Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 76 : Takut


__ADS_3

Mikaila memamerkan tatto kecilnya saat Tegar terbangun dari tidur nyenyaknya. .Tegar mengerjapkan mata seraya mengecup kulitnya yang kini merah dan sedikit berdarah.


“Lo cari masalah sama Tante Sera, Babe.” Tegar tersenyum, tak mampu membohongi hatinya saat cewek yang mati-matian dia perjuangan setiap hari dalam jarak dan kegiatan yang memisahkan temu dan rindu ikut merajah kulitnya dengan namanya di tambah bentuk love yang berada di ekor huruf g.


“Makasih.” Tegar hampir menubruk bibir selembut beludru ceweknya jika seniman tato yang menemani Mikaila bercerita tidak berdehem. “Biayanya bos!”


Tegar nyengir seraya mengusap matanya. “Berapa lama gue tidur, Mik?”


“Tiga jam Lo. Kita sampe beli mi ayam, jus, nonton film sambil dengan live music dari mulutmu!” cerocos Mikaila membersihkan kotoran mata Tegar. “Dah bayar dulu!”


Tegar mengambil ponselnya seraya membayarnya lewat m-banking dengan tubuh lunglai. Nyaris sepuluh juta dia gelontorkan demi membereskan omongan Mikaila tak kurang dari setengah hari.


“Trims, Kak. Doain gak di marahin mama!” seloroh Tegar sembari memakai jas tanpa kemejanya. Tato baru itu harus terhindar dari pakaian ketat.


Mikaila mencibirnya sembari memasukan satu persatu kakinya ke sepatu hak tinggi.


“Kan udah sering di marahi mama tiri, harusnya mamaku doang kecil!”


“Yang penting bawa santailah, nikahnya lancar, urusan di marahi mama dengar aja, gak usah lawan. Udah begitu kodratnya emak-emak.” sahut si seniman sembari membekali Tegar dengan selembar kertas berisi saran perawatan tatto.


Tegar mengiyakan seraya meminta satu batang rokok dan menyalakannya sebelum keluar studio tatto.


Mikaila mendengus. “OMG, aku harus menghadapi laki-laki bad boy ini lagi setelah empat tahun hidupku santai dan damai.” gerutu Mikaila sembari duduk menyamping di jok dan melingkarkan tangannya di pinggang Tegar.


Tegar memakai helmnya seraya melepas rokoknya dari bibir. “Kamu masih belum hafal sama aku sayang? Mau aku perjelas siapa aku sebenarnya?” godanya sambil menggeber motor.


Mikaila jelas menggeleng, tidak mau, tidak perlu diperjelas, paling-paling Tegar berusia 19 tahun dan 24 tahun beda tipis. Dari segi body, tubuhnya lebih keras dan dari segi uang lebih oke, yang tidak berubah cuma sikapnya itu. Lebih matang dari sekedar bad boy ingusan. Lebih ngeri dan Mikaila sadar, ia menginginkan lebih dari empat tahun untuk siap ke jenjang pernikahan.


Tegar menyentuh punggung tangan Mikaila di perempatan jalan menuju kost tunangannya.


“Kenapa diam?” tanya Tegar dengan sedikit menolehkan tubuh. “Wajahmu mikir? Mika... Ada yang salah di pikiranmu?”


“Ada sih, cuma kamu pasti gak suka dengernya.”


Tegar langsung bersedia mendengarnya meski cemas melanda, tetapi di kost Mikaila ramai dikunjungi oleh keluarga termasuk Alvian sekeluarga, Sarina, dan Melody—mereka kuliah di kota yang sama—menggagalkan keinginan Tegar.

__ADS_1


Mikaila mengumbar senyum seraya berpelukan dengan Sarina dan Melody lalu menggendong keponakannya. Sementara Tegar berjabat tangan dengan sahabat ceweknya lalu keluarga Mikaila.


Tegar tersenyum dengan ekspresi mengisyaratkan sesuatu. “Om sama Tante sehat?”


Sera dan Adnito saling melirik ketika Tegar duduk di samping mereka di sebuah pendopo yang menjadi ruang tamu penghujung kost.


“Kami sehat, Gar. Kamu apa kabar? Darimana tadi sama Mikaila?” tanya Sera.


Tegar langsung memamerkan wajah boneka hidup Sera di dada kirinya. “Bikin tatto Mikaila karena aku curiga dengan Ares dan Mika menuduhku tidak mempercayainya.”


Sera menarik napas. Mendadak hal yang Mikaila rasakan menular ke Sera, Tegar kembali mengguncang keluarganya dengan tingkah lakunya yang lebih ekstrim dari masa SMA.


