
A place with love satisfies. Jakarta pagi hari.
Sekitar seminggu yang lalu Tegar dan Mikaila melaksanakan acara ngunduh mantu yang di lakukan di rumah griya perwita ketimbang ballroom hotel atau gedung luas, Tegar dan Shinta memang tidak berniat mengambil kemewahan yang ditawarkan Harris. Mereka ingin menunjukkan kepada keluarga Mikaila siapa mereka saja terlepas dari peran Harris di kehidupan mereka. Sederhananya, mereka ingin terlihat sederhana untuk menyamai keluarga Mikaila.
Mikaila mendengus sambil memandang kemacetan ibu kota dengan malas bersama Tegar. Rasanya ia belum bisa menerima berlama-lama membunuh waktu di jalanan setiap hari. Setiap kali dia mengikuti Tegar bekerja.
“Tiap hari kita bakal gini kalo berangkat kerja, Gar?” tanya Mikaila sembari memeluknya. Mereka menggunakan motor biasa agar mudah menyalip kendaraan lain. Tapi menyalip pun tak mungkin meski keahlian Tegar dalam kebut-kebutan masih ahli.
Tegar memeluk punggung tangan Mikaila dengan telapak tangannya. “Udah gue bilang Jakarta keras, sayang. Sabar, nanti juga biasa.”
Mikaila mendesah sambil memainkan kancing kemeja Tegar. “Kalo aku boleh jujur enakan di Solo, Gar.” katanya dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan Tegar.
Sambil memandang sekeliling, Tegar dapat mengerti perasaan Mikaila yang sedang naik turun. Awal mula pernikahan, adaptasi kota baru, jauh dari orang tua dan perlu bekerja. Semuanya terasa ribet teruntuk gadis yang saban harinya selalu mendapat perlakuan istimewa. Lain halnya dengan ia, tempaan-tempaan yang datang silih berganti dari kecil hingga sebesar itu membuatnya kuat dan tegar seperti namanya.
“Dulu waktu aku ke Solo juga begitu. Berasa jauh dan asing. Berasa kurang cocok dengan tipe pergaulanku. Tapi kamu menemaniku bertahan—”
“Gar...” sebut Mikaila.
“Iya.” Tegar membelai jemari Mikaila di tengah suara klakson dan deru mesin kendaraan yang berada di sekitar mereka. “Jangan bilang pingin pulang, Mika. Kamu belum ketemu artis, belum berusaha sebaik aku. Jadi...” Tegar menjelaskan banyak kalimat bijak yang perlu Mikaila pahami. Syukur-syukur dia jalani, ya kan, semua perlu waktu, cepat atau lambat karena ritme itu fleksibel.
Mikaila memejamkan mata saat Tegar menggeber motor dengan perlahan. “Aku rindu kebut-kebutan sama kamu kalo gini ceritanya, Gar. Aku suka kebut-kebutan pokoknya. Cepat dan penuh semangat.”
“Cie...” Tegar mengelus ujung jemarinya. Responnya sudah tertuju ke arah lain, sesuatu yang nakal dan membuatnya ingin membelokkan arah motornya ke hotel.
“Cepat dan penuh semangat? Hmm... Kayaknya udah ada yang ngasih kode buat nanti malam. Apa mau di kantor?"
Mikaila tergelak. Sumpah ya, kalo boleh jujur dia pingin mengikat celana Tegar menggunakan tali rafia, tali pramuka dan ikat pinggang super hero biar celananya gak bisa lepas. Tegar sama sekali tidak mengizinkannya tidur dengan tenang setiap malam. Slalu ada aja bagian-bagian dari hasrat terpendamnya yang ia salurkan kepadanya.
Mikaila mencubit perutnya dan berimbas pada menjeritnya Tegar ditengah perempatan. Tegar tersenyum malu, untungnya lampu hijau menyala. Digeber lah si motor menjauh dari kepadatan arus lalu lintas menuju rumah Harris Abiyasa.
__ADS_1
“Papa minta kita apel bentar sebelum kerja, bokap lagi meriang katanya. Minta ketemu kita.”
Alih-alih prihatin, Mikaila justru tertawa. “Papamu bisa sakit ternyata, aku pikir strong luar dalam.”
“Kangen sama kamu bokap.”
Eits... gak bisa. Mikaila langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dari punggung Tegar. Firasatnya mulai tidak baik-baik saja. Harris kangen? Tidak beres, dia pasti menagih cucunya. Sementara Tegar dapat merasakan kecanggungan istrinya. Dia terlalu peka sekarang dan mengerti sedikit-sedikit perubahan dari tingkah Mikaila.
