Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 43 : Sinarnya Redup


__ADS_3

Dua Minggu setelah persami berakhir dengan pensi—pentas siswa—yang meriah walau menyiksa batin tokoh utama, hubungan Tegar dan Mikaila membiru. Keduanya menjauh, merenggangkan jarak hingga menimbulkan cidera hati. Rindu yang tertahan menyesakkan dada.


Mikaila memungut tas ransel di kursi seraya menggendongnya. Tangannya memegangi amplop coklat dari Bu Weni sebelum jam perjalanan berakhir seraya ke arah Melody dan Sarina yang bersandar di tembok.


“Aku gak bisa ikut kerja kelompok hari ini. Urusan kodok kalian urus ya, aku harus pulang. Persiapan nikahan kak Vian!”


“Gak bisa gitu, Mik. Gabung sejam ajalah. Kontribusi semua anggota kelompok penting. Tapi apa keluargamu masih hukum kamu?”


Mikaila mengangguk. “Sory ya, sebulan penuh aku di hukumnya.”


Melody menuding Tegar dan Daffa yang hendak pergi dari kelas. “Jangan pergi dulu kamu! Sini.” bentaknya berang.


Tegar angkat tangan, mukanya terlihat semakin judes ketika orang tuanya memberikan sanksi tegas agar tidak mendekati Mikaila dulu. Bu Weni pun memberi keringanan hukuman dengan tidak memisahkan mereka dari kelasnya. Tetapi itu justru semakin membuat mereka kaku, salah tingkah dan bingung.


“Ada apa?” tanya Tegar tak acuh di belakang Mikaila.


Mikaila menunduk sambil menghidu aroma parfum laundry Tegar yang melingkupi seluruh tubuhnya.


“Selesain masalah kalian berdua! Aku males lihat kelas ini jadi kuburan!”


Mikaila tidak yakin sahabatnya itu benar-benar marah, tapi mukanya menyimpan banyak masalah yang membuatnya marah.


“Tahan nafsu kalian, masih SMA gak usah pada berlagak jadi calon pengantin yang udah nyebar undangan. Pacaran sehat aja. Mikaila cewek baik-baik dan kamu jangan rusak sahabatku dengan cintamu itu! Sialan.” Melody mendorong bahu Tegar tanpa membuatnya bergerak sedikitpun, Tegar masih berdiri gagah. Dia menikmati aroma samponya yang melayangkan segenap kenangan yang terlewati berdua. Senyaman itu dia berada di samping Mikaila.


Mikaila mendongakkan wajahnya saat Melody menyuruhnya. “Kamu dengar aku ya, gak usah sedih gara-gara hukuman itu. Si brengsek ini masih pacarmu! Selamanya milikmu. Semudah itu membuat hubungan kalian nyatu, jangan bikin mereka-mereka yang gak suka bahagia di atas penderitaan kalian. Geram aku!” Melody mengamati Dela dan Mira dengan tajam.


Mikaila memeluk Melody lalu menarik tubuhnya. “Plis, aku harus pulang, mama udah jemput di depan. Kalo enggak aku bakal dipindahin ke sekolah lain kalo hukumanku belum kelar.” ucapnya emosional, walau dalam hati ia ingin seperti dulu lagi, menggoda Tegar, memintanya mengantar pulang, ke kantin bersama, nongkrong-nongkrong sebentar, lalu berpisah dan bertemu lagi dengan bantuan hp. Sayang itu semua tidak mungkin, Sera dan Andito menyita ponselnya. Memperketat pengawasan putrinya, dan Dela menjadi mata-mata mereka.


“Aku pulang, di rumah, setiap hari di rumah. Gak usah khawatir. Aku cewek berattitude.” pamitnya seolah memberi tahu Tegar dia setia, dia tidak aneh-aneh, sementara Tegar sendiri sudah dua Minggu menghabiskan waktu setiap malam dengan gengnya, di area balap, mengumpulkan uang untuk membayar biaya sekolah.


Tegar menghela napas, ditatapnya Melody dan Sarina saat ceweknya sudah pergi. “Kodoknya jadi urusan gue, kalian pulang aja. Ogah gue cuma ada kalian berdua di rumah!”

__ADS_1


“Lagian siapa yang mau sama kamu? Cuma Mikaila doang!” Melody mendorongnya sekuat tenaga dan nyaris ambruk ke meja jika Daffa tidak sigap menahannya.


“Ayo, Sar. Gak usah lihat-lihat Wicak mulu, dia benci umbelmu!” Melody menarik Sarina menjauh dari komplotan geng itu.


