
Mikaila dan Tegar mengikuti Harris menuju garasi mobil setelah melepas dokter keluarga dan dokter SpOG di teras rumah.
Mikaila berdecak kagum saat melihat banyaknya mobil dari beragam tipe di garasi rumah mertuanya. Tapi matanya langsung menyipit curiga sembari memasang wajah cengengesan di samping Harris.
“Punya papa semua nih?”
Harris mendengus sambil duduk di kap mesin mobil Suv-nya. Dia bersedekap, menghadapi bocah ingusan seperti Mantunya agaknya juga perlu trik. Anak itu terlalu kepo, menyebalkan dan betul sok paling benar.
“Ini mobil titipan tetangga, papa hanya menyewakan tempat penampungan sementara.”
“Woah... papa bilang ke tetangga untuk bayar pajak tepat waktu dan...” Mikaila setengah berbisik saat mencondongkan tubuhnya ke samping. “Mobil ini halal kan?”
Harris meliriknya dengan tatapan sinis. Sedikit kurang ajar nyindirnya, tapi seru. Dia menatap Tegar yang mengambil salah satu kunci mobil di gantungan besi berkarakter singa.
“Satu dari mobil ini akan menjadi milik kalian jika hasil pemeriksaan bagus. Papa ingin cucu, yang lucu, yang manis, dan penurut.”
Mikaila dan Tegar langsung saling tatap-tatapan. Menjadi penurut itu mudah, hanya saja boding-nya perlu usaha keras. Sementara memiliki anak penurut yang lahir dari perpaduan Mikaila dan Tegar tidak semudah request Harris. Keduanya sama-sama ugal-ugalan tapi pintar, nurut hanya di bagian tertentu dalam perjalanan hidup, di bagian-bagian yang mereka setujui dan karena itu nampaknya request Harris memiliki cucu penurut gak mudah.
Mikaila dan Tegar sepakat mendengus lalu bahunya merosot. “Kami gak bisa memenuhi keinginan papa memberi cucu penurut dan kalau itu menjadi obsesi papa kami pergi dari Jakarta!”
“Tidak bisa!” Harris geleng-geleng kepala dengan muka angkuh. “Kamu sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan papa. Papa coret untuk kategori penurut, gantinya cucu yang mau main sama papa!”
Tegar tertawa dalam hati. Roman-romannya papa lagi ngerayu untuk mengikat kami lebih dekat dengan menggunakan cucunya nanti. Mulai bertingkah lagi papa rupanya. Haha
Tegar membuka pintu mobil seraya memanasi mesinnya. “Papa sabar saja, jangan buat Mikaila tambah gila tinggal di sini.”
Mikaila membuang muka saat Harris memandanginya. “Selama belum ada cucu papa di perut kamu jangan harap kamu bisa semena-mena di sini. Kamu papa intai.”
“Wih...” Mikaila pura-pura takjub seraya angkat tangan. “Pasti aku sangat berarti sekarang buat papa, iya?” Mikaila mengedip-edipkan mata dengan sengaja.
Dada Harris mengembang dan mengempis saat menghirup dan melepas napas. “Semua berarti, tapi papa berharapnya kalian bisa mewujudkannya. Itu mudah bukan, papa pasti akan mendukung dengan memberikan kalian keistimewaan.”
“Enaknya.” Mikaila berakting dengan bertepuk tangan. “Tapi Mikaila lebih tau maksud papa apa!”
“Apa?” sahut Harris dingin. Dia berpikir ingin mengarungi mantunya dengan kantong goni ketika cewek itu menggodanya dengan tatapan iseng.
__ADS_1
Mikaila meringis lebar seraya memeluknya sekilas seperti seorang anak perempuan yang baru bertemu bapaknya setelah sekian lama bertengkar. Malu-malu canggung. “Biar papa gak hampir gila karena pekerja papa dan ambisi papa itu.”
Tegar mengulum senyum sembari membuang muka. Tidak menyangka ceweknya punya itikad segila itu demi mengurus ayahnya.
Kamu cari masalah, babe. Papa bisa berubah jadi banteng kapan saja dan kamu segampang itu meluluhkannya?
Harris berdehem-dehem lalu berdiri. Tidak ada respon khusus mengenai sikap Mikaila, namun senyum kecilnya menjawab rasa penasaran Tegar.
“Mobil udah siap, Pa.” ucapnya, mengalihkan pembicaraan. “Mau ke mana dulu kita hari ini?”
