Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 45 : Markijayyy


__ADS_3

Tegar menghentikan motornya di depan kerumunan siswa-siswi yang memadati areal terpasangnya banner kemesraan Dela dan Rio yang ia pasang semalam dengan bantuan orang asing. Banyak siswa-siswi yang mengabadikannya dengan hp sambil menggunjingkan perbuatan Dela dan Rio serta siapa pelaku yang membuat kegaduhan itu.


Tegar menarik sudut bibirnya lalu menoleh, hafal dengan suara motor Daffa.


“Anjay... Markijayyy... Saingan bapakmu, Gar!” seloroh Daffa saat berhenti di belakang motor Tegar. Daffa bertepuk tangan seolah merasakan pesta pembalasan dengan pekik senang, “Penghianat sekolah kita, wah-wah... Kacau juga tuh cewek.”


Gunjingan kembali terjadi, bisik-bisik siswa-siswi memanas. Hubungan Dela dan Rio memang tidak tersembunyi, tapi melihat betapa intimnya foto mereka yang berciuman dan berpelukan mesra nampaknya perseteruan antar sekolah akan ada jilid kedua. Tegar menghancurkan dua reputasi sekaligus, tak peduli dengan akreditasi sekolah sebab orang-orang tidak mengenal mereka dari sekolah.


“Dela udah tau belum?” tanya Tegar.


“Belum. Tapi status wa semalam dia lagi kacau sih, di tempat karaoke, party, tapi gak bisa bayar. Beritanya heboh di sosmed, dia sama Rio di marahin pegawainya!” seru cewek dari kelasnya.


Tegar berusaha berpura-pura takjub, rencananya berhasil.


“Cabut, Daff. Bukan urusan kita.”


Daffa berdehem, sekelumit curiga ia sematkan dalam hati saat menatap Tegar. “Kamu yang bikin itu, Gar?” tanyanya setelah memarkirkan motor di sekolah.


Tegar mengangguk meskipun ia tahu itu ide buruk, “Lo diam aja, atau Lo berurusan dengan tangan gue!” Tegar merangkul Daffa seraya mengajaknya keluar dari parkiran.


Daffa bergidik, namun syukurlah, Tegar memilih mengamati Mikaila yang baru datang sambil membawa paper bag. Mikaila melihatnya sambil mengedipkan sebelah mata meski kesedihan tergambar jelas di wajahnya.


Tegar tersenyum. “Kedipan maut. Hai babe...” Tegar melambaikan tangan.


Mikaila hanya membalas dengan lambaian tangan tanpa menghampirinya. Semalam Alvian mempergoinya dan itu membuat sarapan pagi di keluarganya memanas. Ancaman ia dapatkan lagi dari orang tuanya. Sungguh Mikaila tidak tahu harus memberi tahu Tegar dengan cara apa agar menjauh sajalah daripada semakin tersiksa batinnya.


Tegar mengeratkan rangkulan di pundaknya, nyaris memiting lehernya.


“Kita sahabatan kan, Gar? Masa iya kamu mau tonjok aku?” tanya Daffa gugup.

__ADS_1


“Beda ceritanya kalo Lo jadi pengkhianat persahabatan kita.” ancam Tegar.


Detik demi detik berjalan begitu lambat di antara mereka sampai akhirnya Daffa melangkah mundur. Tegar berbalik, “Kenapa, Lo?”


“Jangan gitu, Gar. Aku setia kok. Serius, setia banget sama persahabatan kita.” Daffa memberikan jari kelingkingnya ke depan Tegar.


Tegar menepis tangan Daffa. “Apa-apaan Lo pake janji jari kelingking segala!” cibirnya geli.


Daffa berdecak. “Aku takut sama tinjuan mautmu. Ayolah, Gar. Kita janjian.”


“Gak ada anak geng menye-menye kaya Lo!” Tegar meninju dadanya pelan. “Gue percaya. Gue lagi balas perbuatan Dela, sekaligus menghancurkan Rio. Semua pake tangan kanan kecuali di karaoke!” ceritanya.


