Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 68 : Lulus


__ADS_3

Hari terakhir siswa kelas dua belas sekolah. Matahari boleh cerah. Suasana hangat menyebar penjuru sekolah namun hati siswa mana yang tidak cemas ketika surat berisi keterangan kelulusan mereka mendarat di meja.


Bu Weni bersedekap di depan kelas, matanya mengawasi masing-masing siswa yang diam merenung.


“Tahun ini kalian pintar sekali bikin ibu hampir pingsan setiap hari karena kelakuan kalian. Nilai ujian kalian apa-apaan itu!”


“Enam siswa pembuat onar menunduk semakin dalam. Mikaila, Tegar, Daffa, Wicak, Dela dan Mira. Sementara Melody dan Sarina cukup beruntung keduanya tidak sering terlibat urusan ketos dan geng sekolah walau tahu semua faktanya.


“Kalian bisa membukanya dan mempersiapkan pentas siswa. Ibu tunggu penampilan kalian terakhir di sekolah. Khususnya bagi yang membawa nama sekolah terkenal lewat jalur baik dan buruk!” Bu Weni memukul papan tulis dengan penggaris kayu hingga mengagetkan jantung siswa-siswinya.


“Kalian tidak mau lihat ibu? Tidak mau terima kasih sudah mendidik kalian sejauh ini?”


Satu persatu siswa-siswi mengangkat tatapan mereka. Makin berasa tegangnya. Telapak tangan pun makin dingin terasa.


Tegar menatap Bu Weni paling lama. Secuil senyum sinis guru itu berikan.


Mampus. Tegar memegangi dadanya yang berdetak kencang. Apa jangan-jangan gue gak lulus? Buru-buru ia membuka surat paling enggan dia lihat sebenarnya.


Tegar membuka lipatannya dengan cepat. Bibirnya menjadi senyum saat kalimat yang tercetak tebal menyatakan keberhasilannya. Temen-temennya pun ikut melakukannya dan jerit kemenangan terdengar dari kelas IPA unggulan dengan meriah. Mereka lalu memeluk Bu Weni bergantian.


Bu Weni menahan lengan Tegar dan Mikaila. “Kalian lulus dengan nilai terbaik. Siapkan pidato untuk menyemangati junior kelas kalian.”


Tegar dan Mikaila saling melempar senyum saat tatapan mereka bertemu. “Pengen meluk kamu.” batin Mikaila seraya mengangguk.


“Berdua aja Bu? Daffa, Wicak gimana? Sarina, Melody?” tanya Mikaila penasaran.


“Daftar nilai kalian ada di papan pengumuman sekolah!”


Berbondong-bondong siswa-siswi langsung menyerbu lorong depan ruang TU. Berdesak-desakan mereka mencari nama di papan pengumuman.


Mikaila berjingkrak-jingkrak. “Woi kasih jalan mantan ketua OSIS kenapa sih. Minggir deh.”


“Antri coy!”


Tegar yang mengikutinya menarik tangan Mikaila menjauh dari kerumunan teman.


“Mau ke mana sih, Gar. Aku belum lihat nilaiku dan teman-teman!” sembur Mikaila.


“Ntar bisa kalo sepi.” Tegar melepas tangan Mikaila. “Ayo ke kantin dan perpustakaan. Tempat itu lagi sepi.”


Mikaila mendesis seraya menabok lengan Tegar. “Pikiranmu pasti aneh-aneh. Gak mau!”


“Udah ayo.” Tegar kembali menarik tangan Mikaila dan mengajaknya berlari kecil di koridor sekolah.


Tegar mendorong pintu perpustakaan dan Sialnya tempat itu memang sepi. Seluruh staff sekolah sedang sibuk melaksanakan agenda kelulusan SMA Garuda Pradipta Jaya di gedung guru.

__ADS_1


“Mau apa ke sini?”


“Foto prewedding!” Tegar menelengkan kepala seraya mengecup bibir Mikaila yang bergidik. Nenek bilang tempat sepi berbahaya dan ia mengerti karenanya ia tidak kebablasan.


Tegar tersenyum hangat ketika dahinya menyentuh dahinya.


“Selamat atas kelulusan terbaik Lo, ketua sosis! Usaha Lo buat mengawal gue dan teman-teman gue sampe lulus udah berhasil. Jadi ini hadiahnya.”


“Itu sih maumu sendiri, Gar.” sahut Mikaila gemas.


Tegar menarik sudut bibirnya seraya mengeluarkan hpnya dari kantong celananya dan menaruhnya di tempat yang mampu menjaga hp tetap stabil. Tegar mengulurkan tangannya saat ceweknya cuma diam di tempat sambil mengamatinya. “Ayo!”


“Apaan sih.” Mikaila nyengir sambil menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. “Gak usah deh, Gar. Malu.”


