Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 32 : Bolos Bersama


__ADS_3

Mikaila mengembalikan motor matic yang dipinjamnya keesokan paginya berbarengan dengan Tegar yang mengambil motornya di kafe semalam.


“Mau bolos?” goda Tegar, melihat bagaimana ceweknya terlihat murung dia menduga sudah terjadi sesuatu. “Kena marah nyokap? Kakak?”


Mikaila melepas helm seraya mengibaskan rambutnya yang panjang. “Gak kena marah sih, cuma intrupsi buat gak pulang malam sendiri! Bahaya, takut ada begal yang nyulik cewek secantik aku!”


“Haha...” Tegar sudah menduga ceweknya akan membesarkan kepalanya sendiri dengan mulutnya yang seenak jidat. Tetapi ada perasaan haru yang spontan membersit benaknya melihat usahanya agar bisa melindunginya. “Mau ke sekolah bareng? Aku jamin, kamu pake alasan ke rumah Melody buat balikin ini.” Tegar menyentuh stang motor.


Mikaila memanyunkan bibirnya. Hari itu ujian membludak. Kimia dan fisika. Sebuah pelajaran yang teramat melelahkan jiwanya yang terguncang oleh wajah mengenaskan di depannya.


“Kalo aku jadi kamu sih mending izin aja ya, daripada Bu Wen, Pak Rama, dan Pak Rahmat kasih kamu pelajaran spesial!” saran Mikaila dengan muka ketos-nya yang sinis.


Tegar mengendikkan bahu, manyun lagi. “Mama tetap nyuruh aku sekolah, biar otakku kembali normal!”


“Gak usahlah. Tunggu!” Mikaila bersedekap. Matanya memicing. “Gengmu tau belum kamu di serang tadi malam?”


“Daffa tau, karyawannya ngomong! Dia bakal cabut ke sini, tuh anaknya.”


Tak lama. Suara mobil berdecit di samping mereka. Mikaila menduga hal-hal lebih buruk dari serangan semalam. Daffa menurunkan kaca mobil.


“Masuk, Bray, Sis!” serunya dengan badan condong di atas persneling mobil.


“Mau ke mana?” tanya Mikaila heran.


“Sekolah, Sis!”


“Gak yakin aku.” Mikaila menggeleng setelah melihat Daffa tidak memakai seragam. Dan Tegar meyakinkan keraguannya dengan memberi jawaban. “Kita mau cari sarapan terus berbenah kafe. Bolos sehari gak masalah kan, Ketos?” godanya, menggoyahkan peraturan tak tertulis yang Mikaila buat. Pantang mendukung perbuatan jelek dan itu sudah Tegar duga, makanya dia membuka pintu penumpang seraya memaksa dengan lembut cewek itu sampai masuk ke mobil.


Tegar menutup pintu. “Kunci semuanya, Daff!”


“Siap!” Daffa menoleh ke belakang, meringis. “Let's go...”


Mikaila bersedekap. Terperangkap dalam kegilaan yang nyata. “Aku bener-bener di culik begal, tapi begal hati sama emosi. Kurang ajar.”


Tegar mengeluarkan obat-obatan dari tasnya. “Ntar bersihin lukaku. Susah yang di badan sama muka. Tanganku gak selembut perhatianmu.”

__ADS_1


Daffa berdehem dengan muka cengengesan. “Sorry, Bray. Aku gak tau kalo mereka bakal nyerang kamu. Padahal setauku mereka gak nongkrong di daerah sana.”


“Pindah kali setelah di hukum sekolah sama markas di bubarkan polisi kemarin.” sahut Mikaila. “Tapi emang dasarnya Tegar yang rese pake mancing-mancing masalah segala!”


“Harusnya satu lawan satu. Aku dan Ben, bukan keroyokan kayak tadi malam, Mikaila.” Tegar menjelaskan maksudnya. “Persoalan pria! Kamu gak paham.”


Daffa tergelak sambil menekan klakson mobil. “Aku sih gak yakin Ben berani sendirian lawan kamu, Gar. Drew aja ngaku takut sama body-mu. Mik, gak takut kamu sama Tegar? Otot semua lho dia.”


“Kok kamu tau dia otot semua, Daff?” pancing Mikaila dengan muka curiga. “Udah sejauh apa persahabatan kalian?”


“Renang bareng, mandi, nonton film, makan, jalan-jalan, ngobrol-ngobrol tapi gak jadian kok.” seru Daffa. Tegar tergelak seraya menoyor kepalanya. “Sialan!” Daffa ikut-ikutan tergelak kemudian.


“Canda, Mik. Tapi aku udah jujur. Aku lebih ngerti Tegar daripada kamu. Kasian deh!” cibir Daffa seolah mengingatkan Mikaila agar lebih peka. “Badannya Tegar otot semua, rajin olahraga. Ben yang cuma humas kayak aku harusnya cukup jadi provokator dan pembicaraan. Gak perlu turun tangan.”


Mikaila melirik Tegar yang menjadi diam. Perutnya keras, otot semua? Mendadak ia tergiur membayangkannya. Oh... Tangannya sudah pernah meraba bagian itu tapi cuma memeluknya, bukan merasakannya.


