Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 34 : Hukuman


__ADS_3

“Ada yang salah sama aku, Mika?” Tegar menatap ceweknya dengan mata tajam sehitam raven dan segelap rambutnya.


Sambil berlutut, Mikaila menumpuk buku-buku yang sengaja diobrak-abrik Dela dan Mira setelah mereka mengetahui hukumannya.


“Mika, kenapa?” ulang Tegar karena ceweknya hanya diam.


Daffa melongok ke arahnya dengan seragam yang sudah berantakan. “Si Ketos ngambek, nilainya turun. Padahal selisihnya cuma beberapa angka doang. Segitunya, Mik.” cibirnya seraya duduk di tepi meja.


“Penting bagimu terlihat paling oke di kelas?”


“Sstt...” Mikaila menginterupsi. “Ada hal yang gak kalian ketahui!” ucapnya dingin.


Tegar meraih tumpukan buku dari Mikaila seraya menyusunnya ke beberapa rak sesuai judulnya. Bersyukur, Dela dan Mira bertingkah hingga ada jam lebih bersama pacarnya yang bisa ia jumpai dengan mudah di sekolah.


“Saingan sama sepupu sendiri emang ribet, Daff. Gak caper gak oke, diam doang pasti di sleding. Kita beruntung gak perlu segitunya biar dapat perhatian.”


“Tapi cara kalian salah!” sahut Mikaila.


Tegar mengusap tangannya yang berdebu ke celana. “Emang salah, tapi kita gak menuntut diri ini sempurna seperti kamu, Mika. Enjoy aja lagi, hidup cuma sekali, gak bisa kamu terus-terusan menjadi yang sempurna demi apapun yang kamu perjuangkan sekarang!”


Harusnya begitu, tapi semua sudah terlanjur mendarah daging bahkan semenjak dia dan Dela SD. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik, dilihat dan disayang. Siapa yang tidak mau disayang, semua mau.


Tegar berlutut di depannya. Merasa bersalah karena ceweknya murung, berbeda sekali dari biasanya.


“Aku bisa ngalah demi kamu, cuma aku perlu membuktikan pada mama kalo aku masih pintar. Bukan cuma pintar balapan doang, kamu ngerti?” Tegar mengangkat dagu Mikaila, membuatnya menatapnya. “Daffa atau yang lain mungkin juga mau sepertimu, di posisimu. Tapi kamu slalu di tempat itu. Di singgasana terbaik yang kamu raih mati-matian tapi mikirin yang lain. Sekali-kali coba kasih kesempatan mereka. Dunia gak seburuk pikiranmu walaupun nilaimu turun, rambutmu kusut, atau Dela lebih baik. Kebahagiaan ada di tanganmu, bukan pendapat orang lain tentang pencapaianmu!”


Daffa mengangguk. “Pacarmu emang kadang-kadang sok bijak, Mik. Makanya aku sempat mikir, Drew di ganti aja apa ya sama Tegar.” Daffa menerawang.


Mikaila diam, mencerna, pacarnya kemarin tidak berbuat baik dengan mengajaknya bolos sekolah dan berantem, sekarang dia mau meruntuhkan dinding kesempurnaan yang ia bangun susah payah?


“Tegar..., gak semudah itu, nyaliku belum cukup besar untuk jadi kalian. Lagian aku mau masuk ke universitas ternama dengan jalur prestasi, dapat beasiswa dan kalo bisa jauh dari keluarga. Aku mau ke Jakarta, UI atau Jogja, UNY.”

__ADS_1


“Oke, aku usahakan bisa masuk ke salah satu kampus itu tanpa menggunakan jalur prestasi.” Tegar mencondongkan tubuhnya, mengecup bibir Mikaila sekilas.


“Lagian banyak jalur menuju puncak. Apa pun puncaknya. Betul, Bray?”


Daffa mengangguk lalu meringis melihat Mikaila menutup muka.


“Cabut yuk, males banget aku jadi obat nyamuk. Mana Wicak gak setia kawan lagi. Dia kenapa sih sama Sarina, sampe sekarang urusan pesta gak kelar-kelar.”