“Ares anaknya om Armand, adiknya papa Adnito. Satpam Tante di sini, sebentar lagi datang.”


Tegar mengerutkan hidung. Masih cemburu rasanya mendengar nama Ares di sebut.


“Tapi Om sama Tante gak lupa kan sama janji kalian sebelum aku pulang ke Jakarta?”


Terngiang-ngiang lah kondisi bandara empat tahun lalu ketika perpisahan keluarga Abiyasa dan Adnito terjadi di saat keluarga Dela, Mira, dan Drew mati-matian berusaha menyelamatkan diri dari bayang-bayang penjara. Sera berjanji untuk menyerahkan Mikaila ke Tegar ketika pemuda itu sudah menepati janjinya. Kini Tegar yang sudah memiliki rumah sendiri, pekerjaan, dan pendidikan bagus di usia muda menagihnya.


“Oke.” Tegar mengangguk pelan. “Sebulan atau dua bulan lagi mungkin, Tante. Udah gak sabar aku!”


Mikaila yang mengobrol dengan sahabatnya bergidik sampai mukanya berkerut. “Serem banget tau gak sih, gorila itu makin percaya diri setelah di akui ayahnya.” katanya pelan seolah semakin pelan suaranya semakin valid.


Melody tergelak. “Di sebut gorila sama Mika, Gar.”


“Udah biasa!”


Mobil Agya yang berhenti di lahan parkir kost-kostan menyita perhatian Tegar. Dia mengamati seorang pemuda dua lima tahun keluar dengan membawa sekantong makanan dan minuman.


“Rame bener.” puji Ares.


Tegar pindah ke belakang Mikaila sementara Alvian kontan mengambil anaknya dari gendongan Mikaila, membiarkan Ares memberi selamat pada adiknya yang langsung memeluknya sekilas.


“Makasih, sepupu rese.”

__ADS_1


“Selesai tugasku.” Ares mengamati Tegar, dia tahu sepak terjang tunangannya Mikaila.


“Kamu di cariin anak-anak The Evolve Wild tuh untuk menuntaskan The Horizon Blast!”


Tegar mengendikkan bahu, alih-alih marah yah, dia memang perlu berterima kasih pada Ares telah menjaga ceweknya dari incaran cowok-cowok lain. Tegar memeluknya seraya menepuk-nepuk punggungnya.


“Daffa yang melanjutkan Evoleventador, The Evolve Wild kayaknya bubar setelah Drew di penjara setahun.” ucap Tegar.


“Kamu bener, Gar. Masalahnya setelah Drew keluar penjara dia gabung ke Horizon Blast, bikin geng baru. Mereka sering buat onar.”


Tegar melirik Sera dan Adnito seraya angkat tangan. “Gue gak mau ikut-ikutan geng lagi! Kerjaanku ngumpul.”


“Tapi mereka masih ganggu Daffa dan Wicak.” sahut Mikaila. “Mereka kasian.”


Tegar menarik napasnya seraya menganggukkan kepala. “Oke. Sekarang selesaikan urusanmu di sini dulu baru nanti reuni lagi.” Tegar mengelus pipi Mikaila lalu melirik Sarina dan Melody.


“Gue pikir Drew kapok. Mereka apa kabarnya?”


Sarina lalu tersenyum malu. “Wicak... Umm...”


“Dah jadian tuh sama Sarina.” potong Melody. “Tapi Wicaknya masih gitu. Lakinya Sarina mana tobat tapi nih cewek cinta mati sama Wicaksono!”


Tegar dan Mikaila tertawa. Mikaila lalu pamit ke kamar bersama ibu dan kakak iparnya untuk ganti baju


“Ma, sumpah emang benar satu apa dua bulan lagi aku nikah sama Tegar?”


“Mama pernah nantang Tegar, Mik. Sekarang dia sudah membuktikan. Masa mama ingkar.” keluh Sera seraya membantu Mikaila melepas kebayanya.


Mikaila menggenggam tangan ibunya. Panik.


“Jujur, Ma. Aku belum siap!”


Sera menatap keluguan putrinya. “Masalah itu bisa kamu bicarakan sama Tegar. Toh apapun yang terjadi Tegar bukan penjahat, dia cuma sangar!” ledek ibunya sambil mencolek dagu Mikaila. “Dia gagah dan kuat, kamu pasti aman.”


Kakak iparnya tersenyum penuh arti dan Mikaila menguncupkan bibir seakan pernikahan nampak menakutkan di pikirannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2