
Olimpiade biologi antar SMA itu berlangsung di gedung serbaguna di luar seluruh SMA yang berpartisipasi dalam perlombaan. Kondisi netral dan terbuka itu membuat Tegar, Daffa dan Wicak merasa wajib melakukan yang terbaik.
Di luar gedung, Mikaila menyusul setelah Bu Weni menduga muramnya wajah Tegar sebelum berangkat tadi karena tidak adanya si pacar yang menjadi suporter.
“Kamu langsung masuk, bikin semangat.” saran Bu Weni ketika Mikaila memegangi lututnya sambil bernapas dengan mulut.
“Bagi minum dulu bisa, Bu? Haus, capek.” celetuk Mikaila dan Bu Weni memanggil abang-abang penjual minuman keliling untuk mampir.
“Pokoknya bikin sekolah kita menang, Mikaila! Jangan kasih kendor dukungannya.”
“Iya.” Mikaila mengambil empat botol minuman isotonik seraya memasukannya ke plastik. “Trims, Bu Weni.”
Bu Weni menarik kedua sudut bibirnya. “Untung pajak preman sekolah lebih murah dari beli skincare dan penurun tensi tinggi.” keluhnya lalu membayar.
Mikaila memantau keadaan sembari cengar-cengir di tengah padatnya siswa-siswi pendukung sekolah masing-masing saat mencari Tegar.
Di dalam gedung olahraga itu tak cuma olimpiade biologi, ada olimpiade lain yang terbilang tak kalah seru.
Mikaila mendatangi cowoknya dengan mengagetkan jantungnya dari belakang.
Tegar tersentak dan spontan memutar tubuh.
“Sialan, Mikaila. Gue kira siapa.” Ia berdecak seraya mencubit hidungnya gemes. “Kok ke sini, bukannya ogah kemarin?”
“Di suruh Bu Wen buat kasih semangat kalian. Semangat ya.” Mikaila tersenyum. “Aku yakin kalian jadi juara.”
Tegar, Daffa dan Wicak memutar mata. Masih jengkel sebenarnya dengan kejadian di mana orang tuanya membawa polisi untuk menakut-nakuti mereka dan berakhir dengan keadaan yang terjadi sekarang.
__ADS_1
“Yakin doang mah aku juga bisa, kasih hadiah kek apa kita taruhan aja?” saran Daffa sambil memainkan alisnya.
“Udah lama kita gak taruhan.”
“Mau taruhan apa emangnya?” tanya Mikaila dengan muka menantang. Bentar lagi libur semester dan ia bisa bermimpi hubungannya dan Tegar membaik.
Tegar tersenyum cerdik. Menangkap umpan Mikaila dalam sekali hap. “Gue mau ke Jakarta, jadi kalo kita menang Lo nemenin gue ke sana!”
“Itu sih maumu dong, Gar. Kita dapat apaan? Abab doang!” sembur Daffa tidak terima.
Tegar terkekeh tanpa suara. “Kalian bisa ikut. Menang olimpiade dapat duit kan. Kita bisa naik kereta sambil ngasuh adik gue!”
Kini giliran Mikaila, Daffa dan Wicak yang melayangkan protes. “Enak di Lo gak enak di kita, Juliooo!” bentaknya bersama-sama hingga membuat Bu Weni nyaris histeris.
“Kalian bisa tidak berkhayalnya nanti dulu? Pertandingan belum di mulai anak-anak!” serunya sambil menyentuh jam di tangan.
“Udah kumpulnya, kalian pergi ke stand lomba sekarang!”
Bu Weni bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak seperti yang di lakukan Mikaila. Asyik juga.
Bu Weni menyatukan keduanya tangan di depan mulut hingga membentuk sebuah corong.
“Ayo, Tegar, Daffa, Wicak... Kalian keren, bawa pulang duitnya!”
Mikaila spontan terdiam dan melirik Bu Weni yang ikut diam. “Ibu yakin ngomong itu?” tanyanya heran.
“Yakin dong. Biar khayalan mereka semakin kuat.” akunya dengan riang.
__ADS_1
Mikaila tak acuh dan mengembalikan tatapannya ke stand lomba. Skor sementara SMA Garuda Pradipta Jaya berada di peringkat pertama dan detik-detik terakhir dalam lomba itu membuat seluruh peserta lomba diam begitupun penonton. Mereka mendengar pertanyaan terakhir dengan seksama dan yak. Tegar menekan bel penuh ambisi.
“Lamarck, Charles Darwin dan August Weismann sebagai pencetus evolusi.”
Pertandingan berakhir, gemuruh suara tepuk tangan dari pendukung SMA Garuda Pradipta Jaya terdengar paling keras.
Tegar, Daffa dan Wicak mengangkat tangan ke udara. “Bersatu kita teguh, bersama kita menang!” Mereka tergelak alih-alih berpelukan dan berurai air mata setelah membawa pulang hadiah lima juta rupiah dan tropi piala. Mengalahkan sekolah Rio yang berada di peringkat ketiga.
Mikaila dan Bu Weni menghampiri mereka di dekat podium.
“Keren banget anak-anak ibu, gini dong, sekali-kali bikin sekolah bangga dengan prestasi. Ibu jamin orang tua kalian akan senyum-senyum.”
Itu sih pasti. Mama setiap hari senyum.
Tegar menerima minuman isotonik yang di bagikan Mikaila. “Cie bentar lagi bisa ke Jakarta.” godanya dengan watak yang sudah berubah.
Tegar tersenyum. “Aku harus ke rumah sakit dan ujian semester dulu. Jadi, perlu berapa hari lagi biar kamu bisa siap-siap ikut ke sana.”
Mikaila mengelus lehernya sambil tersenyum ragu. “Aku gak bisa, Gar. Mama bener-bener bakal angkat tangan kalo aku buat masalah lagi.”
“Kalo mamaku yang minta izin?”
“Coba aja.”
Bu Weni yang mendengar tersenyum sambil menengahi keduanya. “Udah, daripada berantem lagi mending kita makan. Gak enak baru seru-seruan tapi sibuk sendiri.”
Dengan senyum yang Tegar rindukan, Mikaila mengiyakan. Namun terbersit di benaknya untuk memberikan Shinta kesempatan merayu ibunya. Heuheu...
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung ^^^