
Pintu gerbang tinggi yang menghalangi megahnya istana Harris Abiyasa dan Mike Syalindri terbuka ketika dua mobil yang membawa keluarga Tegar dan kawan-kawannya sampai.
Daffa dan Wicak spontan menempel di kaca mobil sambil terkagum-kagum melihat rumah mewah yang di gadang-gadang mirip rumah-rumah mewah di sinetron itu.
“Gak salah pilih sahabat aku kalo gini ceritanya.” celetuk Daffa.
“Paan sih Lo pada. Bukan rumah gue! Jangan norak.” sergah Tegar. Senyumnya menghilang sejak Harris memutuskan memberi tahu Mike dan anak-anaknya perihal skandalnya demi tidak bercerai dengan Shinta. Entah siapa yang egois sekarang, tapi Tegar cukup puas dengan keputusan berani ayahnya. Itu yang dia mau sejak bertahun-tahun lamanya.
Tegar tersenyum simpati pada ibunya. “Hadapi, Ma. Ada aku dan gengku. Kita siap jadi backingan mama.”
Sera memutar mata. “Beraninya bawa geng, kualat kamu ngajak ibu-ibu tawuran.”
“Sekali-sekali, Tante.. Tawurannya cuma pakai kata-kata kok, bukan adu jotos.” sahut Tegar lembut. “Tante bantu mama ya, sapa tau jiwa aristokrat Tante ada di tempat yang tepat.”
“Tegar....” Sera menarik napas dan menghelanya. “Oke, Tante lakukan demi masa depan Mikaila juga. Ingat Tegar, minta warisan!”
Tegar mengiyakan. Sementara di sampingnya Mikaila memandang kebenaran siapa Tegar. Lagi dan lagi pikiran tentang perbedaan starta mereka mengusik ketenangan hatinya.
Apa mungkin saat kondisi keluarga Tegar membaik dia akan menetap di sini? Ninggalin aku? Kok aku malah galau, mana berasa Cinderella dari kampung lagi. Gak cocok di samping Tegar. Mikaila memanyunkan bibirnya. Masalah lagi, kapan sih ada di fase indah?
Tegar mengamati perubahan ekspresi Mikaila. Terlihat kesedihan di sana, alih-alih dia yang sedih harus ada pertemuan mengerikan itu. Tapi ceweknya urusan nanti. Harris keluar dari rumah itu, membawa Mike dan anak-anaknya.
Tegar menghela napas dengan wajah muram setelah keluar dari mobil. Dia bergeming di belakang Mikaila, di samping ibunya yang menggandeng tangan Dinda dengan erat.
“Cewek terakhir gue jadian sama Naufal dan mereka mau nikah. Tamat hidup gue di sini, babe.”
Mikaila meraih tangan Tegar tanpa menoleh karena matanya menghujam Naufal, pria berusia dua puluh lima tahunan. Setinggi Tegar, dan berkulit putih resik serupa Mike.
“Cakep juga dia, pantes aja mantanmu tau yang bening-bening.” ledek Mikaila seraya tersenyum.
“Selamat datang, rombongan dari mana ini?” tanya Mike dengan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Tegar berusaha mengerem mulutnya, tapi Dinda adalah biangnya kebocoran data pribadi ayahnya sendiri.
“Kita rombongan dari griya perwita, Tante. Tante kok sama papa? Atau Tante juga rombongan kayak kami?”
Tak cuma petir yang menyambar istana Harris dan Mike. B*m molotov, gelas pecah, knalpot racing, knalpot blombongan dan seluruh kebisingan dunia nyata menyerang keindahan yang tampak sempurna di sana hingga menimbulkan ketegangan yang syarat keheningan.
Tegar mengamati Naufal tanpa henti, mereka sudah pernah bertemu saat Tegar masih rajin antar jemput Brittany photo shot atau syuting. Sementara itu Mike memegangi dadanya sambil menatap Harris. “Siapa mereka mas?”
“Masuk ke dalam, kalian yang tidak berkepentingan tunggu di halaman belakang! Pengawal, antar mereka.” Harris menginstruksi.
Tegar dan Mikaila sama-sama mengeratkan genggaman tangan. Tidak mau di pisahkan, Sera pun ambil bagian. Dia membela hak Tegar dan mendukung sesama wanita.
