
Tegar mempersilakan ibunya melihat sendiri betapa kacau kamarnya sambil menyunggingkan senyum. Senyuman penuh arti dan Shinta mengerti senyuman itu berarti apa.
Shinta menjentikkan jarinya di hidung Tegar seraya mendekati Mikaila. “Mama bawain bajumu, Mika.” katanya lembut sembari mengelus pundak mantunya.
“Tegar ngawur ya?”
Mikaila yang masih menyembunyikan wajahnya di dalam selimut mengangguk. “Pokoknya dia gak ada manis-manisnya, Ma. Manisnya cuma pas ngerayu aja.” cerocosnya seraya mengintip ibu mertuanya yang duduk di tepi ranjang.
“Mama sendiri? Gak sama papa galak kan?”
Tegar melontarkan tawa di samping meja tv. “Papa galak katanya.”
“Saya bisa lebih galak kalo kamu pemalas Mikaila.” sahut Harris yang menyusul kemudian.
Mikaila kembali menutup wajahnya dengan selimut. Teror orang tua setelah hari pertama bercinta sama memalukan seperti saat Tegar menyingkirkan kain-kain di tubuhnya.
“Aku tuh gak males, papa. Aku cuma lemes.” akunya dalam gumaman.
Shinta tersenyum geli seraya menggeleng. “Kami hanya memastikan tidak terjadi pertempuran sengit yang mengakibatkan terjadinya perkelahian dan cidera. Kalian bisa kami tinggal berdua?”
Tegar angkat tangan saat Harris menatapnya lalu pindah ke kaus dan boxer yang berada di lantai sementara pakaian pengantin mereka tertumpuk di pojok kamar.
“Habis pesta pernikahan lalu baby shower dan aqiqah? Papa rasa kerja keras termasuk dalam jadwal rutinitasmu setelah pesta honeymoon berakhir?”
Tegar semakin mengangkat tangannya ke atas dan merenggangkan otot-otot lengannya.
“Jadi aja belom, papa mikirnya jauh banget.”
“Sebagai jaga-jaga, persiapan itu perlu.” Harris bersandar di dinding, menunggu Mikaila menyudahi acara malas-malasannya.
Shinta menggeleng, “Lebih baik kita keluar, Mas. Biarkan anak-anak bersih-bersih badan dulu.”
Harris memutar mata, masih ingin di kamar anaknya, menggoda mereka agar terintimidasi dengan kharismanya sebelum meladeni kehidupan pernikahan kelak. Tetapi Shinta sudah berdiri, meraih tangannya dan menariknya keluar kamar.
__ADS_1
“Kamu bikin Mikaila malu mas, bisa pingsan itu. Udah diakali Tegar, kamu ikut-ikutan.” omel Shinta.
Harris melongok ke dalam kamar sebelum di tutup oleh Tegar.
“Satu kali gak cukup, Gar. Lanjut lagi nanti, papa tunggu cucu dari kamu!” serunya sambil di tarik Shinta menjauh.
Shinta menggeleng heran, “Kamu gak tau mas kalo wajahnya Mikaila sembab. Nangis dia, kasian. Tegar gak ada manis-manisnya.” keluh Shinta dan Harris tidak peduli. Dia sudah tahu anaknya pasti mengambil lebih banyak kesempatan yang di berikan gadis yang membuatnya mengerti, ada Mikaila Tegar aman sentosa.
Sementara itu. Setelah Tegar menutup pintu, Mikaila mengomel. “Papamu apaan sih. Lanjut lagi, lanjut lagi, emangnya papamu gak tau gimana sakit rasanya?”
Tegar memungut kaus dan boxer di lantai seraya melemparnya ke tumpukan pakaian pengantinnya.
“Mau di bantu ke kamar mandi?” tanya Tegar, tidak mengindahkan gerutuan Mikaila tentang ayahnya. Toh jawabannya sudah jelas, Harris menyukai malam pertama!
Tegar merapikan rambut Mikaila dengan sabar ketika duduk di tepi ranjang.
“Aku sabar sampai kamu baikan.”
“Aku butuh waktu sendiri.”