“Santai, anggap saja interview kerja.” ucap Tegar sembari melepas pengait helm Mikaila ketika sampai di samping rumah Harris. “Bokap emang agak rese, tapi karena dia memang berharap kita bisa kasih cucu pertama. Naufal dan Brittany masih fokus karir. Bokap mau penerus!”
“Ya kan ini masih bentar, masa terornya masuk terus.” Mikaila menatap sekeliling. Waspada. “Habis ngunduh mantu kemarin bapakmu kan yang ngumpetin kunci kamar?”
Tegar tak kuasa meringis lebar. ”Papa bilang biar kita gak hangout. Pamali.”
“Halah, omong kosong!” keluh Mikaila. “Kamu sama papamu mulai kelihatan sebelas dua belas. Gar...” Mikaila menuding hidungnya dengan ekspresi serius. “Awas kamu kalo niat punya istri dua!”
Tegar menggenggam jari telunjuknya. “Lo jangan ngawur. Gue setia banget tau, badan aja ada wajahmu, apalagi hati!”
“OMG!” Mikaila tersenyum aneh. Ngurus bapak-bapak kayaknya lebih ribet. Mertua lagi. Mana mama belum pernah ngasih tahu triknya.
“Kalian cepat naik. Kami sudah menunggu.”
Kami? Sama siapa papa?
Sambil mengernyitkan dahi mereka bergandengan tangan seraya pergi ke balkon atas. Tepat di mana ada meja biliar di sana dan sofa-sofa santai.
“Papa udah periksa?” tanya Tegar ketika ia mendapati dokter keluarga juga berada di balkon bersama seorang wanita cantik keibu-ibuan yang entah siapa.
Harris mengangguk. Tak suka basa-basi dia langsung menjawab rasa penasaran Tegar. “Itu dokter spog yang akan memeriksa kesehatan reproduksi kalian dan mengawasi tahap-tahap perkembangannya. Perkenalkan dokter Siska, ini Tegar dan Mikaila.”
__ADS_1
Tegar dan Mikaila mengulurkan tangan bergantian, berkenalan dengan senyum canggung kesal. Ngerti kan?
Mikaila bahkan sampai menggaruk lehernya karena Harris betul-betul teror yang lebih ekstrim dari Tegar.
Bukannya selesai tapi kayaknya ini bakal long lasting aku menguras tenaganya untuk mengurusi keluarga Tegar.
Tegar mengulum senyum saat dokter Siska bertanya-tanya. Kapan terakhir mereka bercocok tanam dan menebar benih unggul?
Mikaila jelas langsung ingin terbang dari balkon menuju rumahnya di Solo, sembunyi. Sementara Harris melotot, ”Jawab, nanti papa belikan hp terbaru.”
”Wahahaha... nggak mempan.” Mikaila nyaris menjulurkan lidahnya setelah Tegar mengingatkannya untuk sopan.
Mikaila meringis lalu acuh tak acuh. “Malu aku, gak bisa kayak gini, Papa. Itu terlalu privasi!”
“Ya sudah, kamu ke kamar Tegar saja dan tidak boleh pergi sebelum menjawab dan melakukan skrining kesehatan!”
“OMG...” Mikaila memutar mata. Wajar aja bapaknya Tegar inisiatif punya istri dua. Aslinya gitu amat, kang nuntut. Tapi bagaimanapun itu tidak bisa di contoh kalo kamu bukan ahlinya.
Mikaila mengajak dokter Siska ke kamar Tegar dengan langkah tegap maju jalan seperti saat menjadi komandan upacara SMA.
Dokter Siska meringis saat Mikaila merebahkan tubuhnya di kasur. ”Punya mertua posesif gini amat, Dok. Baru juga selesai bulan muda udah penasaran aja sama isinya.”
“Kamu tidak mengenal bapak Harris Abiyasa dengan baik sepertinya.” tukas dokter Siska, dan itu betul. Haha.
Mikaila menatap si dokter. “Terserah papa ajalah, mayan dapat hp. Lagian kalo di periksa gak di apa-apain kan?”
“Tidak.” Dokter Siska menggeleng. “Hanya skrining kesehatan biasa dan cek urine. Mikaila siap?”
“Tentu!” Mikaila menyingsingkan lengan panjangnya. “Demi hp dan pergi dari sini secepatnya, ayo kita turuti saja papa mertua kurang kerjaan ini...” serunya sampai Tegar dan Harris yang bergeming di sisi pintu saling melempar tatapan.
__ADS_1
Kacau istri gue.
...***...