya ke belakang telinga seraya mencium pipinya. “Untuk masa depan yang lebih baik, aku rasa gak masalah kita begini dulu. Kita bisa gantian berkunjung.”
“Janji?”
“Slalu.” Tegar merangkulnya. Mikaila tersenyum, membiarkan takdir mereka mengalir sebagaimana mestinya. Sementara tiga bocah di luar sana mendapatkan tamu istimewa. Polisi dan algojo spesial dari Harris.
...***...
^^^Bersambung ^^^
__ADS_1