Harris menghela napas. “Kalian berdua ikut mereka!” ucapnya serius. “Ini urusan keluarga besar kami!”
“Saya ikut sebagai penengah!” potong Sera tegas.
Harris tak berdaya. Dia mengangguk, tapi gadis yang dimiliki Tegar tetap tidak boleh ikut.
“Telepon aku kalo ada gelas yang di lempar, Gar. Kita siap kirim sapu dan pengki.” ucap
Tegar menyunggingkan senyum. Bisa-bisanya dia nyindir langsung.
Dan setibanya di ruang tamu, pemandangan khas orang kaya membuat Dinda berdecak kagum.
“Rumah papa bagus banget, kok Dinda gak pernah di ajakin main ke sini sih. Terus, ini ya alasan papa jarang pulang, rumah papa banyak.”
Harris menatap Shinta. Memperingati sekaligus minta tolong, satu-satunya bakal anak gadisnya diatur sebelum melantur dan ia tidak mendapat kesempatan bicara karena Mike sudah bernapas pendek-pendek menahan amarah.
Shinta meraih tangan Dinda, memperingatinya dengan bisikin. Dinda langsung diam dan pindah ke arah Sera.
Harris menyuruh Mike, Naufal dan Baskara duduk dengan apapun yang dipikirkan mereka tentang tamu undangannya.
__ADS_1
Tegar yang melihat ayahnya anti basa-basi langsung mendengar penjelasannya. Tegar menarik sebelah sudut bibirnya saat Naufal mengeraskan rahangnya.
“Jadi aku punya tunangan bekas mantan pacar anak selingkuhan, Papa?” Naufal menggeram. Gemuruh di dadanya menyebar ke seluruhnya.
“Pernikahan di batalkan! Aku gak terima, kalian keluar!” Naufal hendak menyerang Tegar, tapi Sera kadung memperingatinya dengan teriakan.
“Jaga sikap anda anak muda! Anda pikir anda siapa berhak mengusirnya? Anda juga hanya anak yang patut patuh kepada orang tua.”
Harris menyuruh Dinda keluar, ke tempat Mikaila. Setelah bocah itu pergi. Harris menuding, Tegar, Naufal dan Baskara. “Kalian saudara kandung. Kalo sampai papa tau kalian berkelahi, jangan harap makmur! Cari uang sendiri di luar usaha papa.”
Sera bertepuk tangan. Ajaib sekali batinnya, dia akan memiliki besan seorang konglomerat beristri dua yang kini sedang bermasalah.
“Kecewa itu pasti, tapi Tegar tidak bersalah jika mantannya mau dengan anda, Naufal. Tegar bilang, Brittany yang selingkuh.”
Tegar tercenung. Calon mertuanya itu nyebelin banget, tapi di satu sisi lagi ada manfaatnya.
“Masalah anak bisa nanti, Pa. Easy go. Sekarang ini mama yang minta kepastian ke ibu Mike—”
Naufal menuding Tegar dengan setengah badan terangkat. “Tutup mulutmu. Mamaku bukan ibumu!”
“Jelaslah, ibuku mama Shinta. Wong Solo bilang, Shinta itu seperti nama wayang yang cantik tapi perkasa. Makanya papamu naksir mama!” celetuk Tegar dan kepala Harris yang nyaris meledak menyuruh mereka berdua keluar.
“Silakan berantem, papa tunggu di sini siapa pemenangnya!”
Tegar dan Naufal lantas memberi tatapan permusuhan. Tapi beruntunglah Tegar, Sera tidak setuju.
“Tegar baru sembuh dari patah tulang bapak Harris yang terhormat. Jadi lebih baik kalian bertiga jadi anak baik karena yang baik pasti di sayang dan di perhatikan.”
Harris menghela napas dan memegangi kepalanya. Runyam sekali urusannya sekarang. Tiga anak laki-laki, satu gadis cilik dan dua istri serta tambahan urusan pekerjaan berputar-putar di kepala.
“Saya salah telah mengkhianatimu, Mike. Tapi saya tidak bisa melepas Shinta. Izinkan kami bersama dan akan saya perbaiki.”
__ADS_1
“Terlambat.” Mika menyeka air matanya, lalu menatap Shinta yang hanya menundukkan kepala. “Wanita macam mana yang bersedia menjadi simpanan seorang laki-laki beristri begitu lama. Tega!” ucapnya dengan suara parau.
...***...