Daffa meringis sambil mengubah persneling mobil ke gigi normal. Tuh cewek kereta kuda pasti mikir keras, haha.


Tegar membuang muka. Sudut-sudut bibirnya menyunggingkan senyum saat mereka tiba di depan markas The Evolve Wild.


Sialan, mulut Daffa kayak nyokap, ke mana-mana.


“Kok ke markas? Mau apa?” tanya Mikaila gelisah.


“Nyante bentar. Kita bisa belajar kelompok di sini aja, PTS gampang, kita murid kelas unggulan. Sekarang pacaran, atau terserah. Habis itu baru ke kafe, mama minta kerusakan diperbaiki.” Daffa mendorong pintu mobil.


“Oke, tapi gak macem-macem kan?” Mikaila tampak waspada.


“Itu sih tergantung cowokmu, Mik. Jangan tanya aku!” Daffa bersiul.


Mikaila menaruh sikap waspada berlebihan saat Tegar menampilkan paras cowok brengseknya.


“Jangan macem-macem!” Mikaila menegaskan. “Kita putus kalo kamu aneh-aneh.”


“Enggak. Aku menjagamu.”

__ADS_1


Mikaila memutar mata seraya mendorong pintu mobil. Dia berlari kecil sambil menutupi wajahnya dengan tas untuk menutupi identitas. Tidak sanggup ketahuan bolos sekolah meski ia cukup bersyukur markas The Evolve Wild jauh dari rumah warga meski markas The Evolve Wild berkedok bengkel.


Tegar menutup pintu lalu melepas tas dan jaket dari tubuhnya. Daffa mengambil minuman dari lemari pendingin, ia melemparkan dua botol teh manis ke Tegar, sigap pemuda itu menangkapnya seraya menyerahkan ke Mikaila.


“Aku izin dulu ke sekolah.” Mikaila menelpon Bu Weni sembari berkacak pinggang sebelah tangan, sementara Tegar membuka seragamnya. Daffa mengacungkan jempolnya lalu berbalik, menuju ruang berisi satu set sofa drum seraya mengeluarkan rokok elektriknya.


Mikaila berbalik setelah berhenti mengoceh. “Jangan gitu banget juga kali, mataku bisa melotot terus. Mau kamu aku kelihatan mecicil?”


Daffa tergelak. “Dia gak tau mecicil, Mik! Taunya pecicilan.” serunya sambil mengembuskan napas yang berbaur asap rokok. “Eh tapi kamu mau balas dendam gak, Gar? The Horizon Blast pasti songong tuh sekarang.”


Mikaila menggeleng samar sambil mengeluarkan isi P3K standar dari plastik. Ia memanyunkan bibirnya setelah matanya kembali melihat lebam-lebam dan luka basah di tubuhnya.


Tegar melengkungkan punggungnya, memejamkan mata. Membiarkan Mikaila mengekspose perutnya yang keras dengan matanya yang berkedip-kedip. Tidak mempercayai diri sendiri bahwa ia benar-benar jauh melenceng dari birokrasi orang tuanya. Dia bersama pacar yang bertelanjang dada. Woah... gelagat rasa penasaran menggoda jemarinya menyentuh lebam di dekat pusarnya.


“Kerjaanmu apa sih di Jakarta bisa begitu perutmu?”


Tegar menyunggingkan senyum. Tidak tahu dia sentuhan itu membangkitkan perasaan lain yang biasanya biasa saja. Sederhananya dia geli, ingin sekali menyingkirkan tangan Mikaila yang mengusap lukanya hati-hati, penuh perasaan seolah takut tambah menyakitkannya.


“OMG, gue paling gak pinter tahan diri.” Tegar terbahak seraya menyingkirkan tangan Mikaila dengan lembut. “Udah. Makasih.”


Mikaila mengerutkan kening. “Belum semua diobatin, kenapa udahan, ntar gak sembuh-sembuh!” ucapnya polos dan itu membuat Tegar semakin jatuh cinta padanya.


“Kamu dalam situasi bahaya kalo diteruskan!”


“Emangnya bahaya apaan?” Mikaila mendadak cemas, menarik tangan, mengeluarkan botol saos dari tasnya dan Daffa nimbrung dengan terbahak sambil berseru. “Situasi bahaya buat anak, Mik. Tapi Tegar bukan Drew, dia siap jadi bapak muda. Tegar belum!”


Mikaila melempar kaleng kosong entah bekas siapa ke tembok. “Sebagai sahabat doang, kamu terlalu banyak tau tentang pacarku, Daff. Sialan.”


Daffa semakin tergelak, dia bersandar di rak ban-ban baru.


“Itu pertanda kamu harus pdkt lebih bagus ke Tegar, Mik. Biar gak usah saingan sama aku!”


Thanks, Daff. Tegar memakai kaosnya seraya tersenyum pada Mikaila yang menatapnya sambil mempertimbangkan ucapan Tegar.


Iuhh... ini sudah jauh lebih dari cukup, aku tidak mungkin melompat dari batas wajarku berpacaran.

__ADS_1


...***...


^^^Bersambung^^^


__ADS_2