Tanpa sadar Mikaila tertawa terbahak-bahak, membuat Tegar dan Daffa kontan panik dan membuat sikap waspada. Di perpustakaan, sudah sore, sepi, dan mencekam. Ada gadis yang murung dan tiba-tiba ketawa sendiri? Tidak ada komedi di sana. Dugaan itu semakin kuat saat Mikaila merangkak ke arah mereka.


Tegar dan Daffa saling pandang, batal membereskan rak sebelah dengan berjalan mundur ke arah pintu keluar.


“Jangan-jangan dia kesambet, Gar. Tinggalin, cari bantuan!” seru Daffa seraya terbirit-birit keluar perpustakaan, cuma Tegar yang masih waras menghadapi pacarnya.


Tegar menutup pintu perpustakaan seraya menghampiri ceweknya, sekarang giliran ceweknya yang takut. Tegar bukan saingan yang sepele. Bukan juga saingan yang perlu ditakutkan. Cowok itu telah menandai dirinya dengan segala perhatiannya di sekolah. Dia tidak mengharuskan dirinya menjadikan Tegar saingannya. Sekarang Mikaila tersenyum geli.


“Kamu gak takut punya cewek sarap kayak aku?”


“Kok tau?” Mikaila menguncupkan bibirnya. “Kayaknya aku gak pandai menutupi diriku di kamu.”


Tegar mengangguk seraya mengusap rambutnya. “Gak ada yang perlu ditutupi dari aku. Kalo pun keluargamu gak terima kamu jadi dirimu sendiri, aku terima kamu.”


“Sok-sok, kamu aja baru cari jati dirimu sendiri! Pake mau tanggung jawab ke aku segala!” Mikaila menonjok dadanya dengan gemas. Lalu menyandarkan kepalanya di sana seolah merespon hal-hal yang baru terjadi.


Tegar melebarkan mata, dengan senyum kemenangan. Ceweknya luluh.


Anjir gue deg-degan. Tegar mengelus punggungnya dengan lembut, sementara satu tangannya memegangi ban ikat pinggang.


“Lo mau jadi pacar gue?” kata Tegar. “Gue yang ngajak Lo pacaran sekarang, bukan Lo atau ambisimu.”


Mikaila tersenyum sendiri. Adrenalinnya mengalir deras. Dia mengangguk, mau.

__ADS_1


“Ayo, Pak. Cepet... Cepet... Temanku kesurupan.” seru Daffa dari kejauhan.


Tegar dan Mikaila spontan panik dan melepaskan diri dari pelukan. Syukur-syukur cctv perpustakaan mati jadi kasus kesurupan pura-pura itu tidak tersebar dan tanpa pikir panjang Mikaila pura-pura pingsan.


“Mana yang kesurupan?” tanya Pak satpam sembari mendobrak masuk. Daffa melihat kejadian di ambang pintu. Takut.


“Ini, Pak. Pingsan. Sudah aku baca-bacain tadi.”


“Baca-baca apaan, Gar?” seru Daffa.


“Tembakan cinta!”


“Wow, bocah kurang ajar!” Pak satpam menjewer kuping Mikaila dan membuatnya kelabakan.


“Sakit ya, Pak. Ngawur!”


Pak Satpam berdiri. “Kalian semua pulang, jam segini masih di sekolah, ngapain di sini sore-sore. Mau macam-macam kalian?”


“Di hukum beres-beres perpus sama Bu Weni, Pak.” jawab Mikaila lemes.


“Wes gak perlu! Bahaya. Pulang-pulang, di sini ada penunggunya!”


Spontan Mikaila dan Tegar langsung menyambar tas dan terbirit-birit keluar perpustakaan. Mereka berlari ke parkiran dengan Daffa yang kembali memacu adrenalinnya.


“Buruan cabut, aku mau jauh-jauh dari sekolah!”


Saat mereka menyusuri jalan pulang, penunggu perpustakaan muncul dari persembunyian, Dela dan Mira tersenyum sendiri.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2