Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 61 : Ngeri


__ADS_3

Tegar mengantar Mikaila ke kamarnya di lantai dua berdua saja karena Sera memilih bersilahturahmi dengan Harris Abiyasa untuk menjawab celetuknya tadi.


Calon istri dan besan papa. Bagaimana Harris tidak terkejut, pikirannya langsung pada satu titik ujung bayangan paling besar, ‘Mikaila hamil!’ Sungguh seru pikirnya memainkan keadaan agar mereka bisa akrab dan dekat.


Tegar membentangkan pintu kamarnya selebar mungkin lalu menghidupkan saklar lampu. Dengan bangga ia mempersembahkan kamarnya untuk ceweknya.


“Silahkan masuk, babe. Ada kamar mandi di dalamnya. Seperangkat alat nge-game dan kasurku. Selamat beristirahat.”


Mikaila bersandar di kusen pintu sembari bersedekap. Bibirnya membentuk garis lurus saat memandanginya.


“Cewek mana yang pernah kamu ajak ke sini?” tukasnya berani.


Memikirkan pertanyaan itu Tegar mengendikkan bahu. “Cewek mana pun itu urusan masa laluku. Lagian Lo pikun ya? Lo ciuman pertamaku!” tandasnya sambil menarik lengan Mikaila lalu menutup pintunya sepelan mungkin.


Mikaila mendelik tajam tapi wajahnya cemas seolah takut Tegar akan menafsirkan prasangkanya dengan perbuatan.


Tegar menaikkan alisnya, tubuhnya yang tinggi besar mengungkung dirinya di pintu.


“Hei, pumpung berdua. Apa kamu mau cium aku? Kamarku terlalu sepi dari kenangan.”


Mikaila menarik tepi kemeja flanel Tegar sambil badan cowok itu condong ke belakang.


“Kamu udah bikin bapakmu curiga aku hamil, sialan! Sekarang kamu mau bikin semua itu kian nyata?” Memikirkan itu Mikaila menariknya semakin kuat sampai kancing paling atas menekan lehernya.


Tegar terbatuk-batuk, tapi dia mengakui sebagai berandalan yang senang memanipulasi. Dia minta maaf dan menciumnya sebelum Mikaila menyadari gerak-geriknya.


Mikaila menggeram. “Udah di bilang jangan macam-macam!” serunya dengan jengkel lalu berusaha keluar kamar.


“Gak boleh. Kamu tetap di sini!” Tegar mencegahnya. Alhasil, Mikaila melangkahkan kakinya lebih jauh dari pintu kamar dengan ragu-ragu.


Monokrom hitam putih mengambil sebagian dekorasi kamar cowoknya. Tidak ada printilan hiasan dinding, semua miniatur figur superhero terpampang di meja seperangkat alat nge-game-nya.


Mikaila menoleh, “Cita-citamu bukan jadi super hero kan?”


“Semua laki-laki ingin jadi super hero. Tapi kebanyakan jadi super hore kayak papa. Gue gak ngerti kenapa dia di sini, tapi ogah telepon nyokap atau gue, minimal Dinda.” keluh Tegar sambil mendaratkan pantatnya di tepi ranjang.


“Gue bisa jamin dia lagi sandiwara di bawah. Kalo gak ada kalian mungkin dia bakal marah-marah kita datang.”


“Bisa jadi juga ayahmu di sini karena kangen.” tukas Mikaila, duduk di sampingnya. “Wajahnya capek banget tuh kelihatannya, dan dia gak hubungi kalian karena mau jaga kalian dari paparazi. Jadi orang penting susah kali, Gar!”

__ADS_1


Tegar mengendikkan bahu. Ayahnya sudah mengambil risiko, dan membayar mahal risiko tersebut. Tapi 19 tahun tersimpan dalam rahasia menyebabakan sesuatu yang mengganjal dalam hati memberontak.


“Besok kita kasih waktu buat mama dan papa bicara, kamu mau jalan-jalan ke mana?” Tegar menoleh.


“Ragunan?”


Tegar memutar mata. “Ke Monas sekalian?”


“Tergantung yang lain.”


Tegar tersenyum seraya berdiri. “Kalo gitu gue ke bawah. Gue ngerasa ibumu udah cemas!”


Mikaila meraih pergelangan tangannya. “Jangan berantem ya. Aku tau kamu gelisah.”