“Kita gak akan ke sini lagi. Jadi—” Pintu terbuka, teman-teman masuk seraya berseru. “Mojok aja kalian berdua... kesurupan tau ras.” seloroh Daffa.


“Tegar tuh ngajak prewedding.” celetuk Mikaila.


Daffa kedip-kedip mata. “Prewedding? Jangan-jangan... udah satu bulan tuh perut.”


“Ngaco Lo!” sergah Tegar. “Fotoin kita ajalah buat kenangan.” Tegar menyerahkan hpnya.


Daffa menarik kedua sudut bibirnya. Boleh jadi hari ini mereka bisa bercanda-canda tanpa beban cinta dan value diri. Jadi dia memfoto dan merekam kekasih bucin itu dan sahabat-sahabatnya dalam beragam pose, meski sekali-kali mukanya slalu berada bagian depan foto itu.


“Lo pilih yang murah-murah aja, setengah gram kek, tapi yang lucu.”


Mikaila melontarkan tawa dan pegawainya mengulum senyum.


“Kamu terang-terangan banget, malu tau!” ledek Mikaila.


“Gak masalah, kita ke sini cuma sekali.” Tegar lalu menatap etalase kaca. Emas dan permatanya berkilauan di bawah sorot lampu yang terang benderang.


“Cari yang cukup untuk kantong anak SMA kak.” ucap Tegar lugas dan Mikaila tak tahan untuk tidak menahan tawanya.


“Emangnya kamu yakin mau prewedding waktu wisuda, Gar?”


“Hadiah doang. Kata mama emas investasi. Jadi Lo bisa jual kapan-kapan kalo duit jajan Lo abis.”


Makin tertawalah Mikaila. Oke mungkin Tegar memang seperti itu. Slalu diluar prediksinya tapi ia tahu Tegar adalah laki-laki baik.


“Tapi uangmu sendiri aman kan?” tanya Mikaila.


Tegar mengambil dompetnya lalu memamerkan isi uangnya yang komplit dengan uang pecahan puluhan ribu dalam jumlah banyak.


“Lumayanlah, besok bisa narik lagi dari pagi. Kamu pilih!”

__ADS_1


Pilihan Mikaila langsung tertuju pada cincin tuzi rabbit dengan permata kecil di tengahnya. Dan setelah Tegar membayarnya, ia langsung memasang cincinnya di jari manis ceweknya.


“Makasih ya.” Mikaila tersenyum tulus.


Tegar menerima nota seraya menaikan alisnya. “Lo juga ngasih hadiah kelulusan buat gue lah, masa enggak.”


“Ampun!” Mikaila menabok punggungnya. “Gak ikhlas ternyata. Tapi oke deh. Tunggu ya. Aku bakal kasih hadiah spesial buat kamu!”


Tegar ingin sekali mencium lagi bibir itu, tapi sayangnya si cewek justru asyik melihat cincin barunya dan memfotonya sebanyak puluhan kali di dalam mobil.


Sesampainya di rumah Mikaila. Cewek itu menyuruh Tegar mampir dulu. “Mama udah tau nilai kita paling bagus, so... kita makan-makan dan boleh pacaran di rumahku.” ajak Mikaila dengan riang.


Tegar tergelak tanpa suara. “Tapi ini bukan hadiahnya kan?”


“No babe. Lebih dari makan-makan dan pacaran! I promise.” Janji Mikaila dengan serius seraya menariknya ke dalam rumah.


“Ma, mama... Aku dibeliin Tegar hadiah.”


Buset dah langsung pamer. Tegar menyunggingkan senyum saat Sera muncul dari dapur.


“Di kasih apaan kamu?”


“Cincin kelinci.”


“Idih playboy. Kayak pacar kamu dulu tuh.” celetuk Sera seraya mengelus kepala Tegar dengan senyum bangga. “Hebat juga kamu.”


“Calon mantu Tante gitu lho.”


Sera tergelak seraya bertepuk tangan. “Oke... Oke... Kamu menang untuk akademik. Good boy, mantap. Tapi jadi anak gengnya masih jalan?” tanya Sera sambil jalan ke dapur.


“Masih, Tant. Tapi lebih ke nongkrong-nongkrong aja sama balapan buat bikin konten dan bagi-bagi hadiah.”


“Tawurannya libur?”


“Iya libur.” Tegar mengulum senyum. Bahas terus sampai tua nanti, Tant. Ampun.


Sera menyerahkan makan siang untuk keduanya. Semur ayam dan jengkol.


“Kalian makan, mama mau jalan-jalan bentar. Gar, pinjem mobilnya ya.”


Tegar mengulurkan kunci mobilnya lalu menyenggol kaki Mikaila di bawah meja dengan senyum misteriusnya.


...***...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2