Harris membuka pintu penumpang, “Kalian masuk, biar papa yang nyetir.”
Lagi-lagi Mikaila dan Tegar pusing sendiri dengan tingkah bapaknya. Wong kemana-mana biasanya pakai supir, bawa ajudan, kalo lagi ribet bawa aspri, sekarang mau jadi sopir? Rayunya bukan main.
Tegar dan Mikaila duduk berdua sembari lirik-lirikan meski tangan mereka saling menggenggam. Tidak ada yang memancing pembicaraan hingga Harris menelengkan kepala.
“Kalian mau jalan-jalan ke mana?”
“Katanya papa beli hp baru.” sahut Mikaila. “Atau makan aja bertiga?”
Alamak. Mikaila spontan menginjak sepatu Tegar sambil mendelik tajam, urusannya kok jadi ke dokter terus sih, kapan bisa selesainya ini. Tolong.
Tegar menegakkan tubuhnya seraya menundukkan kepalanya. Gak nurut salah, mau protes kurang ajar, rasanya gue mau lembur kerja di banding nurutin papa.
Mikaila kembali menginjak sepatu Tegar. Menyuruhnya ngomong, tapi alih-alih ngomong Tegar bungkam seribu bahasa.
Mikaila cemberut dan Harris tak peduli. Pria itu tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dan ketika baru sampai, dua dokter itu langsung menemui Harris dengan rasa penasaran.
Mikaila tersenyum kecut saat Harris menjelaskan maksudnya. “Hasil urine tadi harusnya bisa sekalian keluar, Dok. Kasian papaku penasaran.”
Dokter Siska mengiyakan setelah Mikaila memberikan isyarat oke. “Kalian ikuti saya ke ruang laboratorium.”
Harris mendorong punggung anak-anaknya yang tampak ogah-ogahan agar lekas berjalan menuju lift.
Kalo mama sampe tau kira-kira reaksinya gimana ya punya besan kayak gini. Sumpah, mau ngomong sama Tegar aja rasanya susah. Gerutu Mikaila.
__ADS_1
Tegar sama halnya. Sekalinya ayahnya kembali dalam bentuk usaha dan ambisi menyelaraskan keadaan secara adil dan makmur, dia merasa diperhatikan segitu besar dan posesif abis, Tegar merasa terkekang.
Ada baiknya semua normal dan sesuai porsinya. Kalo gini terus gue mumet.
Mereka bertiga duduk di ruang tunggu setelah dokter Siska memberikan air mineral selagi ia memeriksa urine Mikaila yang tersimpan dalam wadah khusus di laboratorium bersama tim lab.
Harris menyunggingkan senyum ketika anak-anak sibuk memperhatikan ponsel masing-masing. “Ayo kita foto bertiga. Biar mama-mama cemburu papa jalan sama kalian daripada sama mereka.”
Mikaila memutar mata. Punya dua ibu mertua coy, bagaimana rasanya? Maknyosss. Dan dengan gaya asyik dan ekspresi nyeleneh dia menemani Harris berswafoto.
“Papa bisa cetak itu buat nakut-nakutin pengganggu papa.” cibir Tegar saat Harris menunjukkan foto Mikaila yang kehilangan pupil matanya.
Mikaila menguncupkan bibir. “Enak aja, emang aku hantu apa!”
“Hush.” sahut Harris.
Mikaila kembali diam, sibuk berdoa lagi agar dia hamil secepatnya agar masalah utama dengan Harris mereda atau malah justru semakin brutal?
Dokter Siska keluar dari ruang laboratorium sambil tersenyum lebar. Tanda-tanda dan Mikaila langsung menyerbunya dengan pertanyaan.
“Gimana, Dok?”
“Silakan coba lagi.”
Tegar langsung berseru kegirangan sampai menyita perhatian publik. “Coba lagi, coba terus. Sampai jadi.”
Harris memukul lengannya sambil mengembuskan napas panjang. “Sekarang kalian ikut Siska konsultasi gizi sebelum berangkat honeymoon. Dengar papa, kalian jangan stres!”
Mikaila memutar matanya sambil bersembunyi di balik Tegar. “Orang papa yang bikin stres, iya kan?”
Tegar menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Mikaila cuma bercanda, Pa. He.”
Dan Harris tak tanggung-tanggung menghukum mantunya itu dengan serentetan peraturan dan nasihat penting. Persis seperti Sera dan itu membuatnya mabuk aturan.
...***...
__ADS_1