Daffa geleng-geleng kepala. “Percintaan yang melebihi penderitaan Romeo dan Juliet. Cabut, Gar.”


“Ya. Semuanya rencana kami berubah gara-gara itu cewek.” Tegar melirik Dela yang pura-pura tidak menontonnya. Gue bakal menyiapkan pembalasan. Lebih buruk dari apa yang cewek gue rasakan.


Tegar menepuk Daffa. “Gue cari Mika sebentar.” bisiknya seraya berlalu.


Daffa menghela napas. “Temen-temenku udah pada ribet ngurusin cinta, lha aku masih ribet minta perhatian bapak ibuku. Aneh...”


Daffa merangkul Wicak yang berubah semenjak persami, cowok itu menjadi pendiam, hpnya bahkan lebih sepi dari biasanya. Tidak ada chat khusus dari gadis-gadis yang dia rayu.


Di koridor sekolah, Tegar mencari keberadaan Mikaila dengan berlari kecil. Dia berhenti beberapa kali demi menanyakan keberadaan ceweknya.


“Lihat cewek gue gak? Cewek gue ke arah mana?” serunya panik. Dan beberapa siswa yang prihatin dengan mereka menunjuk ke arah kamar mandi siswa, perpustakaan dan kantin.


Tegar gegas ke kamar mandi siswa, tempat di mana Mikaila pernah terkunci di sana.


“Dia ke perpustakaan, Gar.” seru seseorang dari dalam. “Ke sana aja!”


“Thanks.” Tegar pindah ke perpustakaan, tapi ia tidak menemukan ceweknya, Tegar pindah ke jalan sempit di belakang perpustakaan, dia menemukan Mikaila bersandar di tembok sambil memegang sesuatu.


“Mika.” Tergagap ceweknya menyembunyikan kertas amplop coklat sambil menoleh.


“Kenapa ke sini?” tanyanya gugup sambil mengusap air mata di pelukan matanya.


Tegar mendekat seraya membuka tas Mikaila, dia mengambil selarik kertas yang sudah lecek. Tegar membacanya di tengah penolakan dari Mikaila.


“Jangan, Gar. Udah... balikin.” Mikaila berusaha menggapainya dengan menarik-narik lengannya.

__ADS_1


“Beasiswamu diberhentikan pasti gara-gara aku, Mika. Maaf.”


“Bukan gara-gara kamu, sini balikin!” Mikaila menyahutnya. “Gak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”


Tegar menarik Mikaila ke dalam pelukannya. Dia pikir akan mudah menjalani hukuman tanpa menyentuh ceweknya, menatapnya, atau menyeka air matanya. Tetapi semuanya salah, apa pun keluh kesahnya, Mikaila adalah permennya.


“Senyumlah, kita bisa back street sampai semua terasa baik-baik saja.” Tegar mengusap rambutnya.


“Aku setiap malam nongkrong, balapan, kamu bisa tanya anak-anak, tapi aku mikirin kamu setiap hari.” ucapnya sambil berjalan mundur.


“Kamu pulang, kasian mama dan papamu khawatir.”


Tapi aku lebih khawatir mama kaget beasiswaku di cabut. Aku kangen kamu.


Mikaila tersenyum masam dan mengangguk, dia percaya, kalo Tegar bisa, ia pun bisa menjalaninya dengan senang.


“Gar tunggu...”


“Yep... Kenapa? Mau di marahin Bu Weni lagi?” tukas Tegar sambil berjalan tanpa menatap ceweknya.


“Beliin aku hadiah.”


“Enak banget Lo!” Tegar menyunggingkan senyum. “Gue aja gak pernah kamu kasih hadiah.”


“Besok aku kasih. Aku duluan ya, sekalian jangan lupa buatin aku surat cinta.” ucap Mikaila seraya berlari kecil menjauhinya.


“Ngelunjak lo!” seru Tegar.


Mikaila menjulurkan lidahnya. “Bye... Babe.”


Tegar bisa mabuk-mabukan untuk melupakan egonya, tapi pada dasarnya ia sedang mabuk cinta apa pun versi cinta yang dimilikinya saat ini. Bahkan dia tidak peduli saat dikasari Andito untuk menjauh dari putrinya jika masih setia menjadi anak geng. Tegar sudah di tandai sebagai jagoan oleh alumni sekolah, dia adalah gangster orisinil yang tetap menjadi pasukan khusus The Evolve Wild sampai kapan pun. Sekalipun sinarnya redup.

__ADS_1


...***...


...Bersambung...


__ADS_2