Mikaila berdiri seraya membekuk tubuh pacarnya. “Tujuanmu cuma satu di sini, cari jawaban.” Dia menarik tubuh sambil tersenyum.


“Sana keluar, aku takut nikah muda! Membayangkannya punya bayi aja aku ngeri.”


Lebih ngeri prosesnya. Tegar nyengir sambil mengangkat kedua tangan.


“Gue juga ngeri. Biaya popok, rumah sakit, sekolah, jajan, skin care-mu dan belanja-belanja.” Tegar geleng-geleng kepala. “Apalagi di marahin mamamu. Oh, sakit dada dan dompet gue!”


“Trims.” Tegar membuka pintu dan terkejut melihat Sera nguping pembicaraan mereka.


“Maaf Tante.” Tegar nyengir.


Sera mendengus lalu mengibaskan tangannya. “Di cari papamu.”


Tegar sigap menuruni anak tangga. Dia melangkah pelan saat rumah hanya milik keluarganya. Mikaila dan Sera sudah di kamar. Tidak berminat mendengar urusan di lantai ruang keluarga.


“Pa,” sapa Tegar dengan perasaan yang mendalam.


Harris memindahkan Dinda ke samping ibunya. Ruang di sampingnya yang kosong membuat Tegar perlu mengisinya.


Tegar menatap ibunya, badannya kaku sekarang. Pria di sisinya melingkarkan tangannya di pundaknya. Sambutan yang di luar dugaan.


“Solo membuatmu penuh perjuangan?” tanya Harris.


Tegar menggaruk lehernya. “Kenapa papa di sini?”

__ADS_1


“Istirahat.” Harris menyunggingkan senyum. “Kenapa memangnya? Kamu tidak suka papa di sini?”


Kesepuluh jari Tegar mengepal. Manipulatif. “Terus kenapa papa susah di hubungi? Apa papa gak kasian sama mama?”


“Mamamu wanita kuat!” Harris menepuk-nepuk pundaknya. “Gimana tanganmu yang patah? Sudah bisa di pake berantem?”


Sialan!


“Naufal akan menikahi Brittany.” Harris memberitahu.


Tegar menoleh dengan senyum malas. “Terus karena itu papa lupa sama kita? Papa sibuk sama mereka? Sialan.” Tegar mendesis. “Papa buat keputusan deh, lepasin mama. Mama berhak bahagia.”


“Tidak akan!” Harris menarik anaknya lebih dekat ke raganya. Tegar mengeraskan rahang. “Papa lagi usaha membangun sebuah masa depan, dan ketika semua sudah ada di genggaman tangan. Papa akan kembali.”


“Kalo papa mati besok?” celetuk jengkel.


Shinta terkekeh. “Papamu kembali ke Tuhan, bukan ke kita, Gar. Jadi mas, aku akan mendatangi Mbak Mike. Dia harus tahu, setidaknya kalo ada berita di luar sana, dia tidak jantungan.”


Harris menatap lantai dua. Andai tidak ada tamu itu, amarahku pasti sudah menggelapkan hati.


“Kalian sabar! Jangan ambil keputusan bodoh! Papa bener-bener capek sekarang.”


Tegar berdiri. Kesabarannya sudah tidak ditolerir lagi. “Kita juga capek, Pa. Papa gak bisa ambil keputusan tegas!”


Tegar pergi ke garasi rumah. Dia memandangi kekosongan garasi. Dua mobil hadiah dari Harris tidak ada.


“Papa bawa ke mana mobil kami?” tanya Tegar dengan kemarahan yang kentara. Shinta pun mendadak ikut heran. Dia memandangi Harris dengan mata menyipit.


Harris beranjak. “Papa jual untuk biaya kampanye.”


“You want a battle?” tantang Tegar yang berarti kamu ingin perang? “Papa pecundang, papa penipu. Papa terlalu takut untuk bicara. Kebohongan papa... Sialan, gue sendiri yang akan menjelaskan siapa kami di depan ibu Mike!”


“Cukup, Gar!” Shinta menasihati lalu menatap Harris serius. Kekuatan merayapi kulitnya. “Sudah jauh-jauh hari aku memikirkan bagaimana nasib rumah tangga kita mas. Ceraikan aku!”


“Shin...”


...*** ...


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2