Daffa berdecak. “Egomu gede juga. Apa gak bahaya, Gar? Tinggal beberapa bulan lagi kita ujian dan lulus SMA. Kurang-kurangin cari masalah, mending balapan aja atau mau kerja di kafe?”


Gigi Tegar menggesek bibir bawahnya. Egonya terlalu besar jika hanya menjadi pelayan kafe tapi balapan juga tidak bisa setiap malam.


“Gue pikir-pikir lagi.” Tegar menepuk pundaknya. “Trims.”


Mikaila tersenyum. “Makasih.” ucapnya malu saat gelang itu Tegar pakaikan. “Tapi kamu jangan ke rumahku lagi, rumahku gak tembus pandang.”


Tegar mengacak-acak rambut Mikaila yang terlihat rapi sebelum kelas ramai dengan siswa-siswi lain.


“Seenggaknya itu membuatku dekat denganmu! Makasih hadiahnya.” kata Tegar lembut.


Daffa memutar mata. “Seneng-seneng aja dulu, habis ini Bu Weni pasti tanya siapa yang pasang banner Dela dan Rio di sana? Kamu Tegar, Daffa, geng kalian?” Daffa mengimprovisasi gaya Bu Weni dengan apik saat memarahi mereka.


Mikaila memahami sisi gelap pada diri Tegar, semua pesona bad boy dan pembawaan pemuda yang lumayan dingin itu sukses memperangkapnya dalam sebenar-benarnya asmara. Makanya dia tidak heran kenapa ada kehebohan di luar sekolah.


Tegar mengelus rambut Mikaila untuk terakhir kali sebelum bel berbunyi di pengeras suara.

__ADS_1


“Aku akan memainkan peranku, kamu cuek saja! Gak tahu apa-apa. Oke, babe?” Tegar memberitahu.


Mikaila mengangguk. “Kamu hati-hati.” ucapnya sendu.


Tegar pergi ke bangkunya, duduk manis sambil bermain ponsel, sementara di luar sekolah. Dela melompat-lompat, berusaha melepas tali banner yang di pasang tinggi-tinggi, di antara tiang listrik sambil mengumpat-umpat kesal.


“Anjring, bangsat, siapa yang bikin ini!” katanya berang, terus melompat-lompat dengan tangan terulur ke atas. Dan bel dari pengeras suara membuatnya kian panik. Tidak ada toleransi terlambat sekolah, pintu gerbang di tutup.


Dela menampar tiang listrik sebelum mobil dinas sekolah berhenti di belakang mobilnya.


“Lepasin itu Dela! Jangan mempermainkan sekolah.” teriak Pak Rama. Jengkel bukan main, lagi-lagi ada masalah yang berkaitan dengan SMA Sanjaya Bakti. Ya ampun. “Dela, jangan diam saja!”


Dela merengek frustasi sambil menendang batu. “Ini juga mau di ambil, Pak. Tapi aku gak bisa. Ini tinggi banget!”


“Ambil tangga di sekolah!” tandas Pak Rama.


Dela menggeram. Sekonyong-konyong ia masuk ke mobil, menunggu pak Rama melaju dan ia bisa mengikuti ke dalam sekolah.


Dela menuju ke gudang dengan ekspresi yang di lipat-lipat. Sementara menunggu penjaga sekolah membuka pintunya, ia menerima telepon dari Rio.


“Maksudmu apa pasang-pasang banner di pagar sekolahku?” ucapnya begitu marah.


Tubuh Dela menegang dengan mata membeliak kaget. “Di sekolahku juga ada kak, tapi bukan aku pelakunya.”


“Halah. Aku gak percaya!” bantah Rio. “Udah tadi malam bikin kacau. Pokoknya nanti pulang sekolah kita ketemuan, dan kamu harus tanggung jawab sudah mempermalukan aku!”


Apaan sih, aku juga malu kali!


Dela mematikan hpnya dengan wajah merah padam menahan amarah lalu mengangkat tangga lipat seorang diri sebelum melepas banner sialan yang membuatnya masuk ke ruang kepsek. Pak Rama memarahinya dengan ekspresi ngeri.

__ADS_1


...***...


^^^Bersambung.^^^


__ADS_2