“Oke...” Tegar maklum dan membiarkan Mikaila ke kamar mandi sendiri. Dia tersenyum geli setelah istrinya tidak terlihat. “Jalannya kayak aku sunat dulu. Sorry, babe. Kamu terlihat menggiurkan dan cantik banget.”
Setengah jam kemudian. Mereka sudah memakai pakaian bersih dan berambut setengah basah ketika menyantap sarapan mereka di jam makan siang.
Mikaila berlama-lama mengaduk soto ayamnya seolah tidak berminat menelan makanan berat. Pikirannya bersarang pada kejadian tadi pagi.
“Apa kita bakal mengulangi itu setiap hari?”
Tegar hampir tersedak karenanya, lalu pura-pura berdehem dan dia meletakkan sendok dan garpunya di dalam mangkok.
“Gak setiap hari juga, babe. Tergantung kondisi. Kenapa tanya-tanya kayak gitu?”
“Aku cuma takut kamu minta setiap hari, badanku kayak gak terima kamu.”
__ADS_1
Tegar tergelak seraya melanjutkan menyantap makanannya. “Bukan badanmu, babe. Tapi kamu dan pikiran burukmu itu.” tukasnya seraya mengacak-acak rambut Mikaila.
“Jakarta lebih keras dari gue, jadi ketika Lo sanggup menangani ku dan papa, kamu akan baik-baik saja.”
Mikaila menghela napas lalu menyuapkan makanannya ke mulut. “Rasanya aku gak napsu makan, Gar. Aku kepikiran kamu dan itu. Ih... come on... jangan-jangan aku udah ada tanda-tanda ngidam nih!”
“Ngaco!” sahut Tegar. “Perlu 24 jam untuk pembuahan sebelum jadi zigot, babe. Lo lupa?”
Mikaila memutar mata lalu menggeser mangkoknya ke dekat Tegar. “Suapin.”
“OMG.” seloroh Tegar sembari memutar mata. “Setiap kali bercinta, minta di manja?”
“Deal!” Mikaila mengangguk. “Itu hukum percintaan kita!” pungkasnya lalu mengendorkan otot-otot punggungnya, Mikaila bersandar lalu menarik napas sebelum Tegar menyuapinya dengan sabar, sambil tersenyum-senyum pula dan hal itu semakin membuat Mikaila sadar, hukum percintaannya salah kaprah.
Tegar mengedip-edipkan mata seraya menyenggol lengan Mikaila. “Berarti nanti malam boleh dong kita absen lagi, daftar manja-manja sama kamu masih banyak kok. Kamu catat aja apa yang kamu mau.” godanya dengan gaya genit.
Mikaila langsung mencubit pinggang Tegar. Minta ampunlah sang suami sampai memohon-mohon.
“Gak gitu ya caranya!”
Tegar tergelak seraya memeluk istrinya yang tampak moody sekali. “Kamu masih sama ternyata, sekalipun kita sudah berjalan sedemikian jauh dan lama.”
“Karena aku mau jadi apa adanya saat bersamamu.” Mikaila mencium rahang Tegar dengan lembut sementara telinganya mendengar detak jantungnya yang seirama dengan detak jantungnya sendiri. “Kalo kamu keberatan, aku dengan senang meringankan bebanmu dengan menjauh dari kamu!”
“Sialan, bukan gitu caranya, Mika!” ancam Tegar seraya mencubit kedua pipinya. Gemas. “Kamu hanya perlu bilang sesukamu, seperti dulu, sebab, gue jatuh cinta sama Lo karena Lo gak tau diri. Lo gak jaim dan Lo berani mengambil risiko. Tapi Lo jujur.”
Tegar menghirup aroma tubuh Mikaila dan menempelkan sisi wajahnya di bahunya. “Gue merasa hangat dan utuh. Aku harap kamu juga begitu!”
Mikaila memeluk pundak Tegar. “Bukan anget doang sih, tapi panas.”
Tegar tahu dan ia melepas kaosnya kemudian. “Obati punggung gue kalo gitu. Biar cepat sembuh dan kita ulang lagi setiap malam.”
Mikaila tertawa lepas dan setelah beberapa saat yang cukup panjang, ia menghabiskan sendiri makannya sebelum mereka bergabung dengan keluarga untuk kembali ke rumah, ke Jakarta. A place with love satisfies.
__ADS_1